The Veil of Eileria

The Veil of Eileria
Kebodohan Lukas



Lukas mengikuti mobil yang dikendarai oleh sopir ayahnya. Dia sudah memutuskan untuk mengikuti Darius, Amber juga Alard karena dia sangat penasaran dengan kegiatan apa yang akan dilakukan oleh semua anggota keluarganya itu. Lukas takut mereka akan membicarakannya dan akan menjelek-jelekan nya kepada Nathan, Eil, juga kepada Jerome.


Lukas menghentikan mobilnya ketika dia melihat mobil Darius berhenti di sebuah restoran bintang lima yang ada di kota itu. Dari jauh dia bisa melihat Nathan, dan Eil yang sudah menunggu kedatangan Alard juga yang lainnya.


Lukas memarkirkan mobilnya di belakang mobil Darius namun masih terhalang dengan mobil yang ada di depan mobilnya. Jadi, kalaupun Darius tiba-tiba keluar, dia tidak akan langsung menyadari kalau di sana ada mobil milik Lukas.


Sementara di dalam restoran. Eil dan Nathan menyambut kedatangan Amber, Darius dan Alard dengan sangat gembira. Ini adalah pertemuan pertama mereka setelah kondisi semua orang mulai membaik. Amber dan Alard sudah kembali pulih, dan Eil juga sudah tidak merasakan morning sikcnes lagi.


"Sebaiknya kita pergi sekarang ya!" ajak Eil pada semua orang. Nathan membantu Eil mendorong kursi rodanya, semetara semua orang yang tadi datang keluar kembali dari restoran itu. Ternyata mereka hanya menjadikan restoran ini sebagai titik pertemuan mereka.


"Aku ingin pergi dengan mobil Mommy Eil ya!" ucap Alard pada Amber dan Darius. Kedua orang itu mengangguk. Alard memang sudah lama tidak menemui Eileria, mungkin dia sudah sangat merindukannya sekarang.


Lukas yang tadi hendak turun malah di buat kalang kabut lantaran semua orang malah berhamburan keluar. Dia menundukkan kepalanya karena takut beberapa orang itu akan melihat ke arah mobilnya.


"Sebenarnya kalian mau ke mana?" geram Lukas yang merasa sedang di permainkan oleh keluarganya sendiri.


Sebenarnya ini adalah salah Lukas bukan? Andai dia tidak berbuat jahat pada Amber, mungkin dia tidak akan di kucilkan seperti saat ini.


Dua mobil itu akhirnya keluar dari area parkiran restoran, di susul dengan mobil Lukas yang mengikuti mobil mereka dari belakang.


Di dalam mobil Eileria, Alard sedang menceritakan banyak hal. Termasuk menceritakan dirinya yang sempat marah kepada sang ayah. Eiileria di buat tertawa dengan cerita yang di sampaikan oleh pangeran kecil kesayangannya itu. Lukas memang harus menerima pelajaran yang setimpal, dia tidak bisa terus memperlakukan Amber seperti itu.


"Sayang! Kau memang sangat pandai. Aku menyukainya."


Alard mengangguk. Dia mengangkat satu tangannya lalu mengajak Sip untuk tos.


"Keponakan paman memang yang terbaik," ucap Nathan mengacak rambut Alard gemas.


"Tuan, sepertinya ada yang mengikuti mobil kita," ucap sopir Nathan ketika melihat sebuah mobil yang sedang melaju tak jauh dari mobil yang sedang dia kendarai.


Nathan, Eileria dan Alard sontak saja menoleh ke arah belakang berbarengan. Mereka memperhatikan mobil itu dengan seksama.


"Daddy!" ucap Alard membuat Nathan dan Eileria mengalihkan pandangannya kepada bocah kecil itu.


"Maksud Alard mobil itu adalah mobil Daddy Lukas?" tanya Eil memastikan.


Alard mengangguk dengan yakin. Eileria dan Nathan tersenyum. Ternyata orang yang pura-pura tidak perduli itu malah membuntuti mereka dari belakang.


