The Veil of Eileria

The Veil of Eileria
Dilema



"Maksudmu Bara sudah mulai mencari wanita untuk dia jadikan istri atau bagaimana? Jangan membuatku penasaran Nathan!"


Nathan menarik pinggang Eileria lalu memeluknya. "Ini belum pasti, aku tidak sengaja mendengar dia menelpon kepada seseorang dan menyuruh orang itu untuk mengawasi satu wanita, tapi aku tidak tahu namanya siapa, yang pasti, wanita itu bukan wanita biasa."


Eileria mengangguk. Terserahlah dia mau wanita biasa wanita luar biasa atau wanita jadi-jadian, atau apapun itu. Selama Bara tidak kembali seperti dulu, dia akan sangat senang untuk itu. Lagipula Eil sudah tidak terlalu tergantung pada Bara, kalaupun Bara akan menikah besok, Eil sudah ikhlas.


"Nathan itu Sulli dan Jerome!" tunjuk Eil ketika mereka sudah sampai di parkiran rumah sakit.


Nathan mengikuti arah pandang Eil, dia segera membuka pintu, sementara sopirnya buru-buru keluar untuk mengeluarkan kursi roda Eil.


"Eileria!" Sulli berteriak lalu berlari menghampiri sahabat baiknya.


"Aku pikir kau tidak akan datang," ucap Eil kepada Sulli. Dia mendorong bahu Nathan setelah laki-laki itu mendudukkannya di atas kursi roda.


"Biarkan aku yang mendorongnya," pinta Sulli kepada Nathan. Mau tidak mau Nathan mengangguk dan membiarkan Sulli membantu Eil masuk ke dalam lift.


"Sabar Bro, cewek itu memang begitu, dia akan lupa sama kita kalau udah ketemu sama bestienya."


Nathan mendengus. Dia menghempaskan tangan Jerome yang tadi menempel di bahunya. "Kapan kau akan menikahi Sulli Jerome?" tanya Nathan berusaha untuk menyudutkan Jerome.


Jerome tersenyum, lalu berbisik di telinga Nathan.


"What?" Nathan memekik dengan mata membulat sempurna. "Kau gila, kenapa secepat itu?" tanya Nathan yang ternyata gagal membuat Jerome terpojok karena nyatanya laki-laki itu sudah mempersiapkan pernikahan sejak lama.


"Jangan berisik. Kami belum memberi tahu orang lain tentang masalah ini."


Nathan menggelengkan kepalanya. Dia tidak habis pikir, kenapa Jerome selalu membuat kejutan dengan rencana yang tidak pernah terduga. Acara lamaran mendadak, sekarang acara pernikahan juga mendadak. Kenapa Jerome sangat suka hal-hal dadakan.


*Kalau Jerome tinggal di Indo, dia pasti bakal suka banget tahu bulat.🤣🤣


"Sudahlah! Aku dan Sulli berencana untuk memberi tahu yang lain setelah persiapan kami 70%. Sebelum itu, jangan pernah berpikir untuk memberitahu orang lain."


"Kak Jerome!" panggil Amber. Dia turun dari atas ranjang lalu berjalan mendekati Jerome dan memeluknya. Amber sudah terbebas dari selang infus, jadi dia sudah lebih leluasa untuk bergerak.


"Kenapa sangat antusias seperti ini heum? Kau sedang bahagia?" tanya Jerome membalas pelukan Amber dan mengusap kepala adik semata wayangnya itu lembut.


"Aku senang karena kalian akhirnya datang, aku sempat berpikir kalau kalian tidak akan menemui ku hari ini."


"Kita tidak mungkin tidak datang Amber. Kita sudah janji," jawab Eil muncul dari balik punggung Jerome dan Nathan, tadi dia sempat ke kamar mandi dulu dengan Sulli, jadi Jerome dan Nathan sampai lebih dulu di kamar rawat Amber.


"Kak Eil, Kak Sulli!" panggil Amber memeluk Amber dan Sulli bergantian.


"Apa kau sendirian di sini?" tanya Sulli melihat sekeliling namun tidak ada siapapun.


"Alard dan Ayah sedang ke kantin rumah sakit."


Mereka semua mengangguk mendengar jawaban dari Amber. "Lukas kemana?" tanya Jerome dengan wajah dinginnya.


"Mungkin dia sedang mengurus berkas-berkas untuk kepulangan ku nanti sore Kak."


