The Veil of Eileria

The Veil of Eileria
Kedatangan Eileria dan Nathan



"Jerome!" panggil Eilaria saat dia melihat seorang laki-laki yang bertelanjang dada sedang duduk di kursi tunggu dengan menutup wajahnya dengan kedua tangan.


Jerome mengangkat kepalanya. Dia langsung berdiri begitu melihat Eileria datang bersama Nathan yang selalu menemaninya kemanapun dia pergi.


"Apa yang terjadi? Kenapa Sulli bisa masuk rumah sakit? Apa kau tidak menjaganya dengan baik Jerome," hardik Eil yang sedang kalut memikirkan bagaimana kondisi Sulli di dalam.


Jerome menunduk. Dia tidak bisa mengatakan apapun. Dia juga tidak tahu apa-apa. Sebelum mereka tidur Sulli terlihat sangat sehat dan baik-baik saja. Namun entah kenapa tiba-tiba dia meringis kesakitan lalu tidak sadarkan diri.


"Jangan marah pada Jerome Baby! Aku yakin dia juga tidak ingin semua ini terjadi. Lihatlah penampilan nya! Dia pasti sedang khawatir sama seperti mu."


Nathan melepas jaket yang dia kenakan lalu memakaikannya kepada Jerome. Dia merasa sangat kasihan melihat penampilan Jerome yang terlihat seperti seorang gembel.


"Bagaimana keadaannya sekarang Jerome!" Eileria mencoba untuk sedikit lebih tenang. Yang dikatakan Nathan ada benarnya, mungkin Jerome juga sedang sangat khawatir saat ini.


"Aku tidak tahu Eil. Sejak tadi Dokter maupun Perawat belum ada yang keluar."


"Tenanglah! Sulli akan baik-baik saja." Nathan menepuk pundak Jerome beberapa kali.


Ketiga orang itu langsung menoleh saat seorang dokter keluar dari IGD. Jerome langsung menghampiri dokter itu. Begitupun dengan Nathan. Dia mendorong kursi roda Eil dan membawa wanita hamil yang sedang gundah itu mendekat kepada dokter dan Jerome.


"Bagaimana keadaan Sulli Dok?" tanya Jerome pada dokter itu.


Dokter yang menangani Sulli menghela nafas berat. "Maafkan saya Tuan. Namun sepertinya kita harus segera melakukan operasi."


Eil, Jerome maupun Ntahan terkejut mendengar penuturan dari sang dokter. Memang apa yang terjadi sampai Sulli harus melakukan operasi?


"Miom yang ada di rahimnya pecah. Kita harus melakukan operasi segera, kalau tidak ini akan membahayakan nyawa pasien. Siapapun walinya, tong pergi dan urus semua persyaratannya."


"Ya Tuhan, apa yang terjadi dengan sahabat ku? Kenapa dia harus mengalami ini semua?" Batin Eil berbicara.


Perlahan airmatanya menetes. Ini baru pertama kalinya bagi Eil melihat Sulli masuk rumah sakit. Biasanya wanita cantik itu sangat sehat dan selalu ceria.


"Jangan menangis Baby! Semuanya akan baik-baik saja. Kau tunggu di sini bersama dengan Jerome. Aku akan pergi sebentar untuk mengurus semuanya."


Eileria mengangguk. Dia beralih melihat dokter yang baru saja menyarankan untuk melakukan operasi.


"Apa operasinya bisa dilakukan sekarang Dok? Sampai kapan kita harus menunggu? Biarkan saja suamiku mengurus semua prosedurnya.


Dokter itu melirik Eileria. Dia sangat terkejut ketika melihat dokter ahli bedah jantung terbaik di rumah sakit itu datang menggunakan kursi roda. Tadi dokter itu tidak tahu karena dia pikir itu bukan Eil.


Sudah hampir dua bulan Eil tidak datang ke rumah sakit. Namun pemilik rumah sakit maupun seluruh penghuninya tidak ada yang tahu Eileria kemana. Dan saat dia melihat keadaan Eileria, dia baru tahu kalau selama ini Eil tidak datang ke rumah sakit karena dia terluka.


"Maafkan saya Dokter Eil. Tadi saya tidak melihat Anda."


