The Veil of Eileria

The Veil of Eileria
Dia Pergi



Susana di dalam mansion lebih hening dari biasanya. Nathan menatap sendu semua ruangan yang pernah menjadi saksi atas hubungan yang terjalin antara dirinya dan Eileria. Dia tersenyum tipis saat bayangan dimana dia sedang bercanda di dapur dengan istri kecilnya seakan tergambar dengan jelas bak sebuah kaset yang di putar di depan matanya. Tatapan nya beralih ke ruang tv. Bayangan di mana Eil sedang tertawa sambil berlarian karena menghindari kejaran Nathan juga terputar di sana. Wajah Nathan kembali sendu saat gambaran itu kembali memudar dan perlahan menghilang bagai sebuah kabut yang pergi karena adanya sinar matahari. Pelangi yang tadi muncul di matanya kini berganti menjadi sebuah awan hitam. Gelap dan tidak berwarna.


"I'm fallen for you Eil. So much. Maafkan aku karena telah membuatmu kecewa."


Nathan melangkahkan kakinya ke tangga untuk menuju lantai atas mansion-nya. Dia sedang malas melakukan apapun sekarang. Kejadian ini membuat dia kehilangan mood untuk beraktivitas. Dia tahu Eil tidak ada di sini. Ya, semua ruangan yang ada di tempatnya terasa sangat hampa dan kosong. Ketenangan yang selalu dia sukai kini membuatnya sangat tersiksa karena sosok Eil yang sudah mengubah hampir semua kebiasaan yang selalu dia lakukan. Apa yang sebelumya tidak Nathan sukai perlahan dia mulai bisa menyukainya. Sosok Eil berperan besar untuk segala perubahan yang ada dalam hidupnya. Tapi orang yang membuatnya membutuhkan setiap hal yang sebelumnya tidak dia butuhkan kini malah pergi meninggalkannya.


Nathan membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Dia tidur dengan posisi terlentang , matanya terpejam, punggung tangan yang ia tempelkan dengan dahinya terasa berdenyut nyeri. Kalau kalian berpikir tangan Nathan yang sakit, jawabannya bukan, namun, karena punggung tangan itu masih terbalut perban yang di pakaikan istrinya, Nathan merasa di lukai untuk yang ke sekian kalinya. Dia sangat merindukan sang istri. Teramat sangat.


Sementara di tempat lain. Seorang laki-laki sedang menatap lawan bicaranya dengan tatapan bingung dan aneh.


"Kau!" ucap Jerome saat melihat Eil melepas dua kancing teratas kemeja yang dia kenakan di depannya.


Jerome memalingkan wajahnya, namun dia mengerutkan keningnya saat dia tidak sengaja melihat sesuatu yang mengganggu indra penglihatannya kala itu. Dia menatap Eil kembali, matanya membulat saat melihat sebuah tato yang sama dengan yang ada di lengannya tepat di atas dada sebelah kiri Eil.


"Kau!" ucap Jerome dengan mata yang masih membulat sempurna.


Eil tersenyum menyeringai. Dia lekas mengancingkan kembali kemejanya dan menatap Jerome lekat. "Aku tahu kau memiliki hati pada Amber. Kau menunjukan kasih sayang berlebihan Jerome. Hanya Amber yang tidak menyadari ini. Dan kau yang terlalu mengekang Amber membuatku sedikit jengah. Bukankah ada alasan kau melakukan itu semua?" tanya Eil.


Jerome sudah tidak bisa mengelak lagi. Wanita cantik nan elegan yang ada di hadapannya saat ini ternyata bukan orang biasa. Di tambah, Jerome rasa ada perbedaan antara tato yang di miliki Eil dengan tato yang di milikinya. "Kau memiliki kedudukan di dalam organisasi bukan?" tanya Jerome.


Eil mengangkat bahunya acuh. "Jawab saja pertanyaan ku!" ucap Eil dingin.


"Amber memang bukan adik kandungku. Dia adalah anak dari orang yang pernah aku bunuh," lirih Jerome.


Eil terbengong mendengar jawaban yang keluar dalam mulut laki-laki yang ada di hadapannya. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi. Kisah menyedihkan seperti ini hanya terjadi di drama atau di dalam sebuah novel bukan.


"Lalu, kenapa dia tidak mengetahui fakta yang sesungguhnya. Kau pikir dia akan tetap ada di sampingmu jika dia tahu kalau kau adalah orang yang telah membunuh kedua orang tuanya?"


