
"Alard!" teriak Eil saat melihat pangeran kecilnya berlari ke arahnya. "Kenapa kau ada di sini sayang? apa yang sedang kau lalukan di rumah sakit?" Eil bertanya, sambil memeluk Alard.
"Dia sedang melakukan pemeriksaan rutin Eil," ucap Lukas, menghampiri Eil dan Alard.
Eileria yang sedang jongkok sontak saja berdiri ketika mendengar ucapan Lukas. "Memangnya Al kenapa? dia sakit?" tanya Eil menatap Lukas dengan wajah seriusnya.
"Aritmia," ucap Luhan lirih , dia menatap Alard yang sedang bergelayut manja di lengan Eil dengan senyuman yang tak henti-hentinya bocah kecil itu tunjukan.
"Astaga, kenapa kau tidak mengatakan ini sejak awal Lukas?" Eil kembali berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan Alard.
"Kenapa anak sekecil dirimu harus memiliki penyakit seperti ini sayang, kau pasti sangat kesulitan," ucap Eil dalam hati seraya mengelus kepala Al dengan lembut.
"Aku sedang mengusahakan pengobatan terbaik untuknya Kakak ipar."
"Panggil saja Eil! kalau kau mengijinkan, biarkan dia menjalani pengobatan denganku, mungkin dengan seperti itu dia akan merasa lebih nyaman di banding harus menemui dokter lain."
"Aku akan sangat senang jika memang benar kau sendiri yang akan menangani kasus Alard," ucap Lukas. Lukas memang tahu jika Eil adalah dokter ahli bedah jantung yang sangat baik. Tapi dia agak sungkan untuk meminta Eil menangi kasus Alard. Lukas sempat meminta ini kepada pimpinan rumah sakit, tapi dia langsung menolak dan mengatakan kalau dokter Eileria hanya akan menerima pasien yang sedang kritis.
"Hari ini aku ada operasi, besok datanglah lagi! aku akan melakukan pemeriksaan ulang untuk Alard sendiri," ujar Eil. Dia menuntun Alard supaya anak kecil itu berpindah dari tangannya ke tangan Lukas.
"Baiklah, aku akan kembali besok," ucap Lukas kemudian berjalan menjauhi Eil.
Alard menoleh, anak kecil itu melambaikan tangannya kepada Eileria. Eil tersenyum dan membalas lambaian tangan Alarad. Namun, senyumnya memudar tat kala Alard sudah tidak melihatnya lagi. Tatapannya berubah sendu.
Aritmia pada anak adalah kondisi irama detak jantung abnormal, di mana tubuh anak mengirimkan sinyal elektrik abnormal karena berbagai sebab. Irama detak jantung abnormal bisa terlalu cepat (takikardia), terlalu lambat (bradikardia), atau tidak teratur.
Eil berjalan dengan langkah yang cepat menuju ruangannya. Meskipun dia hanya dokter panggilan, dia tetap memiliki ruangan khusus untuk menyimpan semua data pasien yang sudah atau akan ditanganinya.
"Sudahlah, aku harap keadaannya tidak separah yang aku pikirkan," ucap Eil ketika masuk ke dalam ruangannya.
Dokter cantik itu mendudukkan dirinya di kursi, kemudian membuka laptop dan mempersiapkan semua hal yang harus dia ketahui untuk operasinya kali ini.
Sementara di tempat lain, seorang laki-laki dengan perawakan tinggi besar sedang berkutat dengan kabel-kebel yang terpasang di sebuah bom waktu. Semua orang yang sedang memperhatikannya dari layar monitor berdiri tegang. Sementara dua anggota lain yang di tugaskan untuk membantu Nathan malah sedang berdiri was-was sampai mereka mengeluarkan keringat dingin di sekujur tubuh mereka. Bagaimana tidak, sebuah bom di pasang di pusat perbelanjaan yang sudah pasti padat pengunjung. Jika saja itu meledak saat ini, bisa di bayangkan situasinya akan seperti apa. Semua orang sudah di evakuasi ke tempat yang lebih aman. Namun Nathan, laki-laki itu sedang berusaha untuk menghentikan timer yang sudah sejak tadi menyala. Nathan tidak bisa membawa bom tersebut ke luar dari gedung, karena itu tidak memungkinkan untuk saat ini. Waktunya tidak akan cukup. Dan mungkin jika sampai itu meledak di luar, akan lebih banyak orang yang terluka.
