The Veil of Eileria

The Veil of Eileria
Keributan di Rumah Darius



"Aku tidak bisa Jerome."


Jerome mematung. Jantungnya seakan berhenti berdetak saat itu juga. Bukan ini yang Jerome harapkan. Dia yakin Sulli juga mencintainya, tapi kenapa Sulli menolak? ..


Sulli menarik ujung bibirnya ketika dia melihat wajah pucat pasi Jerome. Wanita cantik itu menarik tangan Jerome lalu menatap bola mata nya lekat.


"Aku tidak bisa menolak ajakan mu Jerome, aku siap menikah dengan mu."


Kalimat yang keluar dari bibir Sulli sungguh membuat mood Jerome langsung meningkat seratus persen. Laki-laki berdiri lalu melompat sambil meninju udara. Apa yang dia dengar ini tidak salah bukan? Jerome sangat bahagia, Sulli hampir saja membuat hidupnya hancur, porak poranda, bahkan luluh lantah sampai tidak tersisa.


"Kau membuatku takut Honey!" ujar Jerome. Dia mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna hitam, lalu berjongkok dan membuka kotak itu di hadapan Sulli.


Wanita cantik itu membekap mulutnya. Matanya berkaca-kaca. Dia pikir Jerome hanya mengajaknya menikah dan tidak mempersiapkan apapun. Ternyata Jerome sudah mempersiapkan semuanya.


"Kau harus menikah dengan ku Sulli, walaupun kau tidak mau, kau harus mau."


Kata-kata Jerome sungguh membuat suasana romantis itu hancur. Bagaimana bisa dia melamar seorang perempuan dengan cara memaksa seperti itu. Seharusnya Jerome memohon dan mengucapkan kata-kata yang manis, laki-laki ini benar-benar di luar nalar manusia normal.


Sulli mengulurkan jemarinya. Jerome yang melihat itu menarik tangan Sulli, lalu menyematkan sebuah cincin berlian yang cukup besar. Darimana Jerome mendapatkan itu? Entahlah, Sulli tidak perduli, yang paling penting sekarang adalah dia bisa menikah dengan Jerome sekarang.


"Terimakasih Sulli!" ucap Jerome sambil mengecup jemari tangan Sulli lembut. Untuk sekali lagi Sulli merasa terharu. Dia menghambur ke pelukan Jerome dengan sangat antusias. Karena Jerome tidak memiliki persiapan, mereka akhirnya ambruk di atas trotoar, Jerome terkekeh melihat tingkah Sulli yang sudah kembali seperti dulu. Sementara Sulli, dia sedang menangis terisak di pelukan Jerome.


Mereka berdua tidak memperdulikan tatapan orang-orang yang menatap mereka aneh. Sungguh, pasangan ini adalah pasangan terabsrud di antara pasangan yang lain. Bahkan Nathan dan Eil saja belum pernah berbuat gila di tempat umum.


"Honey! Apa kita harus segera pulang ke Paris?" tanya Jerome sambil mengelus punggung Sulli lembut. Sulli dengan cepat mengangguk. Dia ingin segera menemui Eil dan menceritakan kabar bahagia ini padanya.


****


Pada akhirnya Sulli dan Jerome pun sudah kembali ke Prancis. Mereka masih berada di dalam mobil, perjalanan dari airport menuju apartemen mereka lumayan memakan waktu lama.


"Apa yang sedang kau lakukan Honey?" tanya Jerome melihat Sulli yang sejak tadi hanya berkutat dengan ponselnya.


"Akh, aku sedang memposting kabar bahagia kita di sosial media. Tidak apa bukan? Aku tidak memakai identitas asli dan juga tidak mengunakan nama aslimu."


Jerome menautkan kedua alisnya. "Lalu kau memaki identitas siapa di dunia maya?" tanya Jerome penasaran.


Sulli tersenyum sebelum memperlihatkan ponselnya pada Jerome.


"What? Kau memakai nama Jasmine dan Aladin? Apa tidak salah? Kenapa tidak sekalian memakai nama Romeo and Juliet?"


Sulli mendengus. Dia tidak mengharapkan reaksi seperti ini dari Jerome, Sulli sudah dengan susah payah mencari nama yang cocok untuknya dan untuk Jerome, tapi Jerome tidak menghargai itu.


"Ya sudah kalau tidak suka, aku hapus lagi postingan nya. Tidak usah posting-posting. Lebih baik aku tidur saja."


Suli mematikan layar ponselnya lalu duduk bersandar ke sandaran jok mobil sambil memunggungi Jerome. Dalam hati dia terus menggerutu dan ingin melayangkan bogeman mentah kepada Jerome, tapi dia sadar, kalau dia menghajar Jerome, kekasihnya itu tidak akan tampan lagi.


