The Veil of Eileria

The Veil of Eileria
Aku Membencinya



Hari sudah semakin malam. Nathan masih berkutat dengan laptop di hadapannya. Dia sesekali melirik wanita cantik yang kini sedang terlelap di sebuah sofa yang ada di ruangannya. Sudut bibirnya tertarik ke atas tat kala Eil menggeliat dan bergumam tidak jelas.


Krieeetttt... Pintu ruangan Nathan di buka dari luar. Lukas masuk dengan setumpuk berkas di tangannya.


"Shuuuttt!" Nathan menaruh jari telunjuknya di depan bibir. Lukas-pun menoleh ke arah pandangan Nathan. Dia membulatkan mulutnya membentuk huruf O saat melihat kakak iparnya sedang tidur di sofa.


"Kak! sebaiknya kau segera pulang! kasian Kak Eil. Dia pasti kelelahan, kau bisa melanjutkan pekerjaanmu besok."


"Aku akan pulang sebentar lagi Lukas."


Lukas mengangguk. "Aku akan mengambilnya besok. Kau tidak perlu ter buru-buru," ucap Lukas sambil menaruh setumpuk berkas di meja Nathan.


"Baiklah," ucap Nathan . Dia mengangguk lalu menutup laptopnya.


"Aku akan pulang sekarang," ucap Lukas. "Kasian Alard, dia pasti sudah menungguku sejak tadi."


"Pergilah! sampaikan salam ku pada Alard!"


"Heummmm."


Setelah Lukas keluar dari ruangannya, Nathan beranjak dari kursi kebesarannya. Dia lantas berjalan mendekati Eileria. Cukup lama dia memandangi wajah Eil yang sangat damai ketika dia sedang tertidur. Istrinya itu sangat cantik. Nathan sangat menyukai semua yang ada pada wajah istrinya.


"Kau sama seperti bayi ketika sedang tidur seperti ini Eil." Nathan menyingkirkan rambut Eil yang menghalangi wajah cantik istrinya itu.


"Eumnghhhhhh," lengguh Eil ketika merasakan sebuah tangan menyentuh area wajahnya.


"Nathan!" ucapnya saat membuka mata.


"Aku membangun kan mu?" tanya Nathan sambil tersenyum. Dia merasa bersalah karena telah membangunkan Eil dari tidur nyenyak nya.


Bukannya menjawab, Eil malah kembali bertanya. "Sekarang jam berapa?" tanya Eil . Dia berusaha untuk bangun dan duduk sambil bersandar ke sandaran sofa.


"Ini sudah malam Eil. Sudah jam 8," ucap Nathan. Dia berdiri lalu duduk di sebelah Eil. Tangannya terulur meraih bahu Eil kemudian memeluknya.


"Ada apa?" tanya Eil yang bingung ketika Nathan tiba-tiba memeluknya.


"Aku hanya merindukanmu."


"Aku sudah di sini sejak siang Nathan. Kenapa kau masih merindukan ku?" Eil mendongakkan wajahnya menatap Nathan yang kini sedang menatapnya lekat.


"Aku tidak tahu. Aku hanya merasa kalau aku sangat merindukanmu."


Eil terkekeh. Dia memeluk suaminya dengan erat. " Aku akan memelukmu, kau tidak akan merindukanku lagi Sayang."


"Kita harus pulang sekarang Eil. Kau juga ada jadwal operasi kan besok pagi?


"


Eil menghela nafasnya saat mengingat kalau dia harus bertemu kembali dengan si Ulat Bulu besok pagi. "Rasanya aku ingin berhenti saja dari rumah sakit Nathan. Si Ulat Bulu membuatku muak. Aku sangat tidak menyukainya."


"Jangan seperti itu. Orang-orang sangat membutuhkan mu. Dia yang sudah bergelar profesor saja tidak se kompeten dirimu, apalagi yang lain."


"Dia itu mendapat gelar profesor karena bantuan orang dalam Nathan. Kemampuannya jelas berbeda dengan orang-orang yang mendapat gelar dengan kemampuan mereka sendiri."


Eil menatap mata Nathan saat suaminya menatapnya dengan tatapan hangat dan menenangkan. "Andai kau tahu siapa diriku yang sebenarnya Nathan. Aku tidak tahu apa kau akan mengkhawatirkan ku seperti saat ini atau tidak."


