The Veil of Eileria

The Veil of Eileria
Melow nya Hati Seorang Mafia



Nathan masih melamun sambil berkendara. Dia masih terngiang-ngiang dengan ucapan Eileria padanya. Wanita cantik itu masih menolak untuk kembali. Meskipun dia berjanji kalau dia akan tetap berhubungan dengan Nathan meskipun hanya dari ponsel, Nathan masih merasa khawatir. Dia hanya ingin Eil-nya ada di sampingnya ,tapi kenapa itu sangat sulit.


Nathan meminta Eil untuk kembali agar dia bisa memantau dan juga menjaga Eil. Tapi kalau seperti ini caranya, dia akan ke kesulitan untuk melakukan semua itu.


"Sebenarnya apa yang sedang kau sembunyikan Eileria? aku sudah berusaha untuk membawamu kembali , tapi kau malah seperti ini. Sekarang apa yang harus aku lakukan? haruskah aku menunggumu sampai kau menyelesaikan semua masalahmu? tapi sampai kapan? sampai kapan aku harus menunggu?"


Nathan memukul stir mobilnya dengan keras. Dia merasa sakit hati karena permintaan nya di abaikan. Meskipun Nathan sangat mencintai Eileria, dia tetap laki-laki yang sebenarnya kata-kata nya ingin di dengar.


Kali ini Nathan akan membiarkan Eil pergi dan menunggu sampai batas waktu tertentu. Tapi kalau sampai Eil terlalu lama mengabaikan nya, dia akan menyeret paksa Eil.


Salah kan dia yang terlalu mencintai sosok Eileria, dia bahkan tidak mau melaporkan atau menyelidiki semua kasus pembunuhan yang di lakukan oleh Eil. Dia masih berharap kalau Eil akan berubah dan akan kembali menjadi Eil yang cantik dan elegan.


"Pergilah selama kau bisa Eil. Karena setelah ini, aku tidak akan membiarkan mu pergi lagi."


Sementara di tempat lain...


Eil tersenyum mengingat bagaimana Nathan memintanya untuk kembali. Sebenarnya dia sangat bahagia sampai dia ingin mengatakan kalau dia akan ikut kembali bersama Nathan.Tapi lagi-lagi pekerjaannya menolak dia untuk melakukan itu. Dia masih harus bertanggung jawab dengan semua rencananya. Dia tidak bisa pergi begitu saja.


"Maafkan aku Nathan. Aku tidak bermaksud untuk menolak muu. Hanya saja aku butuh waktu untuk kembali."


****


Satu jam kemudian, Eil akhirnya sampai di kediaman Bara. Dia belum kembali ke tempat Dragon karena dia ingin menyusun rencana supaya dia dan Bara bisa menangkap Belle. Sekarang wanita licik itu menjadi sangat licin seperti belut. Mungkin ini karena seorang Jay.


Jay adalah seorang mafia yang sudah cukup berpengalaman juga memiliki pengikut yang banyak di negara itu. Dia juga pasti memiliki seorang ahli IT yang akan membantunya memasang ke amanan.


Sebenarnya Eil juga sedang berusaha mencari sistem yang di gunakan Belle dan Jay. Sudah 3 hari dia bekerja , tapi semua hasilnya masih nihil. Belum ada informasi yang dia dapatkan. Dia bahkan masih belum menemukan sistem keamanan milik Belle dan Jay.


"Kau sudah pulang Lea?"


Suara bariton khas Bara membuat Eil yang masih melamun menoleh. Dia tersenyum tipis lalu berjalan melewati Bara yang langsung di ikuti oleh laki-laki itu.


"Kau habis menemui Nathan kan?" tanya Bara lagi.


Eil yang hendak minum segelas air langsung menyimpan gelasnya di atas meja. Dia menatap sangar Bara yang kini sedang menatap dengan dingin.


Bara mengambil gelas yang tadi Eil letakan di atas meja lalu memberikan nya kembali kepada Eil. Eil tersenyum sinis lalu mengambil gelas itu dan meminum isinya.


