
Flashback
Belle dan Jay sedang bersiap untuk melakukan penyerangan. Mereka sudah siap dengan segala senjata yang sudah mereka siapkan dari jauh-jauh hari.
"Apa semuanya sudah siap?" tanya Belle pada anak buahnya.
"Siap Bos."
Selama sebulan ini Belle semakin mahir menggunakan pistol karena Jay melatihnya dengan sangat giat. Belle sudah memiliki dasar-dasar menembak menggunakan pistol atau yang lainnya. Hanya saja karena selama ini dia sibuk dengan kehidupan percintaannya, dia meninggalkan semua kegiatan-kegiatan yang menyangkut ilmu bela diri dan sebagainya.
Drtzzzzz... Drtzzzzz...
"Halo Dragon!" panggil Belle kepada orang di sebrang telepon.
"Kita batalkan rencana awal kita Belle. Eil sepertinya akan datang ke tempat mu sebentar lagi. Jangan lakukan apapun sebelum aku memberikan kalian instruksi. Dan ingat, jangan pergi dari tempat mu."
"Baiklah, aku mengerti."
Belum ada 10 menit sejak Belle menutup teleponnya. Dia sudah mendengar sebuah helikopter mendekat ke area rumah Jay. Dia keluar ingin memastikan apa yang Dragon merubah rencana. Sepertinya baru beberapa menit yang lalu Dragon menelponnya dan memintanya untuk tetap di tempat. Tapi sekarang dia sudah ada di dekat rumah Jay.
Duarrrr...
Belle maupun Jay terpental ke belakang saat bangunan yang ada di depannya tiba-tiba meledak dalam hitungan detik.
"Berlindung Belle!" titah Jay pada Belle yang sekarang sedang berusaha untuk berdiri. Jay dengan segera mengambil pistol dan beberapa senjata yang mungkin xia perlukan.
"Itu bukan Dragon Jay. Sepertinya itu Eileria. Dia sudah mulai menyerang kita. Sepertinya Dragon tidak tahu kalau wanita licik ini sudah bergerak sebelum Dragon memerintah nya. Kita harus menunggu Dragon. Aku yakin dia akan datang dan menggagalkan rencana Eileria.
Jay maupun Belle mencari tempat berlindung. Mereka harus memastikan sesuatu pada Dragon. Hampir saja mereka mati karena sebuah bom yang Eileria jatuhkan.
"Aku harap kau tetap ada di pihak kita Dragon," ucap Belle. "Kalau sampai kau mengkhianati ku, aku akan berdoa semoga kita bisa masuk ke neraka bersama-sama."
Mereka sesekali melihat orang-orang yang mereka pekerjakan. Sebagian dari mereka sudah tumbang dan terkapar di atas reruntuhan bangunan. Sementara yang lain masih sibuk menyerang dan menghadang musuh untuk pergi lebih jauh ke dalam rumah milik Jay itu. Sebenarnya di banding sebuah rumah, itu lebih terlihat seperti sebuah vila.
Tak Tak Tak
Jay dan Belle menoleh.
Dor...
Belle tercengang. Dia menatap Dragon tidak percaya. Jay terlentang di atas lantai yang sudah di penuhi debu serta semen dari sisa-sisa kehancuran bangunan itu. Jay terlentang dengan mata yang terbuka. Sementara keningnya sudah berlubang. Dragon membunuh Jay. Berarti dia tidak pernah ada di pihak Jay maupun Belle.
"Jay!" teriak Belle merengkuh tubuh laki-laki itu sambil menggoyangkan bahunya beberapa kali. Orang yang selalu ada di sisi nya , satu-satunya orang yang selalu mendukung apa yang dia lakukan kini telah pergi untuk selama lamanya.
"Apa yang kau lakukan Dragon!"
Namun, belum sempat dia menarik pelatuknya, Dragon sudah lebih dulu meloloskan peluru.
Dorrrr....
