The Veil of Eileria

The Veil of Eileria
Pertemuan



"Apa kau yakin kalau rencana kita akan berhasil Jay?" tanya Belle pada laki-laki yang kini sedang berkutat dengan laptop di hadapannya.


"Aku yakin, kita punya seorang mata-mata bukan? kau tenang saja! tugas kita hanya memantau dan membuat semua rencana ini terealisasi dengan baik."


Jay menatap Belle sekilas lalu kembali menatap laptopnya. Dia sedang benar-benar fokus menyusun rencana untuk menghancurkan Eileria dan bala tentaranya. Mereka sangat yakin kalau dalam waktu dekat, mereka akan bisa menghancurkan Eil sampai ke akar.


Cup...


Belle mengecup pipi Jay sekilas. Dia tersenyum, tangannya sudah bergelayut manja di leher Jay.


"Terimakasih karena telah melakukan semua ini untuk ku Jay. Kau benar-benar pria idaman. Aku sangat bahagia kerena kau selalu memberikan yang terbaik untuk ku."


"Aku melakukan ini karena aku mencintaimu Belle."


"Aku tahu kau mencintaiku Jay. Oleh karena itu, aku bisa dengan mudah memperbudak mu. Rasa cinta yang kau miliki menjadi sebuah kelemahan untuk mu. Kau pintar, tapi kau juga bodoh." Belle bergumam dalam hati. Dia tersenyum seindah sinar matahari di pagi hari, tapi sebenarnya, senyuman itu hanyalah sebuah senyuman untuk menyembunyikan awan gelap yang ada di belakangnya.


****


"Apa semuanya terkendali?" tanya Bara pada orang-orang nya.


Orang yang di tanyai itu mengangguk. Dia memberikan penjelasan yang membuat Bara tersenyum. Laki-laki itu masih setia melakukan apa yang menurutnya bisa membantu wanita yang dia cintai. Lahan bunga yang menjadi prioritas utamanya kini berubah derajat menjadi prioritas kedua. Aset miliaran dolar itu tak lantas membuatnya melupakan Eil.


Rasa penasarannya, rasa cintanya, semuanya, semua yang ingin dia dapatkan dari Eil membuatnya buta. Dia buta bukan karena dia tidak bisa melihat, dia buta karena pandangannya terhalang oleh cinta dan obsesi. Apa yang dia inginkan selalu dia dapatkan dengan mudah, jadi saat dia menginginkan Eil, dan dia tidak bisa mendapatkannya dia akan terus berusaha supaya apa yang dia inginkan bisa dia genggam.


"Bara!" panggil seseorang.


Bara yang mendengar sura merdu dari sang wanita pujaan hati menoleh. Dia tersenyum hangat. Sebuah senyuman yang tidak pernah dia berikan pada siapapun. Sebuah senyuman yang hanya dia berikan kepada sosok Eileria.


"Ada apa?" tanya Bara menghampiri Eil.


"Apa sudah ada kemajuan? kapan kita akan bisa menyerang Belle dan orang-orangnya?"


Eil memperhatikan setiap orang yang sedang bekerja. Matanya menatap jeli setiap pergerakan yang di lakukan orang-orang Bara.


"Aku sedang mengusahakan nya. Paling lama cepat 2 hari dari sekarang kita akan bisa menemukan Belle dengan Jay. Kau tahu, Jay itu orang bodoh. Dari yang aku lihat, dia adalah orang yang tergila-gila pada Belle. Dahulu dia adalah pengikut Ayahnya Belle, dan sekarang dia menjadi pelindung untuk wanita ulat itu."


Eil mengangguk. Pantas saja dia tidak bisa menemukan orang di balik Belle, sepertinya orang itu memang memiliki kemampuan yang cukup besar.


"Begini sja Bara. Kita tunggu saja sistem mereka datang ke sistem kita, kita akan buat seolah-olah kita itu lengah dan tidak melakukan pergerakan apapun. Kalau sudah seperti itu, akan lebih mudah untuk kita menyerang nya kembali. Kita tidak usah buru-buru. Aku juga tidak ingin tergesa. Aku mau semua rencana kita berjalan dengan seharunya. Lebih baik menunggu agak lama tapi persiapannya matang, daripada kita terburu-buru dan nanti malah membuat rencana kita hancur berantakan."


