The Veil of Eileria

The Veil of Eileria
Mengikuti Bayangan 2



"Jawab atau aku akan meledakan kepalamu?" geram Eil. Dia mengambil sebuah pistol yang tadi dia bawa di belakang punggungnya, lalu menempelkan pistol itu di pelipis Irene.


Irene memejamkan matanya karena takut. Dia tidak tahu kalau ternyata Nyonya nya ini adalah orang yang sangat kejam dan sadis, kenapa selama ini Irene tidak menyadarinya, pantas saja orang jahat dan arogan seperti bos nya, Bara sangat menyukai Eil. Ternyata selain penampilan luarnya yang ceria dan elegan, dia memiliki sisi lain yang sangat dingin dan sangat menakutkan.


"Masih tidak mau menjawab?" desak Eil. Dia menarik pelatuknya lalu tersenyum menyeringai.


"Ma-aafkan saya Nyonya. Saya akan memberitahukan segalanya. Ampun," ucap Irene dengan susah payah. Eil melepaskan cengkraman tangannya dari leher Irene. Dia beranjak, lalu berdiri sambil menatap Irene sengit.


"Uhukkkk.. Uhukkkk..." Irene bangun sambil memegangi lehernya yang terasa sangat nyeri . Dia yakin setelah ini dia akan kesulitan untuk menelan makanan...


Brukkkkk.... Irene bersujud di bawah kaki Eil sambil memeluk kaki majikannya itu. "Maafkan Saya Nyonya, saya terpaksa menerima pekerjaan ini. Saya harus mendapatkan uang untuk membiayai pengobatan Ibu saya. Maaf Nyonya."


Seeeetttt ... Brukkkkk.. Tubuh Irene terjungkal ke belakang saat Eil mengibaskan kakinya dan menendang Irene dengan sangat kasar.


"Aku tidak butuh alasan, aku mau jawaban Irene," ucap Eil dengan tangan yang sudah mencengkram rahang Irene kuat.


"Aku di suruh Tuan Bara Nyonya. Aku tidak memiliki pilihan lain, dia akan membunuh semua anggota keluarga ku kalau aku tidak menurutinya."


Eil melepaskan tangannya dari rahang Irene, dia berpikir untuk sejenak, Bara? Bara yang di ceritakan Irene adalah Bara yang sama dengan orang yang dia kenal bukan? karena hanya orang gila itulah yang akan sanggup melakukan hal seperti ini. Bahkan sampai menyelipkan orang di antara orang-orang nya. Laki-laki brengsek itu memang minta di hajar.


****


"Di mana saja kau meletakan penyadap suaranya?" tanya Eil saat mereka sudah keluar dari kamar Aami dan akan segera masuk ke mansion. Irene yang kala itu merasa sangat takut hanya bisa menuruti setiap perintah Eil dan memberitahukan segala sesuatu yang memang harus nyonya nya itu ketahui.


"Aku akan menunjukan nya Nyonya." Setelah tiga puluh menit mereka menyasar setiap sudut ruangan yang di yakini Irene sebagai tempatnya menyimpan penyadap suara, akhirnya Eil membawa Irene ke dalam kamarnya. Untuk saat ini, memang hanya kamarnya dan kamar Nathan yang bebas dari penyadap suara yang di siapkan Bara untuknya.


" Kau! tetap lakukan apa yang di perintahkan Bara padamu," ucap Eil yang membuat Irene mengerutkan keningnya bingung. Bukankah seharusnyanya Eil meminta Irene untuk melepas semua penyadap suaranya. Tapi kenapa sekarang Eil malah...


"Aku ingin kau berada di pihak ku Irene, buat Bara yakin seolah-olah kau memang masih bekerja untuknya. Laporkan semua yang harus kau laporkan, tapi sebelum itu, beritahu aku, dan setiap kali Bara memberimu tugas, kau harus memberitahuku. Dan ya, masalah Ibumu, aku akan memberikan uang supaya kau tidak ketergantungan kepada orang jahat seperti Bara."


Irene membungkuk kan badannya beberapa kali, dia merasa sangat bersyukur karena Eil tidak membunuhnya atau melaporkannya kepada Bara. Kalau sampai Bara tahu jika rencananya sudah di ketahui Eil, semua anggota keluarga nya pasti tidak akan selamat. Dia juga akan mati sia-sia.


