The Veil of Eileria

The Veil of Eileria
Incaran Bara



"Aku bisa makan sendiri Kak," ujar Amber ketika Lukas hendak menyuapinya makanan yang telah disiapkan oleh pihak rumah sakit.


Lukas meletakkan sendok yang tadi sudah dia pegang ke atas mangkuk bubur. Dia menyodorkan mangkuk bubur itu kepada Amber lalu memperhatikan Amber yang sedang makan.


Amber menatap Lukas ketika jempol tangan Lukas menyeka sudut bibirnya. Dia menjadi tidak suka dan malah menghentikan acara makannya. "Jangan bertingkah sok perduli padaku Kak! Aku tidak butuh dikasihani olehmu. Kalau kau mau pergi, pergi saja! Aku tidak membutuhkan bantuan darimu."


Helaan napas terdengar dari mulut Lukas. "Amber, aku tahu kau marah padaku, aku tahu aku salah karena aku telah berbuat jahat padamu. Tapi sekarang kau sedang sakit, biarkan aku membantumu. Aku masih suamimu. Aku masih berhak atas dirimu."


"Cih, sejak kapan kau mau menjadi suamiku Kak, bukankah aku ini hanya makhluk tembus pandang bagimu?"


Perkataan menohok dari Amber membuat Lukas semakin tahu kalau selama ini dia sudah menorehkan luka yang cukup besar kepada Amber. Keegoisannya dan juga rasa tidak ingin disalahkan oleh siapapun terlalu besar. Dia melupakan perasaan Amber karena terlalu fokus pada perasaannya sendiri. Dia lupa kalau dia memiliki hati yang lain untuk dia jaga.


"Maafkan aku Amber. Berikan aku kesempatan satu kali lagi, sekarang aku akan mulai belajar untuk mencintaimu dan juga menyayangimu."


Perlahan air mata Amber menetes membasahi pipi putihnya. Kenapa disaat dia sudah bertekad kalau dia akan menjauh dari Lukas dan tidak akan memperdulikan laki-laki itu lagi Lukas malah memberikannya harapan lain. Amber ingin mengatakan kalau dia akan memberikan Lukas kesempatan. Namun pikirannya tidak mengijinkannya untuk mengatakan itu. Amber sudah terlanjur membuat keputusan. Dia tidak bisa merubah keputusannya begitu saja.


"Maaf Kak, aku tidak bisa, aku takut. Selama ini aku sudah sering memberikan mu kesempatan, tapi kau selalu membuang kesempatan itu. Kau pikir hatiku terbuat dari apa sampai aku bisa menahan semua itu, setelah semua yang kau lakukan padaku, dengan mudahnya kau mengatakan kalau kau minta kesempatan kedua. Beri aku waktu, beri aku waktu untuk memikirkan ini semua, beri aku waktu untuk menenangkan diriku terlebih dahulu."


Lukas mengangguk. "Baiklah, aku akan memberikan mu waktu, tapi aku tidak akan pernah membiarkan siapapun mendekatimu, apalagi Bara, aku jamin hanya aku yang boleh memilikimu."


Amber tersenyum miris mendengar kalimat yang keluar dari mulut Lukas, haruskah dia tertawa mendengar kecemburuan yang di katakan oleh Lukas secara tidak sadar? Kenapa dia baru menunjukan keperduliannya sekarang.


"Sebaiknya kau keluar Kak! Aku ingin sendiri, dan ya, dokter sudah bilang kalau nanti sore aku sudah boleh pulang."


"Aku akan keluar, tapi aku akan menunggu di luar ruangan ini. Kita akan pulang bersama. Aku akan mengurus segala keperluan mu."


Bukannya senang dengan apa yang dikatakan Lukas, Amber malah memalingkan wajahnya jengah.


Amber bernapas lega setelah Lukas pergi meninggalkan ruang rawatnya. Dia kembali mengambil mangkuk bubur yang tadi sempat dia letakan di atas meja yang ada di ranjangnya lalu mulai memakan bubur itu kembali.


Krieetttt ...


Pintu ruang rawat Amber dibuka dari luar. Amber memutar bola matanya malas.


"Aku sudah bilang jangan ganggu aku dulu!" geram Amber.


"Mommy!"


