The Veil of Eileria

The Veil of Eileria
Kondisi Amber



Hari ini Nathan Bara dan Eileria memutuskan untuk kembali ke Prancis. Mereka meninggalkan Jerome dan Sulli di sana. Eileria mencegah Nathan dan Bara untuk memberitahu Sulli dan Jerome dengan keadaan yang terjadi di Paris. Eil mengatakan kalau Sulli masih dalam masa pemulihan, akan sangat tidak baik jika dia harus bolak balik seperti ini. Belum lagi pengobatan Sulli dengan dokter yang ada di Amerika belum selesai, jadi Eil menyuruh semua orang merahasiakan masalah Alard dan Amber untuk sementara waktu.


"Apa kau baik-baik saja Baby?" tanya Nathan pada Eileria. Eil mengangguk lalu menggelengkan kepalanya. Dia sendiri pun bingung, apa dia baik-baik saja atau tidak, kabar yang di sampaikan oleh Nathan hampir membuat jantungnya lepas dari tempatnya. Eil hanya berharap kalau Alard dan Amber baik-baik saja.


"Maaf karena aku harus menyembunyikan fakta lain darimu Baby."


"Aku sangat gugup Nathan, bagaimana kalau terjadi sesuatu pada Alard dan Amber?" tanya Eil sambil meremas tangan Nathan yang duduk di sampingnya. Mereka masih ada di dalam jet pribadi. Jarak yang mereka tempuh ini lumayan lama, Eil menjadi tidak sabar dan semakin lama semakin gugup dan takut.


Nathan mengusap punggung tangan Eil lembut. "Kau tidak usah khawatir, aku yakin mereka akan baik-baik saja."


Eileria mengangguk. Dia sangat berharap kalau Alard dan Amber memang baik-baik saja.


"Sekarang kau tidur dulu saja Baby! Nanti kalau sudah sampai aku akan membangunkan mu."


Karena Eil memang masih sangat mengantuk, dia menuruti apa yang di katakan Nathan padanya. Bara yang kala itu duduk tak jauh dari Eileria dan Nathan melihat ke arah Eileria sekilas.


"Semoga setelah ini tidak akan ada lagi cobaan yang menimpa keluarga kalian Eil, Nathan."


Beberapa jam setelah terombang-ambing di atas permukaan bumi, akhirnya jet pribadi mereka sampai di landasan. Mereka langsung pergi menuju rumah sakit tempat Amber dan Alard di rawat. Eil sudah sangat tidak sabar untuk menemui Alard juga Amber. Sejak tadi dia sudah duduk dengan gelisah di dalam mobil.


"Tenanglah Baby! Jangan gelisah seperi ini. Calon bayi kita akan ikut gelisah nanti."


Eileria mengangguk. Dia sudah mencoba untuk lebih tenang, namun, hatinya masih tetap tidak bisa di ajak kompromi. Amber dan Alard adalah orang yang sangat berharga untuknya, jadi bagaimana mungkin dia bisa tenang.


"Semuanya akan baik-baik saja Eil. Tenanglah!" Bara ikut menimpali.


Eileria kembali menganggukkan kepalanya. Dua laki-laki ini selalu mengatakan kalau semuanya akan baik-baik saja. Namun, Eil tahu, mereka ini selalu berusaha untuk menutupi apapun yang akan membuat Eil sedih. Jadi Eil masih belum bisa tenang.


"Kita sudah sampai!" ucap Eil sambil menempel pada jendela kaca mobil.


Nathan menghembuskan napasnya berat. Apa istrinya ini sangat tidak sabar untuk menemui Alard dan Amber, kenapa dia bertingkah seperti anak kecil.


"Kita turun sekarang Nathan!" ucap Bara. Dia turun lebih dulu, lalu berjalan mengitari mobil dan membuka pintu bagasi mobil untuk mengeluarkan kursi roda.


Nathan bertugas untuk memangku Eil dan mendudukkan istrinya itu di atas kursi roda. Sementara Bara, dia hanya memperhatikan apa yang sedang dilakukan Nathan.


Para perawat dan beberapa dokter terlihat menyapa Eileria ketika dia sudah masuk ke dalam rumah sakit. Eil hanya membalas sapaan mereka dengan anggukan. Dia masih tidak mood untuk berbicara. Hatinya masih risau.