Tit.. Suara timer berhenti bergerak setelah Nathan memotong aliran listrik dari pemicu ke detonator. Semua orang menghembuskan nafas lega setelah seperkian detik menahan nafas. Kedua orang yang ada di belakang Nathan bertos ria sambil memeluk satu sama lain. Mereka sangat bangga kepada Kapten Nathan yang tidak pernah membuat mereka maupun atasan mereka kecewa.
"Kerja bagus!" ucap Nathan pada kedua orang itu sambil menepuk bahu mereka. Mereka hanya tersenyum. Yang bekerja adalah Nathan bukan, jadi, apa Nathan sedang memuji dirinya sendiri? entahlah. Hanya Tuhan dan Nathan yang tahu.
Nathan keluar dari area mal membawa serta tas berisi bom yang tadi sudah sempat akan meledak. Laki-laki itu sungguh gagah, meskipun wajahnya tidak terlihat karena memakai setelan khusus, tapi perawakannya sudah mewakili itu semua. Keberaniannya, dan juga kesigapannya sungguh membuat laki-laki itu memiliki nilai plus di banding yang lain.
Setelah berada di luar, Nathan menghampiri seorang laki-laki dengan setelan jas yang rapih . " Semua sudah aman, kalian bisa kembali membuka mal ini seperti sebelumya," Nathan pergi setelah mengucapkan itu semua. Sementara orang yang di ajak bicara berterimakasih sambil membungkuk dalam. Begitupun dengan staf yang lain, mereka membungkuk ketika Nathan berjalan melewati mereka.
Hari sudah hampir malam, namun Eil masih berkutat di meja operasi yang di lakukannya. Jika dalam operasi biasa atau operasi kecil hanya memerlukan empat elemen seperti dokter bedah, dokter anastesi, perawat bedah dan perawat anastesi. Namun saat ini Eil di dampingi satu dokter ahli, satu dokter bedah, perawat bedah , dokter anastesi dan perawat anastesi, perawat kamar bedah dan perawat sirkular. Perawat sirkular adalah perawat yang bisa memenuhi segala kebutuhan yang tidak steril menjadi yang steril. Ada lagi perawat haemodinamik, yang memantau kondisi umum pasien. Dan tim radiografer. Yang terakhir adalah tim intervensi, khusus untuk intervensi bedah jantung.
(maaf kalo kalean rada mudeng. akupun sama 🤦)
Setelah beberapa jam, akhirnya lampu operasi dimatikan..Eil dan rombonganya segera keluar dari ruang bedah. Mereka terlihat lelah namun juga menampakan kelegaan di wajah mereka. Beberapa dari anggota keluarga pasien yang sejak tadi menunggu kini berjalan menghampiri Eil dan dokter Daniel.
"Bagaimana keadaan suami saya?" ucap wanita paruh baya menatap Eil dan dokter Daniel bergantian.
"Semuanya aman Nyonya. Anda tidak perlu khawatir. Suami anda akan segera kami pindahkan ke ruang observasi intensif. Jadi anda tinggal menunggu hasil operasinya saja." ucap dokter Daniel menjelaskan.
"Terimakasih Dokter," ucap wanita paruh baya itu sambil menunduk dalam.
Dokter Daniel tersenyum. Sementara Eil buru-buru kembali ke ruang kerjanya. Dia harus segera mencari tahu tentang penyakit yang sedang di derita keponakan kecilnya saat ini.
"Dokter Eileria!" panggil dokter Daniel. Eil yang hendak pergi menoleh.
"Ada apa?" tanyanya.
"Kau tidak langsung pulang kan? mau makan malam bersama?" tawar dokter Daniel sambil tersenyum ramah.
"Maafkan aku dokter Daniel, sepertinya lain kali saja. Aku harus mengurus sesuatu dahulu." Eil berjalan dengan cepat setelah menolak ajakan dari dokter Daniel.
"Sangat sulit," ucap Daniel tersenyum kecut.
To Be Continued.
Hai reader, jangan lupa like dan komennya ya. Thank You.🤗