The Veil of Eileria

The Veil of Eileria
Kesempatan Yang Hilang



Apa sebesar itu kah rasa cintaku padamu Eil, aku bahkan bisa merasakan sakit yang sedang kau rasakan."


Brakkkkkk....


Pintu ruang rawat itu terbuka. Nathan datang dengan langkah tergesa nya. Dia bahkan masih mengenakan seragam kerja, namun atasannya hanya menggunakan kaos hitam saja.


"Eil, Baby!" panggil Nathan menghampiri ranjang sang istri. Wajah Eil masih sangat pucat. Bahkan bibir ranumnya juga tidak berwarna sekarang. Istri kecilnya yang selalu ceria kini berbaring tidak berdaya.


Nathan meraih tangan Eil yang terbebas dari selang infus. Dia menciumi tangan itu dan mengusapnya lembut. Nathan sungguh menyesal karena dia tidak bisa melindungi istrinya dengan baik.


"Dia akan baik-baik saja Nathan. Kau tidak perlu khawatir. Eil bukan wanita lemah, kau juga tahu itu. Luka tembakan yang ada di lengannya tidak akan berati apapun untuk Eil."


Nathan mendongak ke arah Daniel. "Sebenarnya apa yang terjadi Daniel? kenapa Eil bisa tertembak seperti ini?" tanya Nathan. Dia memang tidak menyukai Daniel. Tapi untuk saat ini dia membutuhkan penjelasan dari laki-laki yang ada di hadapannya ini.


"Aku tidak tahu apapun Nathan. Eil datang dengan kondisi yang sudah seperti ini. Dia masih belum sadarkan diri, jadi aku juga belum menanyakan apapun padanya."


Nathan menarik nafasnya berat. Kalau begitu dia harus menunggu Eil siuman untuk menanyakan segalanya.


"Karena kau sudah ada di sini, aku akan keluar sekarang," ucap Daniel berlalu pergi dari ruangan itu.


"Terimakasih Daniel," ucap Nathan. Daniel hanya tersenyum. Dia membuka pintu ruang rawat Eil lalu keluar dari sana.


"Baby! cepat sadar sayang. Kau harus cepat sembuh. Jangan membuatku khawatir seperti ini."


Cup...


Nathan mengecup kening istrinya sekilas lalu agak menjauh dari ranjang Eil.


"Halo Aami!"


"Tuan, mansion Tuan di serang. Apa Nyonya Eil ada bersama Tuan? tadi ada orang yang menyelamatkan kami, Tuan, Nona Lily. Nona Lily meninggal."


Deg...


Jantung Nathan berpacu sangat kencang. Lily meninggal? mansion-nya di serang ? tapi kenapa? setahu Nathan dia tidak memiliki musuh. Lalu siapa yang menyerang Eil bahkan membunuh Lily.


"Aku tidak bisa pulang untuk sekarang Aami. Eil terluka, aku harus menjaganya."


Terdengar sura khawatir Aami di sebrang telepon. " Saya berharap Nyonya akan selalu baik-baik saja Tuan. Tuan tidak usah khawatir, saya dan para pelayan yang selamat akan membereskan mansion sebelum Tuan dan Nyonya kembali."


"Baiklah Aami, terimakasih."


"Nathan!" panggil Eil lembut. Ya, dia baru saja membuka matanya dan melihat sosok Nathan berdiri tak jauh dari ranjang tempatnya berbaring.


Nathan menoleh, dia langsung berjalan dengan tergesa untuk menghampiri Eil.


"Kau sudah sadar Baby?" tanya Nathan sambil menelisik setiap bagian dari wajah dan tubuh istrinya.


Eil tersenyum tipis. "Jangan mengkhawatirkan ku seperti itu Nathan, aku baik-baik saja," ucap Eil lemah. Dia memang tidak suka jika melihat orang lain memperlakukannya dengan cara berlebihan seperti ini.


"Bagaimana mungkin kau baik-baik sja, kau tertembak dan tadi tidak sadarkan diri. Kenapa kau masih bilang kalau kau baik-baik saja?"


"Kalau aku bilang aku baik-baik saja, berarti aku baik-baik saja Nathan."


Nathan menurut. Dia tidak mau mendebat Eil sekarang. Kondisi istrinya masih sangat lemah, Nathan tidak mungkin membiarkan Eil terlalu banyak bicara. Itu akan membuang-buang tenaganya.


"Sebenarnya apa yang terjadi Baby?" tanya Nathan.


Eil diam untuk sesaat. Dia bingung harus mengatakan apa. Apa ini waktu yang tepat bagi Eil untuk menceritakan segalanya.


