The Veil of Eileria

The Veil of Eileria
Anggota Tim Baru



Bughhhhh..... Eileria melepas baju operasinya dan membantingnya ke lantai.


"Astaga.... Bagaimana bisa orang ceroboh sepertinya menjadi dokter bahkan sudah bergelar profesor."


Beberapa jam yang lalu di ruang operasi.


"Tekanan darah 80%, tingkat oksigen 90," ucap salah seorang perawat.


"Kita mulai," ucap Eil.


Dokter bedah mulai membuat sayatan pada kulit terluar pasien tersebut. Terus berlanjut sampai akhirnya jantung seseorang bisa terlihat dengan mata telanjang.


Eil mendekatkan matanya pada mikroskop yang dia gunakan untuk melihat detail terkecil pada jantung pasien yang akan dia bedah.


"Pisau!"


"Clip!"


" Buang jaringan yang sudah mati!"


Crooottttt... Darah segar muncrat mengenai wajah Eileria.


"Maaf, sepertinya aku memotong sesuatu yang lain." ucap seorang dokter bedah dengan tangan yang sudah bergetar hebat.


Eil maupun dokter dan beberapa perawat yang lain menjadi sangat panik.


"Tekanan darah 60%,"


"Stabilkan!"


"Suction!"


Di luar ruang operasi.


"Anda baik-baik saja Dokter?" tanya seorang perawat kepada Eil.


"Heummm... Dia siapa? kenapa kalian mengatur Dokter bedah gadungan di meja operasi ku?"


"Dia adalah putri dari salah satu petinggi di rumah sakit ini," ucap perawat itu menjelaskan.


"Pantas saja dia sangat tidak kompeten. Sekarang aku mengerti kenapa dia bisa menjadi seorang dokter bedah."


Eil merasa dongkol, sangat dongkol. Ya, dia tidak menyangka hal menyebalkan seperti ini akan terjadi dalam hidupnya. Dokter gadungan itu hampir membunuh seorang pasien karena ulahnya.


Tok Tok Tok.


"Masuk!" ucap seseorang dari dalam.


"Apa yang Anda lakukan Prof Albert? kenapa anda mengirim Dokter tidak kompeten ke meja operasi ku?," ujar Eil menatap sengit laki-laki tua yang sedang duduk di kursi kebesarannya.


Profesor Albert mendongakkan wajahnya menatap Eileria. "Aku tidak bisa berbuat apa-apa Dokter Eil. Dia memang akan menjadi rekanmu mulai sekarang. Bersikap baiklah padanya."


"Astaga... Anda benar-benar ingin membuatku naik darah Prof Albert. Apa tidak ada dokter lain selain dokter gadungan itu?"


"Kau memanggilku Dokter gadungan?" cicit seorang wanita yang berjalan mendekat ke arah Eileria. Eil membalik badannya dan melihat siapa orang yang sedang berbicara kepadanya.


"Kau!" ucap Eil saat melihat wajah wanita yang kini sedang tersenyum mengejek padanya.


"Beatrice Belle Alfira," ucap wanita itu sambil menyodorkan tangannya pada Eileria. Bukannya menerima uluran tangan Belle, Eil malah mendengus sambil memalingkan wajahnya. Belle tersenyum lalu menarik kembali tangannya.


"Kau masih bisa tersenyum setelah hampir membunuh seseorang?"


"Itu tidak sengaja Dokter Eil. Hal seperti itu bisa saja terjadi di ruang operasi."


"Kau pikir kau sedang bermain hah? kau menganggap situasi seperti itu adalah hal yang biasa?"


"Heummm... Tidak usah terlalu serius. Bukankah pasien itu baik-baik saja sekarang?" Belle dengan santainya malah kembali duduk di sofa sambil menyesap teh yang sudah di sediakan karyawan Albert.


"Dasar gila!" umpat Eil lalu keluar dari ruangan Prof Albert. Dia benar-benar di buat marah saat ini. Kekacauan yang di buat wanita ulat itu membuat darah di otak Eil mendidih.


"Harap pengertiannya! dia memang tidak bisa mengontrol emosi nya dengan baik," ucap Albert kepada Belle.


Di sisi lain....


"Jadi bagaimana menurut kalian?" ucap Nathan. Dia sedang berada di ruang rapat saat ini. Beberapa orang yang ada di hadapannya mengangguk sambil tersenyum. Mereka tahu, pendapat dari Nathan merupakan sebuah fakta. Jika Nathan sudah merekomendasikan sesuatu, maka mereka hanya tinggal menyetujuinya saja. Mereka tahu kalau Nathan ini sangat pandai bermain saham.


