The Veil of Eileria

The Veil of Eileria
Di Apartemen Jerome dan Amber



Klikkk.... Suara pintu apartemen terbuka di iringi dengan langkah kaki yang kian mendekat ke arah Eil dan Amber.


"Kau!" ucap Jerome ketika melihat Eil sedang duduk di meja makan sambil tersenyum ke arahnya.


Amber berdiri dan menghampiri kakak laki-laki nya itu. Dia berusaha menarik Jerome untuk berbicara di sudut ruangan supaya dia bisa leluasa mengatakan hal-hal yang memang ingin dia sampaikan. Jerome tidak melakukan perlawanan saat Amber menyeretnya. Dia hanya diam dan menjadi penurut.


"Kak, dia akan menginap di sini," ucap Amber dengan suara pelan.


"Whattt?" pekik Jerome. Amber langsung membekap mulut Jerome menggunakan tangannya.


"Shuttt... Kak Eil akan tidur di kamarku. Kakak jangan banyak bertanya, lagipula ini bagus untuk ku Kak. Aku kan tidak pernah memiliki teman yang mau aku ajak ke sini. Mereka semua takut padamu."


"Tapi kau baru mengenalnya Amber. Bagaimana kalau dia..."


"Hushhh.. Kak Eil itu orang baik. Kakak tidak usah khawatir," ucap Amber.


Jerome tidak bisa berkata-kata lagi. Jika dia tidak menuruti Amber, dia takut Amber akan marah. Jika adiknya itu sudah marah, dia pasti akan kabur entah kemana. Biarlah dia melakukan apa yang dia inginkan. Toh Jerome juga bisa mengawasinya , lagipula Eil sepertinya bukan orang aneh. Jerome masih bisa mentolerir wanita yang satu ini.


Pada akhirnya malam itu berlalu dengan sangat baik. Jerome tidak banyak bicara karena dia memang orang yang pendiam. Di tambah lagi Amber dan Eil yang terus tertawa sambil membicarakan hal yang menurut Jerome tidak penting. Wanita memang sangat suka olah raga mulut. Kapan dia akan menemukan wanita yang benar-benar kalem dan tidak banyak bicara sepertinya. Amber juga sangat cerewet, namun jika itu Amber, Jerome sudah sangat terbiasa. Dia juga akan sangat kesepian jika Amber tidak sedang bersamanya. Namun entah kenapa kalau orang lain yang cerewet dia akan merasa sangat pusing.


"Kalian bisa mati tersedak kalau makan sambil tertawa seperti itu," ucap Jerome dengan nada dingin nya.


Amber dan Eil menghentikan tawa nya sejenak. Mereka melirik Jerome sekilas lalu kembali tertawa terbahak-bahak. Jerome hanya bisa menghela nafasnya. Sungguh jika ada satu lagi wanita di sisinya saat ini, Jerome pasti harus ke rumah sakit untuk memeriksakan kesehatan mentalnya.


Tanpa Jerome sadari, sebenernya Eil tidak hanya fokus pada Amber, dia memperhatikan Jerome dengan sudut matanya. Laki-laki ini bukan laki-laki biasa menurut Eil. Ada sesuatu yang dia sembunyikan. Dan perhatian yang Jerome berikan kepada Amber bukan perhatian seorang Kakak kepada adiknya. Eil merasa ada sesuatu yang lebih dari itu.


Setelah acara makan malam selesai. Jerome bertugas untuk mencuci piring, sementara Eil dan Amber bertugas untuk membereskan meja makan dan yang lainnya. Jerome tidak bersuara. Dia terus mengambil bagian Amber dan mengerjakan semua bagian adiknya itu dengan telaten.


"Itu," ucap Eil saat melihat sesuatu di balik lengan Jerome saat Jerome menggulung lengan kemejanya sampai ke siku.


"Amber," panggil Eil.


"Iya Kak!"


"Tolong belikan aku kopi di cafe yang ada di depan gedung apartemen ini ya.. Aku sedang ingin meminumnya," ucap Eil sambil tersenyum. Jerome melirik Eil dan Amber. Dia meminta Amber agar Amber tidak pergi. Biar Jerome saja yang pergi membeli kopi nya. Namun Amber langsung menolaknya. Dia mengatakan kalau Jerome pasti masih sangat lelah. Mau tidak mau Jerome menurut.


