
Beberapa hari yang lalu di apartemen Jerome dan Amber.
Jerome panik. Dia kalang kabut lantaran Amber tiba-tiba mengeluhkan perutnya yang sakit. Belum lagi dia memang sudah sangat pucat sejak beberapa hari yang lalu. Jerome sudah memaksa Amber untuk pergi bersamanya ke rumah sakit. Namun, adik nya itu terus menolak dan mengatakan kalau dia tidak ingin pergi.
Puncaknya siang ini, Amber pingsan dan Jerome melihat darah mengalir di betis Amber. Gadis itu hanya mengenakan kaos oblong dengan celana pendek berbahan katun, kulit putihnya sangat kontras dengan darah merah yang mengalir.
"Amber bangun Amber!" titah Jerome menepuk pipi Amber beberapa kali. Amber masih tidak bergeming. Jerome langsung membopong tubuh Amber dan membawanya ke rumah sakit. Dia sangat berharap kalau Amber akan baik-baik saja. Amber harus kembali sadar. Dia harus kembali sehat. Meskipun dia sangat menjengkelkan, tetapi Jerome sangat menyayanginya.
Keringat dingin mengalir di pelipis Jerome. Dia berteriak sambil membopong tubuh Amber dan membawanya ke dalam rumah sakit. Seorang suster datang membawa hospital bad dan langsung mendorongnya masuk ke dalam UGD ketika Jerome sudah membaringkan Amber di atas hospital bad itu.
"Aku harap kau baik-baik saja Amber. Jangan tinggalkan aku."
Jerome terus mondar-mandir di depan UGD seperti setrikaan panas. Dia sangat gugup dan juga sangat khawatir, hanya Amber yang dia miliki di dunia ini. Kalau Ambernya sampai kenapa-napa, dia tidak akan bisa memanfaatkan dirinya sendiri.
Setelah hampir tiga puluh menit menunggu. Akhirnya seorang suster datang menghampiri Jerome. Suster itu meminta Jerome untuk mengikutinya ke dalam. Dokter sudah selesai memeriksa Amber dan dia sudah di perbolehkan masuk ke dalam.
Jerome tidak mengkhawatirkan masalah pendaftaran dan yang lain. Tadi dia sempat menelpon Sulli dan meminta wanita jadi-jadian itu untuk datang ke rumah sakit dan membantunya. Dia tidak bisa meninggalkan Amber barang sedetikpun. Dia takut Amber akan membutuhkannya.
"Silahkan duduk Tuan!" ucap dokter itu pada Jerome. Jerome duduk sambil menatap cemas dokter yang ada di hadapannya. Dia ingin bertanya tentang apa yang terjadi pada Amber, tetapi lidahnya mendadak kelu. Dia hanya bisa menunggu dan mendengarkan apa yang akan di katakan dokter itu padanya.
"Istri dan anak Tuan baik-baik saja."
Bagai tertimpa batu ribuan ton, Jerome mendadak sesak nafas. Dia mematung. Jantungnya seperti berhenti berdetak. Apa benar dokter ini telah memeriksa Amber dengan benar. Anak? Anak apa? Dia juga bukan suaminya Amber.
"Maaf Dokter, kalau bisa tolong jelaskan lebih rinci! Saya masih bingung, dan saya tidak mengerti."
"Wanita yang tadi Tuan bawa ke UGD sedang hamil. Usia kandungannya baru 5 minggu. Untung saja kami tidak langsung melakukan tindakan. Hasil USG menunjukan kalau janin dalam kandungan istri Anda baik-baik saja. Namun sepertinya istri Anda stress berat, dia mengalami kontraksi. Untuk ke depannya tolong jaga istri dan calon anak Tuan dengan baik. Saya hanya ingin mengingatkan kalau setelah kejadian ini mungkin janin yang ada di dalam rahim istri Anda tidak akan sekuat sebelumnya. Jadi tolong di jaga dengan baik dan jangan sampai ibunya stress."
Jerome diam. Apa yang di katakan dokter seperi masuk ke telinga kanan dan keluar dari telinga kiri. Dia tidak ingin mendengar fakta memilukan ini, dia telah gagal menjaga Amber. Dia harus membunuh orang yang telah membuat Amber hamil.