"Hmmm.... Minta nomor ku dari Aami. Kalau ada sesuatu yang mendesak, segera hubungi aku!" ucap Eil sambil memutar pistol yang ada di tangannya. "Sekarang pergilah!"...


Irene membungkuk lalu pergi dari kamar lama Eileria, sementara Eil, dia mengambil laptop keduanya lalu duduk di meja kecil yang ada di kamar itu.


"Halo Dragon. Ada yang harus aku bicarakan dengan mu."


"Datanglah ke tempatku."


Eil melepaskan earphone yang tadi dia pasang di telinganya. Dia kembali membuka laptopnya dan mengetikan sesuatu dari sana. Seluruh sistem keamanan yang dia pasang di rumah ini masih aman karena ternyata Bara menggunakan orang dalam, Eil harus segera memperbaharui sistemnya supaya barang-barang seperti penyadap yang bukan rancangan tangannya bisa terdeteksi dan dia tidak harus mengkhawatirkan hal-hal seperti ini lagi.


Malam itu Eil kembali lembur untuk menyelesaikan apa yang sudah dia mulai. Kali ini dia tidak boleh lengah dan tidak boleh membuat orang-orang seperti Bara bisa mengelabuinya. Hal sekecil apapun, tidak noleh luput dari pantauan seorang Eileria Song. Setelah berjam-jam berkutat dengan laptopnya, Eil kembali ke kamar utama karena takut Nathan akan bangun, tadi Eil hanya memberi Nathan obat tidur satu butir karena dia pikir, pekerjaannya tidak akan memakan waktu lama...


Eil berjalan perlahan memasuki kamarnya. Dia mengendap-endap seperti seorang pencuri padahal dia memasuki kawasannya sendiri. Aneh memang, kenapa Eil selalu merasa takut Nathan akan pergi meninggalkannya kalau sampai laki-laki itu tahu hal buruk apa yang selalu Eil lakukan di belakang Nathan. Eil menaiki ranjang dengan sangat hati-hati, namun, saat dia hendak menarik selimutnya, tiba-tiba tangan kekar Nathan menarik pinggang nya sampai dia tertarik dan punggung serta tubuh bagian belakangnya menempel dengan sempurna di tubuh bagian depan Nathan.


"Kau habis dari mana Baby?" tanya Nathan dengan suara parau dan mata yang masih terpejam. Entah kenapa dia merasa sangat mengantuk.


Glekkk... Eil menelan salivanya susah payah . Matanya membulat sempurna karena merasa terkejut dengan Nathan yang tiba-tiba memeluknya dan memberikan Eil pertanyaan semacam itu. Apa Nathan sudah bangun dari tadi, tapi mana mungkin obatnya bisa membuat Nathan sadar dengan cepat. Paling tidak Nathan masih akan merasakan kantuk selama dua sampai tiga jam lagi bukan?.


"A-aku tadi haus Nathan, jadi aku turun ke bawah untuk mengambil air." Eil memejamkan matanya menunggu jawaban apa dan reaksi seperti apa yang akan Nathan berikan, dia merasakan debaran jantungnya berdetak semakin kencang saat Nathan tidak menunjukan reaksi apapun. Nathan kenapa? apa dia tahu kalau Eil berbohong padanya?..


"Nathan!" panggil Eil sambil menepuk punggung tangan Nathan yang melingkar di atas perut rampingnya. "Nathan!" panggil Eil sekali lagi, namun Nathan masih tidak menjawabnya. Eil mengangkat tangan Nathan lalu membalik posisinya.


Helaan nafas lega Eil keluarkan saat melihat Nathan memejamkan matanya. Eil juga bisa mendengar deru nafas teratur Nathan. Ternyata suaminya ini kembali tertidur. Padahal tadi Eil sudah merasa sangat ketakutan.


"Maafkan aku Nathan," ucap Eil. Tangannya terangkat untuk menyentuh setiap objek yang ada di wajah Nathan, alis suaminya ini sangat tebal, bahkan bulu matanya sangat panjang dan agak lentik, belum lagi hidung mancungnya, dan bibirnya yang selalu membuat Eil kecanduan dan tidak pernah rela melepas tautan mereka jika Nathan sudah mencumbui nya. Rahang Nathan sangat tegas membuatnya terlihat sangat sempurna. Wajah laki-laki ini adalah wajah yang di idamkan setiap wanita, dan kini Eil memiliki nya. Bukankah dia harus sangat bersyukur?..


Cup... Eil mengecup bibir Nathan sekilas. "Good night Nathan."


...To Be Continued......