"Aku melakukan itu karena aku perduli padamu Eil. Aku tidak ingin kejadian sebelumnya menimpamu lagi. Aku sangat menyayangimu, kenapa kau todak bisa mengerti juga?"


Bara menatap lekat Eil yang ada di hadapannya.


Eil tersenyum kecut. Bukankah selama ini dia dan Bara sudah bersepakat kalau hubungannya dan Bara hanya sebatas hubungan antara partner kerja saja. Eil tidak ingin merasa terbebani dengan perasaan Bara kepadanya. Bara juga sudah menyetujui itu, tapi kenapa sekarang sia masih membahas masalah perasaannya.


"Apa kau lupa Tuan Bara yang terhormat. Aku sudah bilang kalau aku tidak mungkin dan tidak akan pernah mencintaimu. Apapun yang terjadi, kau tidak akan pernah mendapatkan cintaku. Aku sudah memiliki orang lain dalam hatiku. Bukankah kau juga sudah menyetujui hal itu? kalau kau tidak bisa memegang janjimu, lebih baik kerja sama kita berhenti sampai di sini saja."


Eil melengos pergi dari hadapan Bara. Belum sempat dia melangkah lebih jauh, Bara menahan lengannya dan memintanya untuk tetap tinggal.


"Maafkan aku Lea. Aku berjanji ini tidak akan terjadi lagi. Aku tidak akan membahas masalah perasaan ku, tapi biarkan aku tetap memantau mu oke! ini aku lakukan hanya untuk memastikan keselamatan mu saja. Aku janji, aku tidak akan ikut campur dengan masalah pribadi mu."


Eil melepas paksa cekalan tangan Bara. Dia memutar tubuhnya lalu mendongak dan menatap langsung mata pria jangkung yang ada di hadapannya itu. Sebenarnya karisma dan rupa Bara memang di atas rata-rata. Meskipun dia sudah ber umur, tapi dia masih tetap memukau. Parasnya sangat tampan, tapi apalah daya, seorang Eiileria sudah menyukai pria lain, dan untuk masalah seperti itu Bara tidak memiliki kuasa apapun.


"Aku akan sangat menghargai apa yang kau lakukan Bara. Tetaplah seperti ini, karena aku tidak akan mau bekerja sama lagi dengan mu kalau kau masih membahas maslah cinta dan perasaan."


Bara mengangguk. Dia tersenyum meskipun hatinya terluka. Sungguh, hanya sosok Eilerialah yang bisa membuat Bara tidak bisa berkutik. Jika dia memegang Eil terlalu erat, Eil akan lepas, dan kalau dia tidak memegangnya Eil akan semakin menjauh. Lalu apa yang bisa Bara lakukan selain menuruti apa yang Eil mau.


"Satu lagi Bara!... Jauhi Nathan! aku tidak ingin kau menganggunya. Dia itu bersih. Dia tidak memiliki hubungan apapun dengan kita. Jangan libatkan dia dalam urusan apapun."


Eil melenggang pergi setelah mengucapkan apa yang harus dia ucapkan. Di sungguh kejam kepada orang yang jelas-jelas dia juga tahu kalau orang itu menaruh hati padanya. Tapi, kalau Eil memberi peluang pada Bara, Bara akan semakin sulit untuk menjauh darinya. Lebih baik dia terus bersikap cuek dan kejam agar Bara mengerti akan posisinya dan tidak akan mengganggu Eil lagi.


"Aku melakukan ini bukan karena aku tidak mampu menghancurkan Nathan Eil. Aku melakukan ini karena aku tidak ingin melihatmu terluka. Aku akan menunggu, aku akan menunggu sampai aku menemukan waktu yang pas untuk membuat perhitungan dengan laki-laki brengsek itu."


Bara menatap punggung Eil . Kini wanita pujaan hatinya sudah menghilang di balik pintu kamar yang ada di rumah itu. Terbersit di hati Bara untuk memiliki Eil seutuhnya dan menjadikan kamar nya dan kamar Eil menjadi satu. Tapi lagi-lagi, kewarasan dan cintanya melarang dia untuk melakukan itu.


"Aku tidak ingin memaksamu melakukan apa yang tidak kau sukai Eil."


...To Be Continued....