Eiileria maupun Jerome mematung. Mereka tidak berani mengeluarkan suara. Apa yang harus mereka lakukan. Kemandulan adalah satu hal yang bosa membuat wanita sedih seumur hidupnya. Namun, kalau dia tidak bisa mengambil keputusan dengan cepat, nyawa Sulli mungkin akan dalam bahaya.


"Dokter bisa melakukan operasinya sekarang! Aku akan bertanggung jawab atas segalanya," ucap Jerome.


Eileria melirik Jerome tajam. "Kau pikir ini maslah kecil Jerome? Meskipun Sulli selamat, dia pasti tidak akan memiliki semangat hidup kalau dia tahu dia tidak akan bisa mengandung."


Jerome menatap Eileria tak kalah tajam. "Lalu kau akan membiarkan Sulli mati hah? Kau lebih memikirkan masa depan Sulli daripada kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi sekarang? Jangan berpikir terlalu jauh. Kalaupun kau menyelamatkan rahim Sulli, itu tidak akan berarti apa-apa kalau dia mati."


Eileria diam. Melihat Jerome yang sangat marah padanya membuat Eil sedikit takut. Laki-laki itu tidak pernah berani membantah ucapannya setelah dia tahu kalau Eil adalah atasannya ketika mereka masih dalam organisasi. Namun sekarang, laki-laki itu berani meneriakinya. Itu artinya Eil memang salah.


"Lakukan saja operasinya sekarang Dok!"


Eileria mendorong roda yang dia duduki menjauh dari Jerome. Dia harus pergi menjauh dari laki-laki itu, Eil takut dia akan habis kesabaran dan akan memberikan sumpah serapah pada Jerome.


"Baby!" panggil Nathan menghampiri Eileria lalu jongkok di depan kursi roda istri cantiknya itu.


"Ada apa? Kenapa kau menangis lagi?" tanya Nathan mengusap air mata Eil lembut. "Apa terjadi sesuatu? Katakan padaku Baby!"


"Hikssss ... Nathan Sulli! Dia , dokter mengatakan kalau dia tidak akan bisa hamil lagi. Apa yang harus kita lakukan Nathan? Aku~aku harus bagaimana? ... Hikssss ... Bagaimana ini Nathan?"


Nathan mendekap tubuh Eil ke dalam pelukannya. Dia juga tidak tahu harus bagaimana. Ini sudah kehendak Tuhan. Mereka tidak bisa melakukan apapun selain menunggu keajaiban terjadi.


"Kau harus sabar Baby! Ini semua sudah menjadi takdir Tuhan. Kita harus selalu berdo'a agar Sulli bisa cepat sembuh dan semoga Tuhan memberikan sebuah keajaiban pada Sulli!"


Eileria masih sesenggukan di dalam pelukan Nathan. Dia masih belum bisa menerima kalau Sullinya harus melewati masalah seperti ini. Rahim sudah seperti nyawa kedua untuk wanita. Dia masih takut kalau Sulli akan hancur ketika dia mengetahui kalau dia mungkin tidak akan bisa hamil lagi.


"Ini semua belum pasti. Kau jangan putus harapan, jangan pernah mendahului rencana Tuhan. Apa yang kita takutkan belum tentu terjadi. Kau harus positif thinking. Jangan terlalu larut dalam kesedihan. Kasihan calon bayi kita. Dia juga pasti ikut sedih kalau Mommy nya sedih seperti ini."


Eileria mengangguk. Dia tidak bermaksud untuk membuat calon bayi mereka sedih. Dia hanya tidak bisa menahan kesedihan dalam hatinya. Pikirannya kacau tal karuan. Hanya Sulli sahabat dekat yang dia miliki. Meskipun mungkin masih ada orang lain di sekitarnya, namun Sulli merupakan orang yang sepesial untuk Eil karena dia sudah mengenal Sulli sejak mereka masih remaja.


"Nathan!" panggil Eileria lirih.


"Ada apa Baby!" tanya Nathan melepas pelukannya. Dia mengusap punggung tangan Eil lalu mengecupnya lembut.


"Kita harus menikahkan Sulli dan Jerome."


"What?" pekik Nathan terkejut mendengar penuturan Eil. Wanita hamil itu mengucapkan kalimatnya sangat ringan seringan kapas yang terbang tertiup angin.


...To Be Continued....