The Veil of Eileria

The Veil of Eileria
Sebuah Tekad



Dia hendak membuka kembali pintu mobilnya tapi Nathan langsung menariknya dan membawanya ke dalam pelukannya.


"Aku sangat merindukanmu Eileria."


"Lepaskan aku Nathan. Kita tidak bisa seperti ini, kau dan aku adalah dua orang yang sangat berbeda. Kau orang yang sangat jujur dan taat pada hukum, tapi aku tidak seperti itu, aku berbeda," ucap Eil. Dia memberontak karena ingin lepas dari pelukan suaminya.


Eil bukan tidak merindukan Nathan, tapi sekarang bukan waktu yang tepat baginya untuk kembali. Urusan nya dengan Belle dan juga yang lain belum selesai. Nathan bisa berada dalam bahaya jika dia terus berada di sisi nya.


"Aku merindukanmu Eil. Aku sangat merindukanmu Baby."


Nathan melepas pelukannya. Dia menatap mata Eil lekat, namun yang di tatap malah memalingkan wajahnya tidak mau melihat ke arah Nathan.


Ssttttt....


Nathan melepas masker yang Eil menakan. Eil refleks menutup pipinya menggunakan telapak tangan. Kenapa Nathan bersikap seperti ini, sebenarnya apa yang terjadi.


"Tatap mata ku Eil!" titah Nathan. Dia menarik bahu Eileria ketika wanita cantik itu tidak menggubrisnya sama sekali.


"Apa yang kau sembunyikan?" tanya Nathan menarik tangan Eileria yang masih memegangi pipinya .


Eil kembali memalingkan wajahnya. Dia tidak ingin Nathan melihat luka di pipinya. Luka itu belum sembuh total, dia masih harus melakukan perawatan supaya bekas lukanya bisa hilang dengan sempurna.


"Jadi benar yang di katakan Alard, kau memang pergi menolongnya. Tapi kenapa kau menyembunyikan ini dari kita semua? Alard bilang kau di pukul, apa sekarang kau sudah baik-baik saja?" tanya Nathan khawatir.


"Aku baik-baik saja Nathan, aku melakukan itu karena aku tidak mau membuat semua orang khawatir. Alard sudah selamat dan sudah kembali sehat saja aku sudah senang."


Nathan menghela nafas berat. Dia benar-benar tidak habis pikir, kenapa Eil bisa se ceroboh ini, dia mengorbankan dirinya sendiri untuk menolong Alard, tapi dia pura-pura tidak terjadi apa-apa.


Nathan mengulurkan tangannya menyentuh luka yang ada di pipi Eil. Ini pasti sakit, wajah mulusnya tergores cukup panjang. Tapi meskipun begitu, Eil masih tetap cantik.


"Maafkan aku karena tidak bisa melindungi mu Eil. Aku menyesal karena telah membuatmu berada dalam situasi yang sulit. Aku ingin kau pulang Eil. Kita mulai semuanya dari awal lagi ya!" Pinta Nathan, pada istri kecilnya.


"Nathan, aku ini seorang pembunuh. Kau tidak bisa menerima ku begitu saja. Apa yang akan Ayah dan Lukas katakan kalau mereka sampai tahu jati diriku yang sesungguhnya."


Nathan menggeleng. "Aku tidak perduli dengan itu Eil. Aku ingin kau tetap ada di sampingku. Kemarin lusa aku bertemu dengan seseorang yang mengenalmu."


Eil menatap Nathan dengan alis yang bertaut. "Apa maksudmu Ntahan? siapa yang kau temui? apa yang dia katakan?" tanya Eil mulai terlihat penasaran.


"Aku akan menceritakan semuanya. Tapi tidak di sini," ujar Nathan. Dia menarik Eil dan membawanya masuk ke dalam mobilnya. Setelah mendudukkan Eil di dalam mobilnya, Nathan menutup pintu mobil itu dan berjalan ke arah mobil Eileria.


Dia meraih kunci yang tergantung di sana, setelah mengunci mobil Eil, dia membawa kunci itu dan masuk kedalam mobilnya sendiri.