Sura Alard membuat Amber membulatkan matanya dan menoleh ke arah pintu.


"Sayang!" panggil Amber merentangkan kedua tangannya.


Darius yang kala itu datang bersama Alard memangku bocah kecil itu dan mendudukkannya di atas ranjang Amber.


"Mommy, kenapa Mommy tidak mau Alad ganggu?" tanya Alard dengan polosnya.


Amber menjadi kikuk dan canggung. "Maafkan Mommy Sayang, Mommy pikir tadi itu bukan Alard, Mommy tidak merasa terganggu kalau Alard yang datang."


Bocah kecil itu tersenyum. Dia memeluk leher Amber dan mengecup pipi mommy nya beberapa kali. "Alad kangen Mommy, kapan Mommy pulang?"


"Nanti sore Mommy sudah boleh pulang. Alard sabar ya!"


Alard mengangguk mengiyakan apa yang dikatakan oleh Amber.


"Amber sudah makan Ayah. Ayah dan Alard sudah makan belum?"


Darius dan Alard mengangguk bersamaan. Mereka berdua memang selalu kompak kalau ditanya masalah makan. Dua laki-laki itu memang selalu memiliki jadwal makan yang teratur.


"Apa Kak Eil tidak ke sini Ayah?" tanya Amber lagi.


"Entahlah, kemarin Eil dan Nathan mengatakan kalau mereka akan ke sini lagi. Mungkin sebentar lagi mereka akan datang."



"Baby!" panggil Nathan melihat Eil yang sedang memainkan jari telunjuknya di dinding kaca.


"Kenapa sangat lama?" rengek Eil membuat Nathan tertawa karena Eil terlihat sangat lucu ketika dia memanyunkan bibirnya.


Nathan berjalan mendekati Eil lalu memangku tubuh istrinya dan membawanya keluar dari rumah.


"Tadi ada telpon penting dari rekan bisnisku. Dia mengajakku untuk menanam saham di salah satu perusahaan miliknya yang ada di Indonesia."


Eil mengeratkan pelukannya di leher sang suami. "Kapan kita akan berkunjung ke sana Nathan, aku dengar pantai di sana sangat indah, bagaimana kalau kita membeli pulau di sana?"


Nathan terkekeh. "Kau itu, memangnya membeli pulau semudah membeli gorengan. Tapi aku akan usahakan. Nanti kita aku akan meminta bantuan temanku untuk mencarikan kita pulau di sana."


Eileria bertepuk tangan heboh saat Nathan mengiyakan apa yang dia inginkan. Meskipun dia tidak tahu kapan itu akan terwujud, tapi kalau Nathan sudah mengatakan iya, berarti dia akan berusaha untuk mewujudkannya.


"Apa sudah nyaman?" tanya Nathan setelah mendudukkan Eil di kursi mobil bagian belakang.


"Aku sudah nyaman. Cepatlah naik, kita harus segera pergi ke rumah sakit, nanti Amber merajuk kalau kita tidak datang."


"Apa kursi rodanya sudah di simpan di bagasi Pak?" tanya Nathan kepada sang sopir.


"Sudah Tuan," jawab sopir itu yakin.


"Ya sudah, kalau begitu kita jalan sekarang!"


"Baik Tuan."


Eil memperhatikan setiap jalanan yang dia lewati. Rasanya dia sangat ingin bertualang seperti dulu. Meskipun dia masih suka berlatih menembak, memanah dan lain sebagainya, namun dia juga sangat ingin melatih kecepatan kakinya seperti dulu.


"Baby!" panggil Nathan kepada Eil yang hanya diam sambil melihat ke arah luar jendela kaca mobil mereka.


"Iya Nathan!" jawab Eil dengan senyum di wajahnya. Beginilah Eil, meskipun hatinya selalu mendamba untuk bisa berjalan kembali, namun dia tidak pernah bisa menunjukan itu kepada Nathan.


"Apa kau tahu kalau Bara sedang mengincar seseorang?" tanya Nathan kepada sang istri.


Eil menautkan kedua alisnya. "Maksud mu apa? Bukankah Bara sudah berjanji kalau dia tidak akan kembali ke dunia hitamnya."


Nathan tersenyum. "Kali ini bukan musuh yang dia incar. Tapi wanita."


"What?" ...


...To Be Continued....