The Veil of Eileria

The Veil of Eileria
Amber dan Jerome



Bughhhhh...


Brruughhhhh....


Seorang laki-laki yang hendak memegang tangan Eil, tersungkur ke tanah saat wanita itu menendang perutnya dengan kekuatan penuh.


"Kemarilah!" tantang Eil pada laki-laki breng sek yang lainya. Laki-laki itu mendengus dan..


Seetttttt


Bughhhh...


Brukkkkk...


Preman itu juga tersungkur di lantai. Laki-laki yang lain hendak maju , untuk melawan, namun dengan sigap Eil menarik kaos bagian atasnya. Bibir Eil tertarik ke atas, wanita itu tersenyum mengejek.


"Masih mau melawanku hah? masih tidak ingin pergi?" Eil berbicara sambil melirik orang-orang itu satu persatu.


"Ampun Nona, saya akan pergi," ucap orang yang kerah bajunya masih di cengkram Eil.


Eil melepaskan cengkramannya, dia berjalan mendekati wanita yang kini masih meringkuk memeluk kedua lututnya.


"Are you oke?" tanya Eil sambil memegang bahunya.


Namun, Eil tidak tahu, kalau para preman tadi masih di sana, dan salah satu dari mereka, membawa sebilah pisau kemudian mengarahkannya pada Eil .


Sreeettttt


pranggg...


Eil, berhasil menghindar, wanita itu meraih pergelangan tangan laki-laki yang hendak menyerangnya, lalu memelintirnya sampai laki-laki itu meringis kesakitan.


"Masih belum menyerah hah? masih mau melawanku? baiklah, coba terima ini.


Bughhhhhh...


Brrukkk...


Laki-laki itu kembali tersengkur di atas trotoar.


Tap.


Tap.


Tap.


Seettt...


Eil mengangkat kaki kanannya, lalu menginjak dada laki-laki itu sambil menekan dan memutar kakinya perlahan, dia membungkukan badannya lalu menatap lekat mata preman itu.


"Kau beruntung, aku bukanlah orang yang taat hukum, jika saja kau apes hari ini. Aku yakin, rohmu pasti sudah pergi meninggalkan ragamu yang kotor ini."


Laki-laki itu meringis, dia memegang kaki Eil dengan kedua tangannya, berusaha untuk menahan kaki Eil supaya tidak menekan terlalu keras. Namun usahanya sia-sia , karena nyatanya tenaga Eil tidak bisa dibandingkan dengan tenaga wanita pada umumnya.


"Kalian juga mau?" tanya Eil pada dua orang yang sedang memperhatikan mereka tak jauh dari tempatnya berdiri sekarang, orang-orang itu bergidik ngeri kemudian berlari kabur meninggalkan teman mereka yang masih jadi sandra Eil.


"Cihhh, gitu aja udah ngibrit, dasar banci. Sana susul temen lemah mu!" Eil menendang dada laki-laki itu sambil berdecak pinggang.


Tanpa ba, bi, bu, laki-laki dengan wajah sangar dan tubuh kekar bak binaragawan itu langsung ngacir ketakutan. Sungguh tidak sebanding jika di bandingkan dengan perawakan Eil yang kecil, namun memang masih cukup tinggi kalau di bandingkan dengan orang Asia.


Wanita yang tadi menunduk, kini mengangkat kepalanya dan menatap Eil dengan mata yang sudah merah karena terlalu lama menangis.


"Kakak mau mengantarku?" tanya wanita itu yang ternyata jika di lihat dengan seksama dia masih kecil, mungkin belum sampai menginjak usia 20han.


"Aku akan mengantarmu. Ayo!" ajak Eil mengulurkan tangannya.


Gadis kecil itu meraih tangan Eil dan menggenggamnya dengan erat. Dia bergelayut di lengan Eil seperti anak tk yang takut ketika akan menyebrang jalan. Mungkin dia pikir Eil adalah ibunya. 😁


Setengah jam kemudian, Eil telah sampai disebuah apartemen milik gadis yang ditolongnya tadi.


"Amber!" panggil seseorang dari belakang Eil dan Amber. Mereka berdua menoleh, dan saat itu juga, Amber berlari menghampiri sosok laki-laki tampan yang membawa sekantong belanjaan di tangannya.


"Kakak, kau habis belanja?" tanya Amber dalam pelukan kakaknya.


