The Veil of Eileria

The Veil of Eileria
Janji Jerome



Semua orang sedang menunggu dengan cemas di luar ruang rawat Sulli. Mereka menunggu dokter keluar dengan perasan tak tentu. Eiileria terus menangis dan Nathan serta Bara terus mencoba untuk menenangkan Eileria.


"Kenapa dokternya lama sekali Nathan Sulli akan baik-baik saja bukan?" Eiileria menatap Natan sendu pikirannya kacau ditambah lagi dia yang sedang hamil membuat emosinya sulit untuk dia kontrol.


"Percaya padaku Baby, Sulli akan baik-baik saja, dia hanya terkejut. Setelah dia lebih tenang kita akan menjelaskannya pelan-pelan, dia adalah wanita yang cerdas, lambat laun dia pasti akan mengerti dan keputusan dokter itu belum mutlak kau lupa apa yang dokter katakan? Dia mengatakan kalau Sulli akan sulit untuk hamil namun itu tidak menutup kemungkinan kalau dia akan bisa hamil kalau dia mau berusaha."


Eileria berhenti terisak, dia beralih menatap Jerome. " Jerome kau harus bertanggung jawab! Ini semua karena kau. Kau yang mengambil keputusan ini kau harus membuat Sulli kembali seperti dulu dan kalau sampai kau tidak bisa membuat Sulli kembali membaik, aku Eileria Song berjanji, aku akan membunuh mu dengan tanganku sendiri Jerome."


Nathan maupun Bara diam, mereka tidak berani berkomentar. Begitupun dengan Darius, dan juga Jerome hanya bisa menunduk dalam dia mengambil keputusan seperti itu karena dia berpikir bahwa nyawa Sulli lebih berharga daripada sebuah kehamilan anak bisa diusahakan tapi nyawa? Ketika Tuhan sudah mencabut nyawa seseorang hanya Tuhanlah yang bisa mengembalikannya kembali.


Pintu ruang rawat Sulli terbuka, semua orang beralih menatap dokter dan juga beberapa perawat yang keluar dari ruang rawat itu. Eileria dengan cepat menggerakkan kursi rodanya mendekati sang dokter.


"Bagaimana keadaan sahabat saya Dokter? bagaimana keadaan Sulli? Dia baik-baik saja bukan? Kenapa kau sangat lama memeriksanya? Apa kau tidak becus menangani seorang pasien?"


"Baby! Tenanglah! Dokter juga sudah berusaha. Kita tunggu jawaban dari Dokter ya! jangan seperti ini!"


"Maaf karena saya harus menyampaikan ini," ucap dokter itu. "setelah saya periksa, pasien terguncang dan karena tadi dia terlalu banyak mengeluarkan tenaga jahitan di perutnya kembali terbuka. Saya akan menyarankan pasien untuk didampingi seorang psikiater. Keadaan seperti ini sebenarnya biasa terjadi. Kita orang yang sehat harus selalu bisa mengupayakan yang terbaik untuk pasien. Saya minta untuk sekarang ini kalian tidak perlu mengunjunginya untuk sementara waktu."


Wanita yang sedang mengandung itu menarik celana yang dikenakan dokter. "Apa maksudmu Dokter? Kenapa kau melarangku untuk menjenguk sahabatku sendiri? Apa hakmu melakukan itu? Sulli itu tidak punya siapa-siapa, kedua orang tuanya ... kedua orang tuanya sangat jauh. Mereka juga tidak perduli pada Sulli."


Nathan menarik tangan Eileria mencoba untuk melepaskan cengkraman tangan Eil dari celana sang dokter. Dia merangkul tubuh mungil yang sedang bergetar karena menangis. Hatinya sakit melihat istrinya menangis. Seorang istri yang begitu Nathan sayangi, yang begitu dia manjakan kini terisak di hadapannya, dan itu membuat hati Nathan perih.


"Kau harus sabar Baby! Aku sudah bilang kalau Sulli akan baik-baik saja, biarkan dia tenang. Kita akan mencari Dokter psikologis yang bagus. Meskipun kita harus mendatangkannya dari luar negeri, meskipun kita harus membayar biaya yang mahal, aku janji, aku janji aku akan memberikan yang terbaik untuk Sulli. Aku mohon jangan seperti ini! Semua orang yang ada di sini sangat sedih dan kami semakin sedih ketika melihat kau yang sangat kami sayangi terpuruk seperti ini."


Darius menatap sendu menantu juga anak sulungnya sementara Jerome, dia menempel pada pintu dan melihat kedalam ruangan dari kaca kecil yang ada di pintu itu. Sang dokter sudah pergi, begitupun dengan para perawat. Jerome ingin masuk namun dia takut Sulli akan kembali terguncang.


Flashback on


Sulli berteriak di depan Jerome. Jerome menunduk sangat dalam. Laki-laki itu merasa sangat sedih, hatinya hancur, dia tidak bermaksud lancang dia tidak bermaksud melakukan ini semua, Jerome terpaksa mengambil keputusan ini untuk menyelamatkan nyawa Sulli.


"Aku akan menikah denganmu Sulli. Aku janji aku tidak akan membuatmu kesepian aku janji aku akan membahagiakanmu dan aku akan menjadikanmu wanita paling bahagia di dunia ini."


Prang ...


Belum sempat yer menyelesaikan kalimatnya semua barang yang ada di atas lemari di samping hospital bed yang sedang tempati Sulli sudah terbang melayang berhamburan di atas lantai, wanita itu marah, sorot mata nya tajam dan menusuk.


"Kau pikir aku tidak tahu kau mengatakan ini karena kau kasihan padaku? Kau mengatakan ini karena kau merasa bersalah bukan? Kau pikir aku akan mau menikah denganmu? Tidak, jangan berharap aku akan melakukan itu. Aku tidak ingin dikasihani. Selama ini aku berjuang untuk mendapatkan cintamu, namun jika kau mau menikah denganku hanya karena sebuah rasa kasihan, sorry, aku tidak butuh itu."


"Keluar dari ruangan ini Jerome!"


Sulli berteriak dengan cukup keras.


Jerome masih menunduk dia tidak ingin keluar dia masih tetap dalam posisinya berlutut dengan kepala yang tertunduk.


"Aku bilang keluar Jerome! Pergi! Dasar kau laki-laki bajingan. Aku membencimu jangan pernah muncul di depan mataku lagi."


Flashback of


"Maafkan aku Sulli, ini semua kesalahanku seharusnya aku bisa lebih peka, aku sadar selama ini aku memang sudah mencintaimu dan aku tidak ingin kehilanganmu karena itu juga aku berani mengambil keputusan itu. Aku berharap kau akan segera membaik aku janji setelah ini aku yang akan mengejar mu. Aku yang akan mengejar cintamu. Aku janji. "


To Be Continued.