The Veil of Eileria

The Veil of Eileria
Meeting Penting



"Maafkan aku Sulli, aku tidak bisa menikahi mu sekarang. Aku belum yakin dengan perasaan ku sendiri. Meskipun kau sangat baik dan selalu ada di sampingku, tapi aku masih ragu. Maafkan aku."


Jerome berbicara dalam hati. Sungguh dia tidak bisa menolak atau menjawab apa yang baru saja Sulli katakan padanya. Dia takut kalau wanita yang ada di sampingnya ini akan pergi jika dia menolak untuk menikahinya, tetapi kalau dia langsung mengiyakan keinginan Sulli, dia takut suatu saat dia akan berubah dan akan menyesali pernikahannya. Bagi Jerome pernikahan itu suatu hal yang tabu namun sakral. Dia hanya ingin menikah satu kali selama dia hidup.


Setelah resepsi pernikahan selesai, Bara dan Nathan membawa Eileria pulang. Malam ini Bara tidak menginap di rumah Eileria karena dia memiliki sebuah janji dengan seseorang. Dia harus menemui orang itu malam ini juga.


"Aku akan tidak akan pulang malam ini Nathan. Sekarang pikirkanlah cara untuk membuat Eil lupa padaku sementara waktu ini. Kalau semuanya lancar, aku akan kembali besok lusa. Aku harus pergi ke perusahaan pusat untuk memeriksa masalah yang sedang terjadi di sana."


Nathan mengangguk. Dia membopong tubuh Eileria keluar dari dalam mobil. Mungkin istrinya itu kelelahan sampai dia tidur begitu pulas di dalam mobil.


"Pergilah Bara! Terimakasih untuk hari ini."


Nathan membopong tubuh Eileria masuk ke dalam rumah. Iya, Nathan sudah membeli rumah baru yang hanya memiliki satu lantai. Meskipun begitu rumahnya sangat besar, rumah itu berdindingkan kaca. Jadi Eil bisa memandang keadaan di luar rumah tanpa harus pergi ke luar.


Setelah sampai di dalam kamar, Nathan membaringkan Eileria di atas ranjang. Dia berjalan ke arah kamar mandi mengambil air hangat dan juga mengambil handuk besar juga handuk kecil.


Nathan melepas pakaian Eileria satu persatu. Wanita cantik itu hanya menggeliat dan kembali terlelap. Mungkin karena dia sudah terbiasa mendapat sentuhan dari Nathan jadi dia tidak waspada dan mulai terbiasa.


"Kau sangat cantik Baby," ucap Nathan sambil mengelap tubuh Eil dari bagian wajah terus turun ke bawah sampai semuanya selesai dan dia mengelap seluruh tubuh istrinya itu dengan handuk kering.


"Nathan," gumam Eileria masih dengan mata terpejam. Dia menggeliat mencari sosok suami yang sejak tadi sebenarnya sudah ada di dekatnya.


"Ada apa Baby?" tanya Nathan duduk di tepian ranjang lalu mengusap kepala istrinya lembut.


"Apa kita sudah sampai di rumah?" ujar Eileria mengecup tangan Nathan beberapa kali.


Nathan mengangguk."Kita sudah sampai Eil. Kau tidurlah lagi! Aku mau mandi dulu, setelah itu kita akan tidur bersama heum."


"Apa Bara juga ikut pulang?" tanya Eileria lagi.


"Iya, dia ikut pulang dengan kita. Mungkin sekarang dia sudah tidur karena kelelahan."


Eileria mengangguk. Dia kembali tidur sambil menghadap Nathan yang kini sedang mengusap pundaknya perlahan. Nathan terpaksa berbohong. Kalau dia tidak berbohong, mungkin Eil akan memaksa Nathan untuk membawanya pergi menyusul Bara ke perusahaannya.


"Maafkan aku Baby, aku terpaksa melakukan ini. Besok mungkin aku harus mencari alasan lain lagi untuk menutupi kepergian Bara dari rumah ini."


