The Veil of Eileria

The Veil of Eileria
Aktris yang Hebat



"Kakak!" teriak Amber pada Jerome. Laki-laki itu langsung mengerejat kaget mendengar suara lengkingan Amber yang membuat gendang telinganya hampir pecah.


Dia bangun dengan tergesa. Namun, alangkah terkejutnya dia saat melihat Sulli berbaring di sampingnya tanpa mengenakan apapun. Keningnya berkerut. Kenapa Sulli bisa tidur satu ranjang dengannya? dia bahkan tidak mengenakan pakaian. Seingat Jerome, dia tidak melakukan sesuatu yang salah. Dia tidak mungkin melakukan kesalahan yang sama sampai dua kali.


"Sulli! Sulli!" panggil Jerome menggoyang-goyangkan bahu Sulli berharap wanita cantik itu akan segera bangun. Namun nihil, Sulli sama sekali tidak mendengarnya. Dia malah semakin menyamankan posisinya dan kembali terlelap di alam mimpi yang mungkin saja sangat indah.


Byurrrrrrrr


Amber mengguyur wajah Sulli dengan air minum yang dia bawa menggunakan gelas.


Sulli terkesiap. Dia langsung bangun dan mengusap wajahnya berkali-kali.


Jerome yang melihat kejadian itu memalingkan wajahnya namun tangannya berusaha untuk membantu Sulli menarik selimut ke atas sampai selimut itu menutup tubuh bagian atasnya.


"Apa yang kalian lakukan hah?" teriak Sulli sambil berdecak pinggang. Dia merasa terkhianati oleh Jerome. Amber berusaha pulang lebih cepat karena tadi dia masih sangat khawatir kepada Jerome. Tapi apa yang kakak nya itu lakukan? dia malah asyik bermadu kasih dengan wanita jadi-jadian yang pakaiannya selalu kurang bahan.


"Kau tidak perlu menyiram nya seperti itu Amber. Yang salah itu aku, kenapa kau berbuat sejauh ini."


Sulli menahan tangan Jerome. "Sudahlah! tidak perlu bertengkar. Aku tahu tidak seharusnya aku melakukan ini. Tadi Jerome demam tinggi. Aku hanya memberinya pelukan skin to skin. Aku jamin aku tidak melakukan apa-apa."


Sulli menarik selimut yang sedang dia dan Jerome kenakan. Jerome tersentak. Dia langsung mengambil sebuah bantal lalu menutupi aset berharganya itu.


Amber menatap Sulli dengan tatapan membunuh. Arah pandangnya mengikuti Sulli kemanapun dia pergi. Dia benar-benar seperti ayam betina yang baru selesai mengerami telurnya. Sangat galak dan sensitif.


"Keluar Amber!" titah Jerome padanya.


"Aku tidak mau!" jawab Amber singkat.


"Kau mau melihatku terus telanjang seperti ini hah?" teriak Jerome yang mulai tersulut emosi. Kenapa Amber menjadi sangat menyebalkan. Jerome memaklumi kalau Amber marah. Tapi kalau dia harus keras kepala seperti ini, Jerome tidak suka.


"Aku akan keluar Kak. Tapi urusan kita belum selesai," ucapnya . Dia langsung keluar dan membanting pintu kamar Jerome kasar.


Setelah Amber pergi, Jerome memungut semua pakaiannya lalu mulai mengenakan pakaian itu satu per satu.


Saat sedang fokus menggunakan bajunya. Jerome melihat bayangan Sulli yang keluar dari kamar mandi. Wanita itu berjalan dengan tergesa. Dia mengambil tas yang tadi dia bawa lalu bergegas untuk keluar dari kamar Jerome.


"Sulli tunggu!" teriak Jerome. Dia ingin mencekal pergelangan tangan Sulli ketika wanita itu hendak membuka pintu kamar.


"Maafkan Amber. Sebenarnya dia adalah anak yang baik. Mungkin dia hanya terkejut, jadi dia bersikap kurang baik seperti tadi. Aku harap kau tidak tersinggung."


Sulli tersenyum sisis. Dia memutar tubuhnya lalu menatap Jerome dan memberikan nya senyuman semanis mungkin.


"Aku tahu, aku tahu kalau dia itu anak yang baik. Aku tidak apa-apa Jerome. Aku memang pantas mendapatkannya. Aku harus pergi. Selesaikan lah masalah mu dengan Amber. Jangan sampai dia marah."