"Honey maafkan aku, aku tidak bermaksud seperti itu. Aku bukan tidak menyukai nama Jasmine dan Aladin, aku hanya ... Aku hanya ... Hanya tidak sadar mengucapkan kata-kata itu."


Plakkkkk!


Jerome memukul mulutnya dengan tangannya sendiri. Sulli melihat Jerome dengan sudut matanya. Namun, apa yang Jerome lakukan itu tak lantas membuat Sulli memaafkan Jerome begitu saja.


"Maafkan aku Honey. Ini semua salah mulut ember ini, aku tidak seharusnya mengucapkan itu. Maafkan aku ya."


"Honey!"


"Sayang!"


"Baby!"


"Calon Ibu dari anak-anak ku!"


Sulli langsung menoleh saat kalimat terakhir keluar dari mulut Jerome. Dia menatap laki-laki yang ada di hadapannya dengan tatapan yang membunuh. Bukannya senang, Sulli malah semakin di buat marah lantaran kata Ibu menjadi sangat sensitif untuk Sulli. Dan Jerome mengatakan itu tanpa beban, apa dia benar-benar ingin di hajar.


"Apa kau bilang? Calon Ibu? Calon Ibu kau bilang? ... Hei Jerome, kau juga tahu bukan kalau aku akan kesulitan untuk hamil, kau sengaja mengatakan itu untuk membuat mood ku hancur hah?"


Jerome mengibaskan kedua tangannya. Dia tidak bermaksud seperti itu, dia hanya ingin membuat Sulli berhenti marah, biasanya, wanita akan suka di panggil dengan panggilan-panggilan seperti itu, tapi sepertinya dia lupa kalau Sulli ini sangat berbeda dengan wanita yang ada di luaran sana.


"Habislah aku, kenapa aku tidak bisa menjaga mulutku dengan baik. Ya Tuhan, kenapa kau berikan aku cobaan seperti ini!" batin Jerome berbicara.


Sopir Jerome dan Amber tersenyum melihat pertengkaran yang terjadi, baru kali ini dia melihat Jerome memohon-mohon untuk di maafkan. Bahkan ketika Jerome masih bersama dengan Amber, dia tidak seperti ini.


****


Disisi lain, di kediaman Darius. Seorang anak kecil sedang makan dari suapan tangan ibunya, lebih tepatnya ibu sambung. Namun, siapa yang akan menyangka itu, jika saja mereka keluar bersama-sama, mereka akan terlihat seperti seorang ibu dan anak kandung. Amber sangat cantik, dan Alard juga sangat tampan, sangat tidak mungkin jika orang lain ada yang mengetahui kalau mereka hanyalah ibu dan anak tiri, kecuali orang-orang yang mungkin sudah mengenal keluarga Darius sejak lama.


"Kau ingin makan juga Kak?" tanya Amber kepada Lukas. Laki-laki yang ditanyai itu diam. Dia masih fokus dengan handphone yang ada di tangannya. Jangankan menjawab, menoleh saja tidak, dia seperti orang tuli yang tidak bisa mendengar apapun ketika dia tidak memakai alat bantu dengar.


"Mommy, Apa Daddy malah sama Mommy?" tanya Alard masih dengan makanan di dalam mulutnya.


Amber menggeleng sambil tersenyum dan mengusap kepala Alard lembut. "Tidak Sayang, Daddy tidak marah sama Mommy, Daddy hanya sedang sibuk saja. Dia belum bisa makan karena pekerjaannya sangat banyak."


Alard mengangguk. Dia tidak terlalu perduli pada pekerjaan ayahnya. Hanya saja, Alard merasa terganggu kalau Lukas tidak menggubris Amber sama sekali.


"Coba Mommy tanya sekali lagi!" pinta Alard pada Amber.


Amber mengangguk meskipun dia merasa agak takut. Lukas itu sangat menakutkan kalau sedang marah.


Amber menarik napas dalam lalu menghembuskan-nya perlahan. "Kak! Apa tidak sebaiknya Kakak makan dulu!"


Lukas masih tidak menjawab atau merespon saran yang diberikan oleh Amber.


"Kak!"


Prang!!!


Piring yang ada di tangan Amber hancur berantakan di atas lantai. Amber memegangi dadanya karena di merasa sangat terkejut dengan apa yang baru saja terjadi.


"Ada apa ini?" tanya Darius langsung turun dari lantai atas ketika dia mendengar suara keributan di lantai bawah.


"Ayah!" panggil Amber dengan suara yang bergetar.


...To Be Continued....