"Kau ingin membawaku ke mana Ntahan?" tanya Eil. Dia melirik Nathan yang sedang fokus mengendarai mobil mewah nya.


"Kita hanya akan pergi ke sebuah cafe bukan pergi ke hotel. Kau tidak perlu khawatir."


Tiga puluh menit kemudian, Nathan dan Eil sudah sampai dei sebuah cafe pinggiran jalan yang terlihat ramai tapi sangat nyaman.


"Ayo!" ajak Nathan. Dia mengulurkan tangannya dan menuntun Eil untuk keluar dari dalam mobil.


"Langsung saja Nathan!" titah Eil yang tidak ingin basa basi.


Nathan tersenyum lalu mulai mengatakan sesuatu.


"Sebenarnya......"


Satu minggu yang lalu. Di rumah sakit yang yang sama. Di rumah sakit yang di tempati Alard.


Nathan diam termenung di lorong rumah sakit. Dia masih menatap bingung pintu kamar Alard. Apa yang Alard ucapkan padanya membuatnya tidak bisa berpikir dengan jernih. Di sisi lain dia sangat ingin menemui Eil dan menanyakan segalanya pada wanita cantik itu. Tapi di sisi lain, masih ada keraguan di dalam hatinya.


"Apa yang sedang kau lakukan Anak Muda?" tanya Seseorang.


Nathan mendongak. Dia melihat seorang laki-laki paruh baya yang menggunakan kursi roda sedang tersenyum ke arahnya.


"Maaf Anda siapa?" tanya Nathan. Dia memang tidak mengetahui dan tidak mengenal siapa laki-laki paruh baya yang sedang ada di hadapannya.


"Kau tidak perlu tahu siapa aku. Tapi aku tahu kau siapa. Aku juga tahu siapa istrimu. Aku mengenal nya."


Nathan semakin di buat penasaran. Apa benar orang ini tahu siapa Eil. Dia saja baru tahu semua tentang Eil belakangan ini. Tapi kenapa orang ini bertingkah seolah-olah dia sudah mengenal Eil sejak lama.


"Kau tahu siapa istriku?" tanya Nathan memastikan.


Laki-laki itu mengangguk. "Dia adalah wanita yang baik Nathan, dia hanya sedang terjebak dengan memori masa lalunya. Kau juga tahu kalau orang tuanya meninggal saat dia masih remaja. Dia itu belum bisa mengontrol emosi dan pikirannya kala itu. Apa yang terjadi pada Ayahnya membuat dia menanam dendam di dalam hatinya. Aku tahu kau sudah mengetahui semua fakta tentang istrimu. Tapi kau juga harus mengetahui kenapa dia sampai seperti itu."


Nathan masih diam dan memperhatikan. Mungkin selama ini dia memang belum mengenal Eileria dengan baik.


"Kau harus bisa membuat Eil keluar dari dunia hitamnya Nathan. Dia adalah wanita yang baik. Kau harus bisa menolong nya."


Setelah menepuk pundak Nathan beberapa kali, Inocenzio pergi meninggalkan Nathan. Dia tersenyum tipis ketika melihat Nathan hanya diam mematung seperti orang bingung.


"Kalian harus bahagia Nathan, Eil. Jangan membuat diri kalian tersakiti. Cinta yang kalian miliki harus membawa perubahan baik untuk masa depan kalian."


Sepeninggalan Inocenzio, Nathan melamun. Dia berpikir dengan sangat keras. Kalau memang yang di katakan laki-laki itu benar, berarti Nathan memang harus membantu Eil. Dia harus membawa Eil kembali ke jati dirinya yang sebenarnya.


Nathan sudah sangat mencintai Eil. Dia tidak bisa melepaskan Eil begitu saja. Dia harus meluruskan semua masalahnya dengan Eil. Dia tidak boleh egois. Eil pernah memaafkan nya ketika dia melakukan kesalahan yang fatal, mungkin Nathan juga harus memberikan Eil kesempatan untuk memperbaiki segalanya.


"Aku akan mencari mu dan membawamu kembali Baby."


...To Be Continued....