"Dragon!" panggil Eileria ketika melihat Dragon sedang memegang pistol dengan Jay dan Belle yang sudah tergeletak tak bernyawa. Kening kedua orang itu berlubang. Bahkan wajah Dragon sudah di lumuri darah yang menyiprat dari luka yang ada di kepala Jay dan Belle.
"Kau sudah datang Eileria!" ucap Dragon dengan wajah dingin. Dia membersihkan darah yang ada di wajahnya menggunakan sapu tangan. Gelagatnya seperti orang yang tidak pernah melakukan kesalahan. Dia sangat santai seolah Jay dan Belle hanyalah bintang yang nyawanya tidak berharga.
"Dragon kau juga tahu kalau Belle ada di sini?"
Dragon tersenyum menyeringai. Dia menarik pelatuknya lagi dan...
Dorrr....
Dragon menembak paha Eileria membuat wanita cantik itu ambruk dan tidak bisa bertumpu pada kakinya lagi.
"Maafkan aku Eileria. Hidup tidak selalu indah. Apa yang kau lihat tidak selalu seperti yang terlihat. Aku sudah pernah mengatakan untuk jangan mempercayai siapapun meskipun itu orang yang yang paling baik dan paling dekat dengan mu.
"Kau bajingan Dragon!" Eileria berucap sebelum kehilangan kesadaran.
"Tinggal satu langkah lagi, dan aku akan menjadi orang terkaya dan orang yang berkuasa di dunia ini."
Setelah kejadian di mana dia meminta Bara untuk memberikannya akses ke pulau yang di tumbuhi berbagai jenis bunga narkotika yang Bara tanam, Dragon mulai menguasai pulau itu dan juga seluruh pekerja yang ada di sana. Dia menjadikan anak buah Bara budak dengan meminta mereka untuk kerja siang dan malam tanpa henti.
Dragon seperti sedang mengejar sesuatu seperti orang gila. Dia bahkan mempekerjakan ilmuan lebih banyak untuk mengekstrak dan menjadikan bunga narkotika milik Bara menjadi berbagai jenis narkoba dengan bentuk dan rasa yang berbeda.
"Masukan semua barang-barang itu ke dalam kapal!" titah Dragon pada orang-orang yang dia perbudak. Mereka memasukan kardus-kardus itu ke dalam kapal berukuran sangat besar. Dragon terus memantau pekerjaan mereka. Dia tidak ingin melewatkan detail terkecil pun. Dia harus memastikan semuanya aman dan dia akan mendapatkan banyak uang dari sana.
Seseorang berbisik pada orang yang lain. Ini sudah hampir malam, dan pekerjaan mereka belum sepenuhnya selesai. Mereka sengaja mengulur waktu supaya mereka bisa mengelabui Dragon dan pergi dari pulau itu diam-diam.
Dan malam hari ketika orang-orang yang di pekerjakan Dragon sedang sibuk mengepak barang dan juga memindahkannya ke dalam kapal, orang-orang Bara mulai pergi dari pulau itu satu per satu. Mereka memakai alat selam dan masuk ke dalam air laut yang dingin. Mereka tidak mempermasalahkan suhu dingin dari air laut itu. Asalkan mereka bisa hidup dan tidak di perbudak, mereka akan melakukan segala cara untuk bisa keluar dari pulau itu.
Tepat saat Dragon akan masuk ke dalam kapal besar itu, sebuah bom meledak membuat hampir sebagian dari pulau itu hancur. Api besar menyala. Asapnya seperti awan hitam yang menutup seluruh pulau.
Flashback off
"Dia sudah mati Eil."
Eileria mengangguk. Dia tahu kalau Bara pasti akan melakukan hal ini. Bara memang selalu bisa di andalkan kalau untuk hal bunuh membunuh. Eil tahu Bara menyukainya. Tetapi, dia harus bisa pura-pura tidak tahu agar hubungannya dengan Bara tidak canggung. Dia memutuskan untuk berhubungan baik dengan laki-laki yang kini masih berjongkok di hadapannya.
"Nathan, kalau kita pindah, ajak Bara juga ya!"
To Be Continued.