The Veil of Eileria

The Veil of Eileria
Hubungan Yang Rumit




"Apa dia adalah seorang bidadari yang di kirimkan Ibu untuk ku?" batin Nathan berbicara ketika matanya melihat sosok Eil yang begitu cantik ketika sinar matahari pagi menerpa wajahnya. Kulit putihnya sangat bersinar seolah wajahnya itu memantulkan cahaya matahari.


"Apa yang sedang kau lakukan Baby?" tanya Nathan. Laki-laki itu mendekat lalu memeluk tubuh Eil dan mengecup i setiap bagian dari wajah sang istri bergantian.


"Nathan hentikan! kau membuatku geli," ucap Eil saat suaminya itu mulai mengecup i lehernya. Bukannya berhenti, Nathan malah semakin gencar melakukan aksinya. Dia bahkan sudah menurunkan jemarinya untuk menggelitiki perut sang istri.


"Nathan!" pekik Eil lagi. Dia berusaha untuk melepaskan dirinya dari Nathan. Setelah berhasil melepaskan diri, Eil berlari menjauhi suami nakal nya itu.


"Kau mau ke mana Baby?" teriak Nathan, Laki-laki itu terkekeh saat Eil menghentikan langkahnya dan menjulur kan lidah padanya.


"Bao!" ....


"Bao!" .... Teriak Eil memanggil kucing besar peliharaannya. Lebih tepatnya peliharaan suaminya.


Gerrrrr.... Eil memekik senang ketika Bao mendengar teriakannya dan ikut berlari kesana kemari. Nathan yang melihat Eil sedang bermain dengan Bao hanya memperhatikan istri kecilnya itu dari jauh. Baginya, melihat Eil bahagia dan ceria seperti saat ini adalah hal yang sangat membahagiakan untuknya.


Hari ini Nathan tidak berangkat ke perusahaan karena Eil mengatakan kalau Jerome akan datang ke mansion mereka. Nathan jelas saja tidak bisa membiarkan Eil berdekatan dengan laki-laki lain tanpa pengawasan darinya. Tapi bukankah hari ini adalah hari libur?


"Byy!" teriak Eil sambil melambaikan tangannya pada Nathan. Nathan tersenyum lalu berlari untuk menemui istri dan juga hewan kesayangannya.


Setelah puas bermain, mereka memutuskan untuk kembali ke dalam mansion. Olahraga pagi seperti ini lumayan membuat mereka lelah. Tapi bukankah ini sangat bagus, mereka bisa berolahraga dengan suasana yang menyenangkan.


"Byy," panggil Eil pada suaminya yang sedang asik mengotak atik tablet di tangannya.


Nathan menoleh. "Ada apa Baby?" tanya Nathan.


"Aku ingin ice cream," ucap Eil dengan wajah berbinarnya. Nathan mengangguk, dia meletakan tablet yang sedang dia pegang ke atas meja lalu pergi ke dapur dan mengambil se cup besar ice cream yang di inginkan Eil.


"Terimakasih Byy" ucap Eil saat Nathan menyerahkan cup ice cream nya kepada Eil.


"Mau aku suapi?" tanya Nathan sambil menatap lurus istri cantiknya itu.


Eil menggeleng. "Kau kerjakan saja dulu pekerjaan mu. Tangan kiriku masih berfungsi Nathan." Nathan hanya mengangguk.


"Ekhhh, tapi tolong nyalakan tv nya. Aku mau menonton."


Setelah hampir tiga puluh menit Eil menonton drama ke kesukaannya. Nathan masih sibuk dengan tabletnya. Dia bahkan tidak menghiraukan Eil yang dari tadi memperhatikannya dari samping.


"Nathan kau mau ice cream tidak?" tanya Eil mencoba untuk mengalihkan perhatian suaminya. Nathan tidak menoleh, tapi dia membuka mulutnya seolah Nathan meminta Eil untuk menyuapinya.


Seringai licik muncul di wajah Eileria. Dia menyendokan ice cream lalu memasukannya kedalam mulutnya sendiri. Nathan mengerutkan keningnya saat Eil tidak kunjung mengisi mulutnya dengan ice cream yang tadi Eil tawarkan.


Eil menggeser tubuhnya mendekati Nathan. Dia memutar posisi duduknya lalu, saat wajahnya sudah dekat dengan wajah Nathan, Eil menjulurkan lidahnya dan mulai menjila ti bibir Nathan yang masih terbuka tapi tidak seterbuka tadi.