"Dia hilang ingatan. Aku pasrah jika kelak dia akan membenciku. Aku juga tidak keberatan kalau seandainya dia membalas dendam jika dia mengetahui fakta ini. Aku sengaja melindunginya karena aku takut beberapa orang yang memiliki keterkaitan dengan orang yang pernah aku bunuh akan mencari ku dan menjadikan Amber sebagai kelemahan ku."


Eil diam. Dia tahu, organisasi memang sudah sangat melindungi informasi pribadi mereka. Tapi semua yang ada di dunia ini tidak ada yang sempurna, meskipun organisasinya memiliki kekuatan yang luar biasa kuat, tapi, ini tidak menutup kemungkinan bahwa suatu saat informasi pribadi mereka akan mencuat ke permukaan. Mereka harus melindungi apa yang mereka miliki saat ini.


"Aku mengerti, kembalilah mencuci piring. Amber sudah ada di depan pintu apartemen," ucap Eil dingin. Tepat setelah El mengatakan itu pintu apartemen terbuka. Jerome meliriknya sekilas. Wanita cantik ini memang tidak bisa di remehkan. Bahkan indra pendengarannya sudah setajam ini. Eil memang tidak sebanding dengan dirinya yang hanya seorang anggota biasa di dalam organisasinya.


Suasana di apartemen itu kembali seperti biasa. Tidak ada gelagat aneh yang di tunjukan Eil ataupun Jerome. Mereka kembali seperti sebelumnya. Tidak terlalu banyak berinteraksi dan juga tidak pernah saling menatap.


****


Drtzzzz.... Drtzzzz...


"Halo Nathan!" hari ini kamu tidak sibuk bukan?"


Percakapan yang mereka lakukan berlangsung cukup lama. Darius mengatakan semua yang ingin dia katakan. Dia terpaksa melakukan hal ini karena tidak memiliki pilihan lain. Nathan harus bisa menerima permintaannya, pikir Darius.


Nathan berpikir untuk sejenak. Ini sebenarnya kesempatan bagus untuk Nathan supaya dia bisa memberikan waktu sendiri untuk istrinya. Jika dia terus berada di sekitar Eil. Dia takut dia akan hilang kesabaran dan akan kembali menemui istri cantiknya itu.


"Baiklah Ayah. Nathan akan pergi. Tolong jaga Eil selama Nathan tidak ada di sini."


"Kamu bisa mempercayakan Eil pada ayah Nathan. Tidak usah khawatir."


Nathan tersenyum. Dia sudah mengambil keputusan. Dia harus bertanggung jawab untuk ini. Laki-laki itu mulai bangun dan bersiap-siap untuk pergi . Lagi-lagi dia menghela nafasnya saat Nathan melihat deretan baju Eil di dalam lemari. Dia ingin memasukan pakaian yang akan dia bawa ke dalam koper. Namun matanya tertuju pada pintu lemari yang biasa di pegang istrinya.


Nathan menutup pintu lemari itu kembali. Dia tidak ingin masalah ini semakin membuatnya tidak waras. Eil hanya butuh waktu. Dia tidak akan pergi untuk selamanya bukan.


****


Sore hari di sebuah airport internasional yang ada di kota itu. Seorang wanita cantik keluar dari dalam mobilnya dengan tergesa. Dia tidak memperdulikan orang-orang yang melihatnya ketika dia berlari seperti orang gila. Dia sedang kalut saat ini. Orang yang dia cintai akan meninggalkannya . Dia harus mencegah nya. Laki-laki itu tidak boleh pergi.


Susana di airport itu sangat ramai. Dia terus mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut airport. Laki-laki yang di carinya tidak ada. Wanita itu kembali berlari. Dia langsung menuju tempat chek in penumpang. Dia mengabsen setiap orang yang sedang mengantri untuk memeriksakan tiket dan paspor yang mereka bawa.


"Apa dia sudah pergi," ucap nya lemah.


Tubuhnya ambruk ke bawah. Dia berjongkok sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Hiksss.... Maafkan aku Nathan."


...To Be Continued....


...Hai reader. Jangan lupa like dan komentarnya ya.. Terimakasih....


...Dan sekedar informasi untuk semua pembaca setia, sepertinya sekarang novel ini akan pindah jam update. Othor usahakan up setiap jam setengah 8 malam ya..Love U All.....