Bara semakin memperlebar senyuman nya. Dia menatap Eil dengan tatapan penuh damba. Rasa ini masih sama, jantungnya masih berdegup tak karuan saat dia menatap lekat sepasang mata coklat milik Eileria.


"Aku akan melakukan apapun yang kau katakan Eil," jawab Bara dengan susana hati yang baik.


"Hmmm, terimakasih Bara. Aku masih memiliki urusan. Aku harus pergi."


****


"Kenapa tiba-tiba Kak Eil mengajak aku bertemu, dia juga mengatakan kalau Alard dan Lukas akan ikut bersama kita."


Setelah menyelesaikan aksi merias dirinya, Amber menyambar sebuah tas dan juga ponsel yang ada di atas ranjang. Dia mencari-cari sosok Jerome, tapi dia tidak menemukannya. Apa Kak Jerome nya sudah pergi, atau, dia masih di kamarnya.


Tok Tok Tok...


"Kak!" panggil Amber dengan suara lantang.


"Kak!" panggilannya lagi ketika tidak ada sahutan apapun dari dalam.


"Apa?" teriak Jerome dari dalam kamar.


"Ternyata masih belum pergi," gumam Amber.


"Kakak cepetan! kita udah terlambat nih. Katanya mau berangkat jam enam tiga puluh. Sekarang udah hampir jam tujuh Kak. Ayolah!"


Cklekkkk....


Pintu kamar itu terbuka tepat setelah Amber menyelesaikan kalimatnya. Jerome keluar menggunakan sebuah sweater leher tinggi yang di balut dengan jas hitam yang sangat keren. Ini adalah gaya semi formal yang sangat luar biasa. Rambut yang di sugar ke belakang membuat tampilannya semakin manly dan fresh.


"Wah, Kakak tampan sekali," puji Amber dengan mata yang berbinar.


"Biasa saja!" jawab Jerome asal.


Dia menatap tampilan Amber dari atas sampai bawah, dres selutut tanpa lengan, rambut yang dia biarkan tergerai, dan sepatu hak 5 cm nya membuat Amber terlihat sangat cantik dan anggun.


"Ayo kita pergi!" ajak Jerome. Dia menarik tangan Amber dan membawanya keluar dari dalam Apartemen.


Tiga puluh menit berkendara, mereka masih diam. Tidak ada yang mau membuka pembicaraan. Sebenarnya Amber ingin tahu kemana Jerome akan membawanya pergi, tapi dia mengurungkan niatnya saat dia melihat raut wajah tidak bersahabat yang di tunjukan Jerome padanya. Tadi dia sudah menanyakan ini pada Eil, tapi Eil mengatakan kalau dia sudah memberi tahu Jerome, jadi Jerome lah yang akan memberitahunya.


"Turunlah!" titah Jerome setelah mereka sampai di sebuah basemen bangunan yang sangat besar. Basemen nya saja sudah sebesar ini, apalagi bangunan utamanya, pasti sangat mewah dan indah.


"Apa kita akan masuk ke dalam bangunan ini Kak?" tanya Amber pada Jerome. Jerome hanya mengangguk dan menuntun Amber untuk segera masuk ke dalam bangunan itu.


Setelah berjalan kurang lebih lima menit, Amber dan Jerome tiba di depan sebuah pintu apartemen yang sangat mewah. Ini adalah apartemen dengan harga jutaan dolar bukan? tapi untuk apa mereka ke sini?


Amber ingin menanyakan sesuatu kembali, tapi pintu apartemennya terbuka lebih dulu , mungkin tadi Jerome sudah memencet bel, tapi Amber tidak sadar.


"Kalian sudah datang? masuklah!" titah Eileria.


Mereka pun masuk ke dalam apartemen tersebut. Dan benar saja, apartemen ini benar-benar sangat besar. Hanya dengan membuka pintu dan memperlihatkan detai kecil dari arsitektur nya saja orang sudah bisa menebak kalau ini adalah apartemen sultan.


"Jerome!" teriak seorang wanita cantik sambil memeluk Jerome dengan erat.


...To Be Continued....