Nathan membulatkan matanya ketika dia merasakan sesuatu yang dingin dan basah men ji lat i permukaan bibirnya. Dia sama sekali tidak menyangka kalau Eil akan senakal ini.


Nathan tersenyum sumringah dalam hati. Eil pikir dia akan kalah dengannya. Saat Eil sedang sibuk men ji lati bibir Nathan, Nathan menarik pinggang Eil dan juga menekan tengkuk istri cantiknya supaya Eil tidak bisa berontak dan tidak bisa kabur.


Brukkkkk.. Nathan membaringkan tubuh Eil di sofa, tubuh kekar nya sudah menghim pit tubuh mungil Eil. "Nathan kau berat," ucap Eil. Dia berusaha untuk mendorong Nathan tapi Nathan malah semakin mendekatkan wajahnya sampai bibir mereka kembali bertaut.


Lima menit pemanasan, Eil sudah mulai terbiasa. Nathan mengangkat sedikit tubuhnya supaya dia tidak lagi menekan Eil. Suara de sa han dan suara deca pan kian memanas.


"Nathan! Ahhhh.... Kau sangat panas Sayang," ucap Eil sambil mengelus punggung Nathan di balik kaos yang di kenakan suaminya itu. Eil melirik sesuatu yang ada di bawah meja. Dia sengaja membuat suaranya lebih merdu agar Bara bisa mendengarnya dan semakin terbakar api cemburu. Siapa suruh dia menyimpan penyadap suara di rumah pengantin baru. Sekarang tahu rasa kan.


Nathan menurunkan kain yang menutupi bagian atas tubuh istrinya. Baru juga dia menundukkan kepalanya, suara bel di rumahnya sudah berbunyi. Mau tidak mau Nathan menghentikan aktifitasnya. Dia mendengus lalu berjalan ke arah pintu.


"Kau tunggu di sini! biar aku yang membuka pintunya," ucap Nathan sambil berlalu pergi.


Tiga puluh menit kemudian, susana di ruang tamu terlihat masih sangat canggung. Nathan masih terus memincingkan matanya melihat orang-orang yang sangat tidak dia sukai ada di dalam mansionnya. Bahkan Lukas dan Alard juga ada di sini.


"Nathan," panggil Eil sambil menyenggol lengan suaminya.


"Ekhemmm.. Kalian bermainlah. Aku akan ke kamar dulu sebentar," ucap Nathan.


Selepas kepergian Nathan, semua orang mulai berbicara dengan santai. Bahkan Alard yang tadinya diam kini mulai banyak mengoceh dan bermain kesana kemari.


"Mommy!" panggil Alard. Eil merentangkan kedua tangannya. Alard pun menyambut nya dengan langsung menghambur ke pelukan Eil.


"Mommy! Alad kangen Mommy. Mommy kenapa jarang main ke rumah Alad dan Kakek?"


Eil mengelus kepala Alard lembut. "Banyak pekerjaan yang harus Mommy urus sayang. Tangan Mommy juga terluka," ucap Eil . Dia memasang wajah sedihnya supaya Alard bisa mengerti dengan apa yang dia katakan. Mungkin Eil sedang menarik simpati Alard.


"Tangan Mommy terluka? sakit ya? sini Alad tiupin Mommy." Alard menarik tangan Eil kemudian meniupi tangan itu dengan telaten. "Cepat sembuh Mommy. Alad sedih kalau Mommy terluka seperti ini."


"Mommy tidak apa-apa sayang. Mommy baik-baik saja."


Eil melirik Amber yang sedang duduk di depannya. Ada apa dengan bocah itu? bukankah kemarin dia sangat antusias? kenapa sekarang malah diam. Dia seperti sedang memikirkan sesuatu, tapi Eil juga melihat semburat merah di wajah Amber. Sebenarnya apa yang sedang terjadi?...


"Amber!" panggil Eil..


Amber terperanjat, dia yang tadi sedang mencuri pandang pada Lukas kini mengalihkan perhatiannya pada Eileria.


"Iya Kak?"....


"Kau baik-baik saja bukan?"


"Aku baik-baik saja Kak."


Lagi-lagi Amber melirik ke arah Lukas. Sementara pria yang di lirik Amber, sedang fokus memperhatikan Eileria.


Sungguh ribet bukan?..😁🙏


...To Be Continued....