"Iya, itu siapa?" tunjuk kakak Amber dengan dagunya pada Eileria.


Amber melepas pelukannya, kemudian berjalan mendekati Eil dan menariknya untuk mendekat ke arah kakaknya.


"Ini kak Eileria kak. Teman baru amber," cengir gadis itu sambil bergelayut manja di lengan Eil.


"Hai, aku Eileria," ucapnya, menyodorkan tangan kepada laki-laki yang ada di hadapannya.


"Aku Jerome, kakak dari Amber," ucapnya menjabat tangan Eil dengan tangannya yang bebas dari barang belanjaan.


"Ya sudah, Amber sudah aman. Aku pamit pulang dulu. Ini sudah hampir malam," ucap Eil , yang memang sudah ingin pergi dari tadi.


"Terimakasih Kak, lain kali mampir ya, aku akan menghubungi kak Eil nanti."


"Ya sudah, aku pergi," Eil melambaikan tangannya pada Amber.


Jerome mengerutkan keningnya bingung, dia ingin bertanya namun, orang yang ingin ditanyainya sudah melesat pergi lebih dulu. Laki-laki itu berfikir kenapa adiknya bisa memiliki teman yang sudah pasti tidak sebaya dengan adiknya, Amber.


"Amber, kau harus menjelaskan semuanya kepada kakak, siapa dia? dan bagaimana kamu bisa mengenalnya?" Jerome bertanya sambil menarik tangan adiknya untuk segera masuk kedalam apartemen.


"Dia, Kak Eil kak, tadi aku di ganggu preman breng sek di jalan, dan kebetulan kak Eil lewat, jadi dia menolongku. Kak Eil hebat sekali, dia seorang wanita tapi tidak takut pada para preman itu, padahal perawakan kak Eil jelas kalah jika dibandingkan dengan 3 laki-laki yang tadi berusaha melecehkanku," Amber terus berceloteh tanpa memperhatikan kakaknya, yang kini sudah menjatuhkan semua barang belanjaan yang tadi dipegangnya.


"Kau diganggu para preman Amber? kau tidak apa-apa bukan? mana yang sakit apa mereka melukaimu?" Jerome bertanya dengan wajah panik sambil membolak balikan tubuh Amber, menelisik setiap bagian dari tubuh adiknya itu, karena takut adiknya terluka.


Amber memutar bola matanya malas, dia sudah biasa dengan sikap posesif kakaknya yang seperti ini. Andai saja tadi dia juga tidak bersikeras untuk pulang sendiri dari tempat lesnya. Dia tidak mungkin berakhir seperti tadi.


"Kak, aku tidak apa-apa. Aku sudah bilang, kak Eil menolongku. Untunglah ada kak Eil, kalau tidak aku tidak akan mungkin pulang hari ini."


"Astaga Amber. Kakak tidak pernah mengijinkanmu pulang sendiri bukan karena kakak tidak mempercayaimu. Tapi lihatlah, sekalinya kakak memberimu ijin, apa yang terjadi. Bersyukur karena tadi ada yang menolongmu. Kalau tidak, .., Jerome menghentikan kata-katanya. Laki-laki itu menghela nafas panjang sambil menarik rambutnya kasar.


Hiksss, aku juga tidak tau kalau semuanya akan menjadi seperti ini. Aku sangat takut, hiksss, kenapa kakak malah hikss memarahiku.. Hiksss," Amber berbicara sambil menangis tersedu-sedu.


"Maafkan kakak Amber, seharunya ini tidak terjadi. Ini salah kakak. Maafkan kakak, kamu pasti sangat ketakutan, maafkan kakak Amber," Jerome memeluk adiknya dan mengusap kepala Amber dengan lembut. Dia marah bukan karena dia sedang kesal. Tapi dia takut ,hal buruk akan menimpa adik semata wayangnya. Hanya Amber yang dimiliki Jerome setelah kedua orang tua mereka meninggal. Jadi dia akan sangat terluka kalau sampai terjadi sesuatu pada Amber.


Amber menganggukkan kepalanya dalam dekapan Jerome, dia juga sangat tahu kalau kakaknya itu membentaknya bukan karena sedang memarahinya. Jerome pasti sangat ketakutan mendengar adiknya hampir dilecehkan para preman.


"Maafkan aku Kak," ucap Amber lirih.


To Be Continued.


Jangan lupa like dan komennya reader. Thank You.