"Nathan sebenarnya aku...."


****


Dor....


Bara benar-benar brutal. Dia tidak punya hati nurani sama sekali. Bahkan kepada seorang perempuan pun dia sangat kejam. Sebenarnya Bara ini manusia atau iblis, kenapa dia bisa se dingin ini saat menyiksa orang lain.


"Kau berani menggunakan Ayahmu untuk membunuh wanita ku Belle?" sarkas Bara. Dia menatap Belle tajam. Belle yang terikat pada sebuah papan bulat besar dengan kedua tangan dan kakinya yang terikat hanya bisa diam. Sungguh, siksaan yang telah Bara berikan kepadanya sudah sangat cukup untuk membuat Belle hilang kesadaran.


Dor...


Satu peluru lagi melesat dan menembus telapak kaki Belle.


"Kau pikir aku main-main dengan ucapan ku Belle? kau ini bodoh atau idiot. Kau pikir Eil orang seperti apa? bahkan jika aku tidak membantunya pun, kau tidak akan sanggup membunuhnya. Kau tahu Eil itu siapa?" tanya Bara dengan seringai di wajahnya. Dia mendongakkan wajah Belle supaya Belle bisa melihat pergerakan bibir nya dengan jelas.


"Dia itu Angel of Death Belle, dan kau berani mengusik nya. Ck, kau sungguh idiot."


Belle membulatkan matanya tidak percaya. Bagaimana mungkin, seorang Eileria yang memiliki perawakan kecil dan juga wajah yang cantik dan manis seperti itu memiliki latar bekang seperti ini, ini sungguh tidak masuk akal.


Syuhhhhh... Bara menghempaskan wajah Belle dengan kasar.


Sekarang terima saja apa yang akan kau dapatkan Belle. Aku sudah tidak membutuhkan mu lagi. Kau ini seorang idiot. Aku menyesal karena telah bekerja sama dengan orang bodoh sepertimu."


"Kalian bisa melakukan pekerjaan kalian," ucap Bara pada orang-orang nya. Bara pergi dari ruangan gelap itu. Hanya ada satu penerangan, dan itu terletak di atas kepala Belle. Jadi hanya dia lah yang terlihat di dalam ruangan gelap itu.


Brakkkkkk....


Dor..


Dor....


****


Kembali ke rumah sakit...


Eil menatap Nathan dalam. Dia mungkin harus menjelaskan ini semua sekarang, kalau tidak, Eil tidak akan memiliki kesempatan lain, dia akan sangat takut untuk mengatakan semua kebenarannya .


"Nathan sebenarnya aku..."


Brakkkkkk...


Ruang rawat itu terbuka dari luar. Amber, Alard, Lukas dan Darius masuk tanpa memperdulikan Nathan yang hendak memangsa mereka karena telah membuat keributan dan membuat Eil-nya terkejut.


"Mommy!... Mommy kenapa? Mommy baik-baik saja bukan?" cerocos Alard sambil berusaha untuk melihat wajah Eil. Karena dia memang masih belum terlalu tinggi, dia sedikit kesulitan.


Lukas yang melihat itu memangku Alard dan mendudukkannya di atas ranjang Eil.


"Mommy gak papa Sayang. Mommy hanya sedikit terluka," ucap Eil tersenyum kepada Alard.


"Sebenarnya apa yang terjadi Eil? kenapa kau bisa terluka seperti ini?" tanya Lukas.


"Dia tidak bisa menjelaskan apapun sekarang Lukas, dia masih harus banyak beristirahat. Kenapa kalian datang tiba-tiba seperti ini? kalian itu menganggu," cicit Ntahan. Dia menatap Lukas, Darius dan Alard tidak suka.


"Kau itu sangat posesif Nathan. Kita hanya ingin melihat kondisi Eil. Kenapa jadi kau yang marah?" ucap Darius pada Nathan.


Nathan mendengus. Dia sangat tidak menyukai ayahnya itu. Kenapa Darius harus membawa Lukas , Alard bahkan Amber ke sini.


Alard menatap Nathan sengit. "Ini semua gara-gara Om Nathan. Kenapa Om Nathan tidak bisa menjaga Mommy Alad dengan baik? kalau begitu, biar Dady saja yang menjaga Mommy."


Semua orang di ruangan itu terkejut mendengar ucapan Alard. Bocah kecil itu selalu membuat mereka ternganga dengan ucapan polosnya.


"Sekarang kesempatan ku sudah hilang," gumam Eil dalam hati.


...To Be Continued....