"Aku ada ide Nathan."


Wajah Eileria tiba-tiba langsung berseri. Nathan yang melihat itu sudah tahu, kalau ide yang di maksud oleh istrinya ini bukanlah sembarangan ide. Dia harus mempersiapkan diri supaya tidak terkejut ketika mendengar apa yang akan di sampaikan oleh istrinya.


Tiga puluh menit kemudian, mereka sudah sampai di depan sebuah taman yang di taman itu sudah di dekor sedemikian rupa. Bahkan sudah ada beberapa orang yang terlihat hadir mengisi kursi-kursi yang di sediakan di taman itu.


"Kau sangat cantik Sulli."


Sulli hanya tersenyum menanggapi pujian yang diberikan oleh Eil untuknya.


"Wah, siapa yang baru saja datang?" ucap Jerome menghampiri Eil, Nathan dan juga Alard. Dia berjongkok di depan Alard lalu memeluk bocah kecil itu.


"Paman sangat merindukanmu bocah kecil," ucap Jerome sambil menepuk punggung Alard lembut.


"Apa Ayah mu tidak ikut?" tanya Jerome yang kala itu sudah berdiri dan celingukan mencari sosok Lukas.


"Dia sedang sibuk Kak, jadi tidak bisa ikut ke sini."


Jerome menoleh ke arah sumber suara. Dia tersenyum lalu berjalan dengan tergesa dan langsung memeluk Amber.


"Selamat Kak. Aku sangat bahagia mendengar kabar kalau Kakak dan Kak Sulli akan segera menikah."


Jerome mengangguk. Tanpa sadar kedua orang itu menitikkan air mata. Selama ini mereka selalu hidup bersama dan menjaga satu sama lain. Namun sekarang, mereka sudah memiliki pasangan masing-masing. Itu artinya, mereka sudah tidak saling memiliki. Hanya rasa sayang yang tersisa di antara mereka. Jerome sudah mengikhlaskan Amber sejak lama. Kini giliran Amber yang harus belajar mengikhlaskan Jerome.


"Terima kasih karena selama ini Kakak sudah menjadi Kakak yang baik untuk ku."


Jerome mengangguk. Dia sangat bahagia karena sekarang usahanya untuk memiliki Sulli tinggal beberapa langkah lagi. Namun, ketika dia melihat Amber, ada perasan sedih yang dia rasakan. Entah kenapa, dia merasa ada sesuatu yang hilang. Dan dia sendiripun tidak tahu itu apa.


Lukas memperhatikan Amber dan Jerome dari jauh. Dia merasa ada sesuatu yang salah antara Amber dan Jerome, tatapan mereka, juga air mata yang mereka keluarkan memberikan kesan lain yang Lukas sendiripun tidak tahu itu apa.


Laki-laki itu masih terus bersembunyi di balik pohon. Dia tidak berani mendekat karena dia malu, dan dia tidak memiliki keberanian untuk itu.


Lukas merasa lega saat Jerome melapaskan pelukannya.


Jerome mengerutkan keningnya. Dia baru sadar akan satu hal, seharusnya dia bisa merasakan perut Amber yang semakin membesar saat dia memeluk nya bukan? Namun entah kenapa dia merasa perut Amber masih sama, masih rata seperti sebelumnya.


"Amber!" panggil Jerome menatap perut Amber dan berusaha untuk merabanya.


"Kenapa perutmu tidak membesar?" tanya Jerome yang merasa ada yang janggal.


Semua orang mendadak bisu. Tidak ada yang mau bersuara, bahkan Alard yang tadi terlihat sangat ceria kini malah menundukkan wajahnya. Jerome beralih menatap Eil, namun wanita itu juga membuang muka darinya.


"Amber katakan sesuatu!" pinta Jerome yang sudah mulai habis kesabaran.


"Aku kehilangan calon bayiku Kak."


...To Be Continued....