"Kami setuju dengan pendapat Anda Tuan."


"Baiklah , kalian bisa kembali ke meja kalian masing-masing. Rapat kita sudahi sampai di sini."


Tak Tak Tak


Sura heels yang beradu dengan lantai kian terdengar oleh Nathan. Laki-laki itu mengangkat kepalanya saat dia sudah ada di luar ruang rapat.


"Nathan," panggil Eil langsung menghambur ke pelukan sang suami.


Semua karyawan Nathan di buat terperangah ketika melihat seorang wanita cantik berlari dan langsung memeluk Presdir mereka tanpa merasa sungkan.


Sekertaris Nathan mengisyaratkan kepada semua karyawan untuk kembali bekerja dan tidak perlu menghiraukan urusan pribadi Presdir mereka.


"Dia masih sangat muda."


"Apa dia anak konglomerat?" penampilannya sangat luar bisa." Ya, meskipun baju yang di kenakan Eil tida mewah, tapi orang-orang yang melihatnya di buat kagum karena baju sederhana itu terlihat sangat apik di tubuh Eileria.


"Dia juga sangat cantik," ucap beberapa karyawan yang memperhatikan penampilan Eil dari atas sampai bawah.



Eil tidak menggerai rambutnya karena Nathan memang sudah melarangnya untuk tidak menggerai rambut ketika Eil tidak sedang bersama Nathan.


"Ada apa?" tanya Nathan yang merasa Heran karena Eil tiba-tiba datang ke perusahaannya tanpa memberitahu Nathan terlebih dahulu.


Bukannya menjawab Eil malah semakin mengeratkan pelukannya pada Nathan.


"Sedang ada masalah di rumah sakit?" tebak Nathan. Laki-laki melepaskan pelukan Eil lalu menggendongnya. Beberapa karyawan wanita memekik kegirangan ketika melihat adegan romantis atasan mereka dengan istri kecilnya. Iya. Mereka bisa melihat perbedaan tubuh Nathan dan Eil. Yang satu tinggi besar, dan yang satu bertubuh mungil.


"Aku cemburu," ucap salah seorang karyawan wanita yang mengintip dari balik mejanya.


Sekertaris Nathan menggeleng kan kepalanya. Dia di buat heran dengan sikap para wanita yang selalu bereaksi berlebihan ketika melihat adegan romantis.


Krieeettt... Pintu ruangan Nathan terbuka. Nathan mendudukkan dirinya di atas sofa masih dengan Eil yang berada dalam gendongannya.


"Masih belum mau cerita hmmm?" ucap Nathan. Tangannya terulur untuk melepas ikat rambut sang istri.


Eil mendongak. "Nathan!"...


"Heummm..."


"Aku sangat membenci mantan kekasihmu itu."


Nathan mengerutkan keningnya bingung saat mendengar ucapan sang istri. Bukankah Nathan tidak memiliki mantan kekasih. Lalu kenapa istrinya berbicara seperti itu.


"Si Ulat Bulu," ucap Eil sambil mengerucutkan bibirnya kesal.


"Belle?" tanya Nathan pada Eil. Eil mengangguk. Dia kembali membenamkan wajahnya di dada bidang sang suami.


"Dia bekerja di rumah sakit yang sama dengan ku. Dia juga berada di timku sekarang." Eil memutar-mutar jari telunjuknya di dada Nathan.


"Lalu kenapa? abaikan saja dia, kenapa kau harus terpengaruh oleh orang seperti Belle?"


"Dia hampir melenyapkan pasienku Nathan. Kau bisa bayangkan bagaimana dongkolnya aku karena harus membereskan kekacauan yang dia buat?" Eil mendorong bahu Nathan hendak bangun dari pangkuan suaminya.


Settttt... Nathan kembali mendudukkan Eil. "Jangan marah. Aku tidak tahu kalau dia membuat masalah dengan mu. Kau harus sabar, terkadang beberapa hal memang tidak berjalan sesuai dengan apa yang kita inginkan. Jangan kalah dengan Belle! aku tahu kau wanita tangguh Eil. Aku percaya padamu."


Eil menghela nafas panjang lalu menghembuskan nya perlahan. Dia tahu, saat ini dia harus mengalah.


"Aku akan membuatmu mundur dari timku Ulat Bulu."


...To Be Continued....


...Hai reader jangan lupa like dan komennya ya. Thank you.🤗🤗...