
Susana diantara orang-orang yang sedang berkumpul itu menjadi tidak baik. Jerome mengeluarkan hawa dingin juga panas secara persamaan. Matanya menunjukan sorot kesedihan dan kemarahan sekaligus.
"Kenapa kau sampai kehilangan bayimu Amber? Apa laki-laki bajingan itu tidak menjagamu dengan baik hah? Kapan ini terjadi? Kenapa kau tidak memberitahuku? Apa aku sudah tidak kau butuhkan? Apa katena kau sudah memiliki keluarga baru jadi kau melupakan aku?"
Jerome berteriak di depan semua orang yang mana itu membuat beberapa tamu undangan melihat ke arahnya.
"Jerome! Ini bukan salah Amber. Aku yang menyuruhnya untuk merahasiakan ini darimu. Kau pikir, kalau kau tahu jika Amber mengalami keguguran kau tidak akan langsung lari dari Amerika? Lalu bagaimana dengan Sulli? Kau akan meninggalkan nya? Sadarlah Jerome, jangan membuat keributan, ini bukan salah siapapun."
Jerome mendengus. Dia pergi meninggalkan semua orang. Sulli yang melihat itu langsung berlari mengejar calon suaminya. Berita ini pasti sudah membuat Jerome marah dan juga sedih dalam waktu yang bersamaan.
"Amber! Maafkan aku," ucap Eileria menarik tangan Amber. Tatapan matanya menunjukan sebuah ketulusan. Amber sebenarnya sudah baik-baik saja. Saat ini dia bisa menjadi lebih fokus untuk merawat Alard, oleh karena itu, proses penyembuhan luka kehilangan dalam hatinya sedikit teralihkan oleh pangeran kecil yang selama ini sudah dia anggap seperti anak kandungnya sendiri.
"Aku tidak apa-apa Kak. Aku tahu, Kak Jerome pasti sangat terkejut. Meskipun aku mengatakan kalau aku sudah baik-baik saja, respon yang dia tunjukan masih akan sama. Dia pasti akan marah. Terlebih aku sudah menyembunyikan fakta ini cukup lama. Dia pasti merasa terluka karena itu."
Eileria mengangguk. Dia mengusap punggung tangan Amber perlahan. Alard yang melihat itu juga ikut sedih. Dia berjalan ke arah Amber lalu memeluk kaki wanita cantik itu erat.
"Mommy, Mommy jangan sedih ya! Mommy Ambel kan punya Alad. Alad janji, Alad akan menjadi anak yang baik supaya Mommy tidak sedih lagi."
Amber tersenyum. Dia berjongkok lalu memeluk Alard. Bocah kecil itu juga melakukan hal yang sama. Dia melingkarkan tangannya di leher Amber dengan erat.
"Alad sangat menyayangi Mommy. Mommy jangan sedih lagi ya!"
Amber mengangguk. Baginya Alard saja sudah cukup untuk sekarang. Alard juga masih membutuhkan banyak perhatian darinya. Selama ini Alard tidak pernah mendapat kasih sayang seorang ibu, jadi Amber akan melakukan yang terbaik supaya Alard tidak merasa kekurangan kasih sayang lagi.
Dari balik pohon, Lukas memperhatikan apa yang terjadi dengan wajah datarnya. Entah apa yang sedang dia pikirkan, dia terlihat biasa saja namun, sorot matanya tidak bisa berbohong. Dia jelas merasa bersalah dengan apa yang sudah terjadi.
Sementara di tempat lain, Sulli sedang berusaha untuk menenangkan Jerome. Dibalik pohon besar yang ada di taman itu, Amber sedang menepuk punggung Jerome dengan tepukan lembut. Dia mengerti apa yang sedang Jerome rasakan. Dia juga sangat sedih saat mendengar Amber kehilangan bayinya. Terlebih mungkin itu terjadi saat Jerome tidak ada di samping Amber dan malah menemaninya di Amerika.