Tanpa dia sadari air matanya mengalir begitu saja. Hatinya sakit sampai dia tidak bisa menyembunyikan air matanya lagi. Dadanya sesak membuat dia sesak dan ingin mati saat ini juga.
Dia sudah menjaga Amber dengan begitu ketat, tapi dia masih kecolongan. Apa yang harus dia lakukan.
"Terimakasih Dokter," ucap Jerome singkat. Kosakata nya mendadak hilang tertelan oleh kekecewaan yang dia rasakan. Dia berjalan mendekati Amber. Gadis yang selama ini dia jaga sudah ternoda. Dia benar-benar sudah gagal menjadi seorang kakak.
"Jerome!" panggil Sulli ketika dia masuk ke UGD hendak mengatakan kalau Amber sudah bisa di pindah kan ke ruang rawat inap.
"Amber sudah bisa kita pindahkan. Aku sudah memesan kamar VIP untuk Amber. Kita harus memindahkan nya sekarang. Dia pasti tidak nyaman berada di sini."
Jerome tidak menjawab apa yang di katakan Sulli. Dia hanya diam menatap kosong ruangan besar namun banyak penghuninya itu. Dia masih heng, otaknya masih belum bekerja dengan baik.
Sulli beralih menatap Jerome. Dia memperhatikan Jerome dengan seksama. Laki-laki dingin yang selalu mengajaknya adu mulut kini hanya diam seperti orang yang kehilangan nyawa. Dia seperti kehilangan arah. Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Jerome nya mendadak jadi seperti ini?
"Jerome jangan seperti ini! Kau harus tetap kuat. Amber akan baik-baik saja."
Sulli memeluk Jerome dengan erat. Dia mengusap punggung Jerome lembut. Hatinya ikut sakit melihat Jerome tersiksa seperti ini. Sulli tidak suka Jerome yang seperti ini.
"Kita harus melihat Amber Jerome! Dia sendirian. Ayo kita pergi ke ruang rawatnya."
Jerome menurut. Dia mengikuti Sulli yang menarik tangannya dan menuntunnya untuk pergi dari UGD menuju ruangan rawat Amber. Dia menatap punggung Sulli dengan tatapan yang sendu. Sekarang orang yang ada di sisinya ketika dia sedang kesulitan bukanlah Amber, tapi Sulli.
"Ayo masuk Jerome!" ucap Sulli.
Jerome masuk. Dia melihat ke arah Amber. Adiknya itu sudah sadar, tetapi dia seperti tidak bernyawa dan hanya diam menatap langit-langit kamar inapnya.
"Siapa yang menghamili mu Amber? Siapa Ayah dari anak yang kau kandung?" tanya Jerome penuh amarah. Andai gadis ini tidak sedang sakit, dia pasti akan memarahinya sampai Amber sadar dan menyesal. Dia benar-benar kecewa terhadap Amber.
"Katakan siapa Ayah dari bayi ini Amber?" tunjuk Jerome pada perut Amber yang masih sangat rata.
Dia menatap Amber dengan tatapan tajam dan membunuh. Sulli yang ada di samping Jerome menarik laki-laki itu dan mengelus lengannya perlahan.
"Jangan seperti ini Jerome! Kasihan Amber."
"Apa Lukas yang menghamilimu?"
"Laki-laki itu yang membuatmu seperti ini bukan?"
Amber diam mendengar Jerome yang terus saja berteriak kepadanya. Dia takut, dia juga merasa kecewa oada dirinya sendiri. Dia juga tidak ingin ini terjadi, kenapa Jerome harus berteriak kepadanya.
"Kau diam itu artinya Ayah dari Bayi yang kau kandung adalah Lukas bukan?"
Jerome melepas paksa tangan Sulli. Dia berjalan dengan tergesa ke arah pintu.
Sulli yang melihat kemarahan pada Jerome langsung berlari dan menarik tangan Jerome paksa membuat laki-laki itu tersentak dan berbalik menatapnya.
"Kau mau ke mana Jerome?" teriak Sulli marah.
"Aku ingin membunuh Lukas."
To Be Continued.