"Jangan sampai ada tertinggal!" teriak Amber ketika melihat Sulli keluar dari apartemennya.


"Amber!" panggil Jerome dingin. Dia menghampiri adiknya lalu menyuruhnya untuk duduk. Kali ini Amber sudah keterlaluan. Meskipun Sulli salah, bukankah itu adalah urusan antara dirinya dan Sulli, kenapa Amber harus ikut campur.


"Dengarkan aku Amber. Kau tidak berhak memperlakukan Sulli seperti itu. Dia itu wanita yang baik. Dia tadi hanya merawat ku karena aku kurang enak badan. Dan sekarang, sekarang kau memperlakukan dia seolah-olah dia adalah wanita murahan . Kau pikir kau lebih baik dari dia? aku sudah tidak melarang mu untuk dekat dengan Lukas, tapi kenapa kau mencampuri urusan ku. Kalau sampai ini terulang lagi, aku tidak akan pernah memaafkan mu."


Amber menunduk. Segala bentuk kepercayaan dirinya hilang. Semuanya luluh lantah karena ucapan Jerome yang sangat menohok. Dia pikir Jerome akan memihaknya. Tapi ternyata dia malah memihak wanita lain.


****


"Yes!" ujar Sulli menaikan satu kakinya dan meninju udara beberapa kali.


Rencananya berhasil. Dia memasang wajah sedih di depan Jerome supaya laki-laki itu simpati kepadanya. Dan ternyata harapannya terwujud. Laki-laki itu benar-benar termakan akting Sulli yang luar biasa.


"Aku mencintaimu Jerome," ucap Sulli memberikan flaying kiss ke pintu apartemennya Jerome.


****


"Apa kau yakin kalau Belle ada di sini Bara?" tanya Eil pada laki-laki yang sedang mengotak-atik laptop di hadapannya. Eil memperlihatkan letak peta itu dengan seksama. Kali ini semuanya pasti akan berjalan lancar. Dia harus bisa membuat Belle berakhir di tangannya.


"Aku yakin Lea. Semua orang yang ahli di bidang IT sudah aku kerahkan. Kau adalah yang paling jago. Kau bisa memeriksa nya sendiri," ucap Bara. Dia menghentikan ketikan di atas keyboard lalu menatap Eil dan tersenyum cerah.


"Kali ini kita akan berhasil Lea. Aku janji," ucap Bara. Eileria mengangguk. Dia mulai membereskan semua barang yang dia perlukan ke dalam tas. Selain senapan laras panjang, dia juga membawa pistol, juga granat.


"Apa tidak sekalian bawa bom?" tanya Bara membuat Eil menghentikan kegiatannya. Dia menatap Bara lekat, tidak ada raut wajah bercanda, laki-laki itu serius dengan ucapannya.


"Kita tidak bisa membahasnya orang-orang yang tidak memiliki sangkut paut dengan masalah ini. Kau tahu aku tidak pernah suka membuat keributan di antara masyarakat sipil yang tidak berdosa."


Bara tersenyum. Dia mengangguk. Dia bukan tidak tahu bagaimana sifat Eileria, dia hanya ingin menawarkan pilihan yang cukup bagus. Tapi kalau Eil tidak menginginkan nya, Bara hanya bisa menurut dan mengikuti semua rencana Eil.


"Kita pergi sekarang Bara!" ucap Eileria membawa sebuah tas besar berisi segala senjata yang dia butuhkan.


Bara mengikuti Eileria dari belakang. Dia mengulurkan tangannya membantu Eil untuk naik ke atas helikopter. Setelah Eil duduk dengan aman. Kini giliran dia yang naik.


Sebenarnya rencana mereka yang sekarang melenceng dari rencana awal. Bara yang menyuruh Eil menunggu Belle melakukan penyerangan lebih dulu malah tidak sabar ingin segera menghabisi Belle dan Jay agar hidup Eileria tidak terancam lagi.


Satu jam mereka melakukan perjalanan di atas angin, helikopter mereka berhenti di atas sebuah bangunan yang terletak di tengah-tengah padang rumput yang hijau. Di sana tidak ada rumah lain. Hanya rumah besar itulah yang terlihat.


"Aku melihatnya Bara!" ucap Eileria. Matanya masih nmmenempel pada sebuah teropong yang dia gunakan untuk mencari keberadaan Belle dan juga orang-orang nya.


...To Be Continued....