"Kau harus sabar Jerome. Semua yang terjadi ini adalah kehendak dari Tuhan, kau tidak bisa menawar. Aku tahu ini bukan cobaan yang mudah, namun, kau harus ingat, Tuhan tidak mungkin memberikan cobaan tanpa sebuah kebaikan."
Jerome mendongak. Dia menatap Sulli lekat, Sulli mengangguk. Jerome kembali menangis dalam pelukan Sulli.
"Kenapa semakin hari Amber semakin jauh dariku Sulli, kenapa dia tidak pernah meminta bantuan ku lagi? Apa aku sudah tidak berharga di matanya?"
"Hei!" Amber mengangkat dagu Jerome lalu menatap mata laki-laki itu lekat.
"Amber tidak menjauhi mu. Dia bukan tidak membutuhkan bantuan darimu lagi. Dia sekarang sudah memiliki keluarga baru, kalau dia masih terus bergantung padamu, akan menganggap apa keluarga Lukas pada Amber? Mereka pasti akan berpikir kalau Amber tidak menghargai keluarga mereka karena Amber selalu meminta bantuan dari orang luar ketika mendapatkan maslaah."
Jerome langsung menggeleng. Dia tidak bermaksud seperti itu. Hari ini dia mendapatkan kabar yang tidak menyenangkan, karena itulah dia menunjukan reaksi berlebihan. Dia sudah menjaga Amber dengan sangat baik sejak dulu, namun kenapa ketika dia berada di bawah perlindungan orang lain, dia malah melewati hal seperti ini. Dia hanya sangat kesal kepada Lukas yang tidak bisa menjaga Amber dengan baik.
"Maafkan aku Honey!" Jerome menagkup wajah Sulli dengan kedua tangannya lalu mengecup bibir Sulli cukup lama. Kali ini Jerome hanya memberikan kecupan. Dia tidak mau membuat susana haru berubah menjadi suasana yang tidak bisa dia kendalikan.
"Sebaiknya kita kembali, pestanya harus segera di mulai. Semua orang pasti sudah menunggu," ujar Amber menarik kaos yang dikenakan Jerome kamu mengulurkan tangannya untuk merapikan rambut laki-laki itu.
Cup!
Sebuah kecupan kembali mendarat di bibir Sulli. Wanita itu terkekeh lalu menarik tangan Jerome untuk segera pergi dari tempat itu dan berjalan menuju tempat diadakannya pesta yang telah mereka siapkan.
Semua orang menoleh ketika Sulli datang sambil menarik tangan Jerome. Jerome terlihat mendekat ke arah orang-orang yang tadi sempat melihat kemarahan nya dan membungkuk lalu meminta maaf.
Amber tersenyum. Dia sangat bahagia karena Jerome sudah tidak keras kepala seperti sebelumnya.
"Terima kasih karena sudah menjadi pengertian Kak."
Jerome mengangguk. Dia melepaskan pelukan Amber lalu mengusap kepala adiknya itu lembut.
"Maafkan aku karena aku tidak ada di saat kau membutuhkan ku."
Amber dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Tidak Kak, Kak Sulli lebih membutuhkan mu."
Sulli tersenyum. Dia menarik tangan Amber lalu memeluknya. "Terima kasih karena telah menjaga Jerome dengan sangat baik. Aku janji, aku akan menyayanginya sebaik mungkin."
"Wah, acaranya belum di mulai ternyata!"
Sura bariton di belakang semua orang membuat semua orang itu menoleh.
Bara muncul sambil membawa beberapa buket bunga yang telah dia siapkan untuk wanita-wanita cantik yang ada didepannya.
"Kenapa dia juga ada disini?" tanya Jerome merasa heran karena seingatnya dia tidak mengundang Bara. Begitupun dengan Sulli, dia mengenal Bara hanya dari Eil. Jadi dia tidak berani mengundang orang itu. Sulli pikir Bara sedang sangat sibuk dan tidak mungkin mau menghadiri pesta kecil-kecilan yang dia buat.
"Aku yang mengundangnya!" Eileria berbicara dengan senyuman evil di wajahnya.
...To Be Continued....