The Veil of Eileria

The Veil of Eileria
Anggota Baru



Dor....


Dor....


Suara-suara tembakan tak lantas membuat Bara gugup. Dia masih setia memeluk Eileria meskipun tubuhnya sendiri semakin lemah karena darah dari bahunya terus mengalir. Wajahnya semakin pucat. Bahkan pandangan matanya sudah semakin kabur.


Suara langkah kaki semakin mendekat ke arahnya. Dia semakin erat memeluk Eileria karena takut seseorang mungkin akan membunuh orang yang paling dia cintai itu.


"Eileria!"


Nathan berlari dan jongkok di depan Eil dan juga Bara. Dia menatap sengit Bara dengan tatapan membunuhnya. Nathan marah, ya, Bara sudah mengatakan kalau dia tidak pantas untuk Eil karena dia lemah. Tapi apa yang terjadi sekarang? Eil nya terluka ketika bersama Bara.


"Aku akan membawanya lebih dulu. Kau tunggulah sebentar, tim ku akan membantumu untuk segera keluar dari sini."


Bara diam. Dia tidak bisa menjawab apa-apa. Nathan memang harus menyelamatkan Eil lebih dulu. Nyawa wanita itu lebih penting dari nyawanya sendiri. Dia bodoh, dia bodoh karena membiarkan Dragon memperdaya Eil dan dirinya. Dia tidak tahu kalau sebenarnya Dragon adalah musuh dalam selimut untuk Eil. Dia berpikir kalau Dragon itu bersih. Nyatanya dia salah. Dragon tidak sebaik itu.


Nathan membopong tubuh Eileria membawanya menjauh dari rumah itu. Lautan manusia berserakan dengan darah yang tersebar di mana-mana. Langkahnya semakin cepat ketika dia melihat wajah Eil semakin pucat. Dia semakin khawatir, jantungnya sudah berdegup tak karuan. Keadaan Eil membuat Nathan takut setengah mati.


"Kita pergi sekarang," titah Nathan pada pilot helikopter yang sejak tadi menunggu kedatangan Nathan.


Nathan memerintahkan anggota yang lainnya untuk menyelamatkan semua orang yang memang masih hidup termasuk Bara. Sebenarnya Nathan melakukan misi ini tidak atas izin komandan nya. Helikopter yang dia bawa, bahkan pasukannya adalah pasukan yang di berikan oleh teman Darius. Darius memang memiliki masa lalu yang kelam. Bisa di bilang, dia adalah sejenis orang mirip Bara. Namun karena kejadian di masa lalu yang membuat Darius kehilangan istrinya, dia memutuskan untuk berhenti dari dunia gelap dan memutuskan untuk hidup dengan damai.


"Kau harus bertahan Eileria. Aku yakin kau bisa melewati ini. Kau wanita yang kuat. Aku percaya padamu."


"Uhukkkk... "


Nathan menunduk. Dia melihat Eileria bergerak gelisah. Nathan masih memiliki banyak kesempatan. Istrinya memiliki keinginan hidup lebih besar dari apa yang dia pikir. Wanita cantik yang kini berwajah pucat itu menatap Nathan sendu. Tatapannya sangat memilukan. Dia mencengkram perut nya yang rata.


"Nat-han. Tolong selamatkan anak kita, jangan biarkan siapapun mengambil nya. Aku tidak akan bisa hidup tanpanya Nat-han. Tolong dia, tolong dia!"


Nathan diam. Dia masih mencerna apa yang di katakan Eileria. Apa yang di maksud Eil? anak? anak dia dan Eil? Eileria hamil.


Tes...


Tiba-tiba saja air matanya mentes meluncur melewati pipinya yang sudah berlumuran darah. Nathan sejak tadi berusaha menutup luka yang ada di paha dan lengan Eil dengan kain yang dia ikatkan di lukanya tersebut.


"Kau hamil Baby!"