Setelah kepergian Amber dari apartemen itu, Eil berjalan menghampiri Jerome yang masih berkutat dengan piring-piring kotor di dalam wastafel.


"Amber bukan adik kandungmu bukan?" tanya Eil. Jerome membeku. Dia menghentikan kegiatannya sebentar tapi tidak lama setelah itu dia kembali melanjutkan nya.


"Jangan asal bicara! Amber adalah adikku," ucap Jerome dingin.


"Cihhh... Aku tahu perhatian dan tatapan mu itu bukan perhatian dan tatapan layaknya seorang Kakak laki-laki kepada Adik perempuan nya. Kau mencintainya bukan?" tanya Eil . Matanya menatap lekat setiap perubahan ekspresi di wajah Jerome.


Deg. Jantung Jerome seakan berhenti saat itu juga. Dia terkejut namun sebisa mungkin dia menormalkan kembali ekspresi wajahnya. "Kau salah. Amber memang adik kandungku."


Settttt... Eil menarik lengan Jerome dan menyibak lengan baju yang di kenakan Jerome dengan gerakan yang sangat cepat. Dia menarik ujung bibirnya saat melihat sebuah tato kecil berbentuk kepala rusa di lengan Jerome.


Jerome menarik tangannya. Dia melepaskan sarung tangan karet yang sedang dia gunakan. "Apa yang kau lakukan?" tanya Jerome dengan mata yang berkilat marah.


Susana menjadi sangat canggung karena Eil hanya tersenyum dengan senyuman yang sangat berbeda dari biasanya. Auranya sungguh bukan aura yang sejak tadi Jerome lihat, kali ini hawa dingin seakan mengelilingi tubuh seorang Eileria. Tatapannya tajam, penuh amarah dan juga sangat mendominasi. Andai Jerome adalah laki-laki biasa yang tidak memiliki latar belakang apapun, dia pasti sudah berlari ketakutan saat melihat sosok lain dalam diri Eileria.


"Kau!" ucap Jerome saat melihat Eil melepas dua kancing teratas kemeja yang dia kenakan di depannya.


****


Sementara di tempat lain. Di sebuah bangunan yang sangat besar dan megah, seorang laki-laki sedang tertawa terbahak-bahak ketika mendengar suara wanita cantik dari balik earpiece yang dia kenakan.


Dia menggoyangkan gelas kaca yang berisi cairan merah ke unguan di dalamnya. Cairan itu bergoyang mengikuti arah gerakan tangan Bara. Ya. Laki-laki itu sedang menikmati kemenangan nya karena Eil dan Nathan sedang berseteru. Bahkan Bara tahu kalau Nathan mendapat luka yang cukup parah dari wanita pujaan hatinya.


"Bagus Belle, terus awasi mereka untuk ku! kau juga sama-sama di untungkan dalam hal ini. Jangan sampai lengah! kau harus terus mengawasinya dan memanfaatkan kesempatan ini untuk menjerat laki-laki tolol itu."


"Jaga ucapan mu Bara! dia bukan laki-laki tolol. Dia adalah laki-laki yang ingin aku nikahi. Jangan sembarangan bicara!"


Bara hanya tertawa mendengar celotehan Belle. Dia tersenyum mengejek, namun karena ini adalah pembicaraan lewat telepon Belle tidak mungkin bisa melihat semua ekspresi wajah yang sedang di tunjukan oleh Bara. Semua yang Belle lihat di permukaan belum tentu sama dengan fakta yang ada di dalam. Seperti sebuah pepatah yang mengatakan, jangan mempercayai siapapun kecuali dirimu sendiri. Sedekat apapun kamu dengan orang lain, kamu tidak akan dapat melihat isi hati orang tersebut seperti apa. Selalu waspada adalah keharusan dalam menjalin sebuah kerjasama.


"Dasar bodoh! kau pikir aku akan membiarkan mu hidup jika aku sudah mendapatkan apa yang aku inginkan. No, aku akan membuatmu membayar semuanya karena kau telah membuat marah wanita yang aku cintai."


...To Be Continued....


...Hai reader. Jangan lupa like dan komentarnya ya. Thank you. Have a nice day gays ......


Mulai besok novel ini up malam ya. Mohon di tunggu...