"Ada apa?" tanya Nathan ketika melihat Eil hanya melamun sambil melihat ke arahnya.


"Aku tidak apa-apa Nathan. Aku hanya senang karena kini kau sudah mulai membuka hatimu untuk ku. Kau tahu, sebenarnya sejak awal aku sudah menaruh hati padamu. Hanya saja saat itu kau sangat dingin dan sangat sulit untuk di dekati." Eil terkekeh ketika mengingat bagaimana dingin dan cueknya Nathan saat itu padanya.


Nathan hanya tersenyum. Dia tahu kalau dulu dia selalu bersikap cuek dan dingin kepada Eil. Oleh sebab itu, sekarang Nathan akan belajar untuk memperlakukan Eil dengan baik.


"Ayo!" ajak Nathan sambil mengulurkan tangannya di depan Eil. Eil tersenyum lalu meraih tangan suaminya dan menggenggamnya dengan erat.


Sementara di tempat lain, seorang gadis cantik sedang menggerutu kepada laki-laki yang terus memberikannya beberapa potong sayuran di atas piringnya.


"Kak Jerome! berhentilah memberikanku sayur seperti ini. Aku bosan kalau harus memakan sayuran terus setiap kali makan. Kau juga tidak mengijinkankku makan di kantin kampus karena alasan kebersihan. Kau keterlaluan Kak." Amber mengerucutkan bibirnya kesal karena Jerome tidak pernah mau mendengarkan semua keluhannya.


Setttt... "Ikhhhhh Kakak!" teriak Amber saat Jerome menarik mulut Amber dengan kasar.


"Kau itu masih kecil. Tidak usah sok-sok an melawan ku. Aku memberikan mu makanan sehat tapi kau malah menginginkan makanan yang lain. Makanan di luar itu belum tentu sehat Amber." Jerome mengambil sepotong brokoli lalu memasukannya ke mulut Amber. Mau tidak mau Amber mengunyah dan menelan brokoli tersebut.


"Kau itu seperti ibu-ibu Kak. Cerewet dan banyak maunya."


"Aku memang Ibu dan juga Ayah untukmu Amber. Jadi kau tidak berhak untuk melawan dan membantah semua perkataan ku."


Amber memutar bola matanya malas. Dia di buat jengah dan dongkol dengan sikap posesif Jerome padanya. Amber merasa kalau Jerome ini selalu mengekangnya. Dia tidak pernah membiarkan Amber mempunyai teman laki-laki, bahkan Amber tidak memiliki banyak teman perempuan karena Jerome tidak pernah mengijinkan Amber untuk keluar rumah tanpa pengawasan darinya. Amber selalu ingin protes dan mengatakan kalau dia bisa stres jika Jerome terus melakukan ini padanya. Tapi... Kehilangan keperdulian Jerome lebih menakutkan daripada kehilangan teman atau yang lainya. Selama ini hanya Jerome lah yang selaku memperhatikan nya. Jika sampai Jerome berhenti perduli , entah apa yang akan terjadi padanya.


"Kak!...."


"Heummm.."


"Apa kau menyayangiku?" tanya Amber asal.


Jerome menyimpan sendok yang sedang di pegangnya lalu menatap Amber sambil tersenyum. "Kenapa kau baru menanyakan hal ini sekarang? bukankah sejak dulu kau sudah tahu bagaimana perdulinya aku terhadapmu?"


Amber mengangguk. Ya, dia memang tahu kalau Jerome sangat menyayanginya. Dia hanya iseng dan ingin mendengar Jerome mengatakan langsung kalau dia memang menyayangi Amber.


"Apa kau meragukan kasih sayangku?" tanya Jerome.


Amber menggeleng. "Aku tidak meragukan mu Kak. Aku hanya asal bicara saja," ucap Amber dengan wajah sendunya. Entah kenapa dia merasa sedih karena dia tidak mendengar Jerome mengatakan kalau dia menyayangi Amber.


"Kalimat aku menyayangimu apa sesulit itu?" batin Amber.


"Aku sangat menyayangimu Amber."


...To Be Continued....


...Hai reader jangan lupa like dan komennya ya. Thank You.🤗🤗...


Untuk para reader dan Author tersayang, tolong bantu ramaikan chat story ku yang judulnya Mencintai Seorang Guru Casanova!... Terimakasih untuk bantuan kalian semua.. 🙏🙏🙏