Eil tidak memberi tahu Nathan karena dia takut suaminya itu akan melarangnya melakukan pekerjaan-pekerjaan yang berbahaya. Tapi siapa yang menyangka kejadian ini akan terjadi. Dragon, yang sudah dia anggap seperti keluarga nya sendiri nyatanya adalah serigala berbulu domba.


Eil mengira Dragon memang belum mengetahui apapun tentang Belle, tapi ternyata dia malah membuat perangkap untuk Eil dan mengambil kesempatan atas apa yang seharusnya tidak dia dapatkan. Motif seperti apa yang Dragon milik Eil tidak tahu. Tapi yang jelas, dia sangat kecewa dan sangat marah kepada Dragon.


Tiga puluh menit kemudian, mereka sampai di atas atap rumah sakit. Beberapa perawat dan juga dokter sudah siap dengan hospital bad dan juga beberapa perlengkapan yang mereka butuhkan.


Setelah Nathan membaringkan Eileria di atas hospital bad itu, para medis membawa Eileria ke dalam lift yang memang di buat secara khusus untuk membawa pasien dengan keadaan darurat seperti sekarang.


"Tolong istri saya Dokter, dia sedang hamil," ucap Nathan.


Dokter itu mengangguk. Dia berlari menuju lift dan mambantu yang lain untuk menstabilkan kondisi Eileria.


Sebenarnya ini adalah rumah sakit khusus yang di miliki teman ayahnya. Dia sudah menghubungi pihak rumah sakit kalau dia dan Eileria akan segera sampai dan membutuhkan pertolongan dengan cepat. Oleh karena itu, saat Nathan dan Eil tiba, paramedis sudah bersiap untuk membantu Eil.


"Aku harap kau baik-baik saja Baby!"


Nathan menggenggam erat tangan Eileria. Begitupun wanita cantik itu. Dia berusaha untuk tetap sadar meskipun dia sudah tidak tahan dan ingin segera memejamkan mata. Dia harus tetap kuat demi anak yang ada di dalam kandungannya. Dia tidak boleh kalah, ini bukan luka yang serius untuk Eil. Dia bisa menahan ini semua demi janin yang sedang dia kandung.


Nathan tersenyum menatap Eil dengan tatapan yang membuat Eil merasa sedikit lebih tenang. Suaminya itu sangat pengertian. Meskipun tadi dia sempat terlihat kacau dan ketakutan, kini Nathan sudah jauh lebih tenang. Mungkin Nathan tidak ingin membuat Eil khawatir. Dia menguatkan Eil dengan senyuman yang dia berikan seolah-olah dia mengatakan kalau semuanya akan baik-baik saja.


"Aku mencintaimu Baby!" ucap Nathan sebelum para medis membawa Eil masuk ke dalam IGD.


Nathan mondar-mandir menunggu Dokter dan para perawat menolong istrinya.


Sementara di tempat lain, Bara sedang menahan sakit yang luar biasa di bahunya. Dia meringis saat orang-orang yang Nathan kirim untuk membantunya sedang membalut bahu Bara dengan kain.


Pikirannya melayang pada wanita yang tadi hilang kesadaran di depan matanya. Dia sama sekali tidak memikirkan lahan bunga atau segala sesuatu yang sedang dia kerjakan di sana. Semua penelitian nya. Semua uang yang telah dia habiskan untuk membuat cita-citanya terealisasi kini berada di ujung tanduk.


Apa semuanya akan lenyap atau malah di kembangkan oleh Dragon, Bara benar-benar tidak perduli. Dia semakin sadar dan semakin tahu kalau yang dia inginkan sebenarnya bukan hal itu. Eileria ternyata berada di atas segalanya. Bara sudah salah menilai dirinya sendiri selama ini.


"Aku harap kau akan baik-baik saja Eil. Aku janji, aku tidak akan melanjutkan penelitian ku terhadap bunga-bunga biadab itu, aku harap kau bisa memaafkan ku Eil. Aku harap semua yang terjadi di masa lalu tidak menjadikan mu membenciku."


...To Be Continued...