"Ayah! Lukas!" panggil Eileria melihat Lukas dan Darius yang sedang duduk di kursi tunggu di luar ruang operasi.


Entah kenapa Nathan dan Bara membawanya ke sini, bahkan Darus dan Lukas juga sudah standby. Bukankah Amber dan Alard baik-baik saja? Lalu kenapa mereka ada di sini? Amber dan Alard di mana? Siapa yang ada di ruang operasi.


"Alard dan Amber di mana Ayah, Lukas?"


Orang yang ditanyai malah diam. Eil semakin bingung.


"Kenapa kalian diam? Kenapa tidak menjawab pertanyaan ku?" tanya Eileria lagi. Dia melirik Nathan dan Bara, namun kedua orang itupun diam tidak berani bersuara.


Semua orang menoleh ke arah pintu ruang operasi saat pintu itu di buka dari dalam. Beberapa perawat muncul sambil mendorong hospital bad.


Eileria memperhatikan siapa yang berbaring di atas hospital bad itu. Matanya membulat dengan sempurna ketika wajah Amber adalah wajah yang dia lihat untuk pertama kalinya.


"Amber!" gumam Eileria. "Amber kau kenapa?" tanya Eil berusaha untuk mendekat ke arah Amber. Nathan yang kala itu masih memegangi kursi roda Eil mendorong kursi roda itu supaya Eil bisa mendekat kepada Amber.


Gadis itu tersenyum tipis. Wajahnya sangat pucat, dan Eil melihat air mata mengalir dari sudut mata Amber.


"Amber ada apa?" tanya Eileria dengan sura yang lirih. Dia belum mengetahui apapun namun, melihat Amber menangis dia malah ingin ikut menangis.


"Aku kehilangan bayiku Kak."


Tes!


Air mata yang sejak tadi tertahan di pelupuk mata Eileria mengalir begitu saja. Apa yang sebenarnya terjadi, kenapa Amber bisa kehilangan bayinya?"


"Apa yang kau katakan Amber? Ketika aku pergi kau masih baik-baik saja, kenapa sekarang malah jadi seperti ini?"


Eileria menangis terisak, sepanjang jalan Eil terus berdoa meminta kepada Tuhan agar semua keluarga nya baik-baik saja, namun apa yang terjadi, kenapa Tuhan terus memberikan cobaan tanpa henti.


"Tenanglah Baby! Amber harus merelakan bayinya agar dia bisa mempertahankan rahimnya. Bayi itu juga sudah tidak mungkin untuk bisa di selamatkan."


Para perawat juga dokter membawa Amber untuk memindahkan Amber ke ruang rawat. Lukas mengikuti dokter dan beberapa perawat itu, sementara yang lain masih diam di tempat memperhatikan Eileria yang sedang menangis tersedu-sedu.


"Kau jahat Nathan. Kau bilang semuanya baik-baik saja. Kenapa kau berbohong padaku."


"Dan kau Ayah! Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Ayah membiarkan Amber kehilangan bayinya. Dokter sudah mewanti-wanti kita semua agar menjaga kandungan Amber dengan hati-hati. Tapi kenapa kalian membuat bayi yang tidak berdosa itu tiada?"


Darius menunduk. Dia juga merasa sangat bersalah untuk ini, tapi semuanya sudah terjadi, dan dia tidak bisa mengulang waktu. Andai saat itu dia tidak menyetujui rencana Amber, mungkin semua ini tidak akan terjadi. Ini memang salahnya.


"Sudah Baby, kasihan Ayah! Ayah juga pasti tidak ingin ini semua terjadi."


Nathan berjalan ke hadapan Eileria lalu memeluk istrinya dan menepuk punggung istrinya lembut.


"Kau jahat Nathan. Kau jahat! Kenapa kau menyembunyikan ini semua dariku."


Eileria masih terus menangis sambil memukul lengan Nathan dengan sisa kekutan yang dia miliki.


Eil menghentikan pukulan juga tangisannya ketika dia mengingat sesuatu.


"Alard, Alard di mana Nathan?"


...To Be Continued....