Sementara di tempat lain yang ada di pusat kota Paris, Bara mulai memasuki area perusahaan nya. Orang-orang yang ada di sana terlihat membungkuk ketika Bara masuk melewati loby dan pergi ke lantai 20 untuk menemui perwakilan dari setiap cabang perusahaan nya yang ada di berbagai negara.


"Selamat malam Pak," ucap beberapa orang yang sepertinya adalah beberapa perwakilan dari cabang perusahan Bara.


"Malam!"


"Apa dia juga perwakilan dari cabang perusahan kita?" tanya Bara pada sekertaris nya.


Pria itu melihat ke arah orang yang di tunjuk Bara. Saat dia melihat wanita dengan pakaian rapih dengan tudung di kepalanya, dia mengangguk dengan mantap.


"Iya Pak. Dia adalah perwakilan dari perusahan cabang yang ada Indonesia," ucap sekertaris nya menjelaskan.


"Kenapa dia memakai tudung seperti itu? Apakah perusahaan kita memberikan kebijakan untuk itu?" tanya Bara dengan suara dingin.


Suasana di dalam ruangan itu mendadak sangat tegang. Mereka melihat aura tidak menyenangkan dari wajah Bara. Kenapa laki-laki itu harus marah ketika melihat wanita berhijab. Mereka menatap ke satu arah. Tatapan mereka tajam. Menusuk dan mampu membuat orang yang di tatap menciut ketakutan.


Namun tidak dengan wanita itu. Dia terlihat biasa saja seolah tidak terjadi apapun di sana. Bahkan dia mengabaikan tatapan orang-orang yang menatap dirinya seolah mereka ingin menyalahkan dan menyudutkan dia atas ketidak senangan yang di tunjukan Bara.


"Apakah aku melakukan kesalahan?" tanya wanita itu melirik ke arah semua orang yang sejak tadi sudah menatapnya.


Mereka diam. Tidak ada yang mau membuka suara. Bara menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Dia menatap lekat wanita itu tanpa mengalihkan perhatiannya sama sekali.


"Siapa namamu?" tanya Bara masih dengan nada suara yang dingin.


"Nama saya Nabila Pak," ucap wanita itu berdiri dari duduknya. Dia membungkuk ke arah Bara lalu kembali duduk.


Bara mencondongkan tubuhnya ke depan. Dia menautkan kedua tangannya yang dia tumpukan di atas meja.


"Apa kau bisa melepas tudung yang ada di kepalamu itu? Mataku sakit melihatnya."


Nabila tertegun. Dia menatap Bara dengan tatapan tidak percaya. Bagaimana mungkin seorang atasan dari perusahaan besar tidak memiliki toleransi yang baik. Kerudungnya tidak mengganggu pekerjaannya. Kenapa dia harus melepaskannya? Bukankah ini tidak adil?


"Maaf Pak, saya tidak bisa melakukan apa yang Bapak minta. Ini masalah saya dan agama saya, tidak ada sangkut pautnya dengan pekerjaan. Kalau Bapak ingin protes tentang pekerjaan saya, saya terima. Tetapi kalau Bapak meminta saya untuk melepas jilbab, saya minta maaf, tanpa melepas segala hormat saya, saya akan mengatakan kalau saya tidak bisa melakukan itu."


Bara tersenyum menyeringai. Dia malah tertawa sambil menatap Nabila kagum. Semua orang yang ada di sana menjadi bingung. Bara ini marah atau sedang bercanda. Kenapa tadi dia marah, dan sekarang malah tertawa.


"Aku hanya bercanda. Aku bukan orang yang terlalu memperdulikan maslah pribadi orang lain. Kau tenang saja. Aku tidak akan menyuruhmu untuk melepas tudung mu itu."


Semua orang yang ada di ruangan itu bernafas lega. Mereka sudah salah menyangka pada Nabila. Mereka pikir Bara akan sangat marah, tetapi ternyata tidak.


"Sekarang kita akan memulai rapatnya. Aku tidak memiliki waktu banyak. Jadi sebaiknya kita mulai sekarang juga."


"Kau akan mendapatkan perhitungan dariku setelah kita menyelesaikan meeting ini Nabila."


...To Be Continued....