Semua orang yang ada di kamar itu menoleh begitu mendengar pintu terbuka.


"Kalian akhirnya datang juga, tadi Amber sempat sedih karena menunggu kalian terlalu lama," ujar Darius.


"Maafkan kita Ayah, tadi Nathan ada sedikit urusan."


Hampir dua jam mereka semua bercengkrama dan sesekali tertawa karena ulah Sulli yang selalu mengeluarkan kata-kata ajaib dari dalam mulutnya.


Sementara di luar ruangan, Lukas menempelkan telinganya ke pintu kamar rawat Amber. Dia sangat ingin bergabung dengan keluarganya namun dia takut kalau Amber akan kembali marah padanya. Dia ikut tersenyum saat mendengar gelak tawa dari orang-orang yang ada di dalam ruangan itu.


Krieetttt ...


Lukas terkejut. Dia langsung berdiri dengan tegak dan pura-pura menempelkan ponsel di telinganya.


"Iya, akh, baiklah, aku akan mulai bekerja besok," ucap Lukas pada orang di sebrang telepon yang sebenarnya orang itu hanya ilusi.


"Ponselmu terbalik Lukas," ucap Nathan. Dia ingin sekali menjitak kepala Lukas dan memasukan kepala adiknya itu kedalam sumur. Lukas pikir Nathan bodoh sampai dia tidak tahu kalau Lukas sedang berbohong untuk menutupi kegugupannya.


"Kak!" gumam Lukas menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Aku ingin berbicara dengan mu Lukas!" Nathan berbicara dengan suara dinginnya.


Lukas mengikuti Nathan yang sudah berjalan lebih dulu darinya. Beberapa menit kemudian, mereka berhenti di atap rumah sakit, lebih tepatnya di rooftop rumah sakit itu.


"Aku ingin bertanya padamu Lukas, sebaiknya kau menjawab pertanyaan ku dengan jujur!"


Lukas diam, dia hanya fokus mendengarkan apa yang sedang Nathan katakan. "Kau mencintai Amber atau tidak?" tanya Nathan kembali.


Lukas menoleh, dia belum menjawab pertanyaan Nathan. Dia sendiri bingung apakah dia mencintai Amber atau tidak, dia sendiri tidak tahu, saat ini dia memang sudah berniat untuk membuka hati untuk Amber, namun itu belum tahu tentang perasaanya sendiri.


"Kalau kau tidak bisa mencintai Amber, sebaiknya kau ceraikan dia Lukas! Jangan memberikannya harapan yang tidak pasti, dia sudah banyak berkorban untuk mu. Jangan membuat hatinya hancur Lukas. Lepaskan dia, biarkan dia bahagia."


"Aku tidak bisa Kak, aku tidak bisa meninggalkan Amber, tidak akan."


Settttt ...


Nathan menarik kerah baju yang dikenakan Lukas. Dia menatap netra Lukas tajam. "Apa yang kau inginkan sebenarnya Lukas? Kau tidak bisa mencintai Amber tapi kau juga tidak mau meninggalkannya? Kau pikir kau siapa berhak menyakiti Amber seperti itu?"


"Aku bukan tidak mencintai Amber, aku hanya sedang berusaha Kak. Kau juga butuh waktu sampai kau mencintai Kak Eil seperti sekarang. Beri aku waktu! Aku janji, aku akan memperlakukan Amber dengan baik. Aku tidak akan menyakiti nya lagi."


Nathan melepaskan cengkraman tangannya. "Bajingan kau Lukas. Kau sudah berjanji untuk tidak menyakiti Amber lagi, kalau sampai Amber menitikan air matanya karena kau, bukan Jerome yang akan menghabisi mu tapi aku."


Nathan meninggalkan Lukas yang masih mematung di pinggiran pembatas rooftop. Laki-laki itu menatap hiruk pikuk kota yang saat itu terlihat sangat ramai. Perlahan, dia menarik napas panjang lalu menghembuskan nya berat.


"Haruskah aku meninggalkan mu Amber? Apakah kau akan benar-benar bahagia kalau aku pergi dari hidupmu?


Dilema yang Lukas rasakan saat ini membuatnya sangat bingung, orang-orang terdekatnya sudah menyuruh dia untuk meninggalkan Amber, namun hati kecilnya terus menolak.


"Bantu aku Amber, jalan mana yang harus aku pilih?"


...To Be Continued....