
Keesokan harinya, saat Naila sudah selesai beres-beres dan masak, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu pagi-pagi. Naila mengernyitkan dahi, menimbang-nimbang siapa yang datang sepagi ini, Naila melihat jam masih jam enam lewat sepuluh menit. Dan ini waktunya mandi, sarapan lalu berangkat sekolah.
Suara ketukan pintu masih terus mendengar, akhirnya dengan rasa malas Naila pun berjalan ke arah pintu dan membukannya. Dan betapa kagetnya Naila saat melihat orang yang kini tengah berdiri di depan pintu sambil menatap wajah Naila dengan raut wajah yang penuh kerinduan.
"Bunda," ucap Naila sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya sangking terkejutnya. Bagaimana ia tidak terkejut, jika tiba-tiba ia melihat Bundanya yang selama ini ia rindukan tiba-tiba sudah ada di depan mata.
"Kenapa, Nai?" tanya Bunda Ila terkekeh.
"Ya Allah, ini Bunda beneran?" tanya Naila memastikan, sangking masih shoknya.
"Kamu fikir siapa, hantu?" tanya balik Bunda Ila.
"Ya Allah Bunda, Nai kangen." Naila langsung menghampiri Bunda Ila dan memeluknya. Ia menangis sesegukan karena akhirnya setelah sekian lama, ia bisa bertemu dengan Bundannya lagi. Bunda Ila pun memeluk putri semata wayangnya itu tak kalah eratnya. Ia juga sangat-sangat merindukan Naila.
Sejujurnya pekerjaan Bunda Ila masih banyak di sana, namun sejak kemaren, ia tak bisa berhenti memikirkan putrinya, untuk itulah, ia berusaha mencuri-curi waktu agar bisa pulang lebih cepat dan bisa bertemu dengan putrinya ini. Walaupun sebentar, setidaknya rasa rindunya sudah terobati dan ia bisa memastikan jika putrinya itu baik-baik saja.
"Bunda kok gak bilang sih, kalau mau pulang?" tanya Naila dengan bibir mengerucut, karena kesal. Untung aja dirinya sudah pulang kemaren dan langsung bersih-bersih rumah, andai ia masih ada di rumah Marfel, entah apa yang akan terjadi. Mungkin Bundannya akan kecewa berat jika tau kalau putrinya menginap di rumah orang dan membiarkan rumahnya kotor karena gak di tempati.
Naila bersyukur banget, ia mengikuti kata hatinya, untuk pulang lebih cepat ke rumahnya. Bahkan kemaren sepulang sekolah, ia masih harus bersih-bersih rumah sampai malam. Dan kini, Bundannya pulang di saat rumah sudah bersih dan Naila benar-benar bersyukur akan hal itu.
"Bunda ingin ngasih kejutan, Nai. Bunda juga kangen banget sama kamu. Tapi Bunda gak bisa lama, soalnya nanti sore, Bunda harus balik lagi ke Bali. Karena yang di sana belum selesai, gak papakan?" tanya Bunda Ila.
"Enggak papa kok, Bun. Yang penting Nai sudah bertemu Bunda dan bisa melepas kangen," jawab Naila sambil melepas pelukannya. Mereka berdua masuk ke dalam, Naila juga membantu sang Bunda
"Ini rumahnya bersih banget, Nai. Harum banget lagi. Gordennya kamu ganti yang baru?" tanya Bunda Ila melihat rumahnya super bersih tanpa debu. Bahkan semuanya tertata rapi.
"Iya, Bunda. Yang lama aku cuci belum kering, aku jemur di samping rumah," jawab Naila sambil menaruh tas besar itu di kamar Bunda.
"Itu yang di kresek kue, Nai. Kamu taruh di wadah apa gitu, biar gak gampang basi taruh aja di kulkas juga," tutur Bunda Naila sambil melihat-lihat rumahnya. Ia bersyukur Naila bisa merawat rumahnya dengan baik.
"Kamu sudah masak?" tanya Bunda Naila saat melihat di ruang makan, sudah ada nasi dan beberapa lauk dengan porsi sedikit.
"Iya, Bunda. Bunda lapar, gak? Ayo kita makan bareng. Hehe maaf ya, dikit. Soalnya Nai gak tau, kalau Bunda mau datang. Kalau tau, pasti Nai akan masak dengan porsi yang lumayan banyak."
"Enggak papa, Nai. Ini juga cukup kok buat kita berdua. Ayo makan, Bunda sudah gak sabar pengen nyicipin masakan kamu, sudah lama Bunda gak makan makanan kamu, Nai," ujar Bunda Ila sambil duduk di kursi makan. Naila pun mengambil dua gelas dan mengisinya dengan air putih.
Bunda Ila dan Naila mengambil Nasi dan lauk pauknya. Lalu makan bersama.
"Masakan kamu lebih enak ketimbang yang terakhir Bunda makan, Nai. Lebih enak ini, kamu makin jago masak," puji Bunda Ila.
"Makasih, Bunda," jawab Naila yang senang karena masakannya di puji. Naila emang memadukan resep miliknya dan resep yang di ajari oleh Ibu Maria, Mamanya Marfel.
"Kamu gak sekolah?" tanya Naila.
"Aku libur aja hari ini, Bun. Jarang-jarang aku bisa bertemu Bunda, dan lagian Bunda juga kan soreĀ ini sudah harus balik ke Bali. Jadi Nai ingin menghabiskan waktu bersama Bunda di sini."
"Iya sudah gak papa, tapi lain kali jangan bolos ya. Apalagi kamu sudah hampir kelas tiga. Dan kelas tiga aja cuma beberap bulan. Bunda ingin kamu dapat nilai yang bagus agar kamu bisa meraih impian kamu. Kamu jadi kan, kuliah di fakultas kedokteran?" tanya Bunda Ila sambil menikmati makanannya.
"Jadi kok, Bun. Nai juga masih terus belajar sampai saat ini dan selalu dapat nilai bagus."
"Syukurlah Bunda seneng dengernya," tutur Bunda Ila.
Sedangkan Naila hanya tersenyum sedih, karena ia bingung bagaimana caranya memberitahu jika Marfel ingin melamarnya. Ia takut akan mengecewakan Bundannya yang sudah susah payah bekerja untuknya, untuk masa depannya yang cerah itu.
"Kamu kalau ada yang mau di omongin, ngomong aja, gak usah takut," ujar Bunda Ila yang masih menatap putriinya yang malah seperti salah tingkah.
"Itu anu, Bun. Ada seseorang yang ingin melamar, Nai," jawab Naila tersenyum malu.
"Melamar? Siapa?" tanya Bunda Ila terkejut. Pasalnya setau dirinya, putrinya itu belum punya pacar. Tapi sekarang, baru di tinggal sebentar, putrinya sudah mengatakan ada yang melamar.
"Gurunya aku, Bun."
"Guru, dia sudah tua? Kamu mau di jadikan istri kedua?" tanya Bunda Ila terkejut. Bahkan ia sampai memegang dadanya sangking terkejutnya.
"Bukan, Bunda. Dia masih muda. Dia cuma jadi guru pengganti di sana. Gak lama kok, sekitar tiga bulan kalau gak salah. Dia juga putra dari kepala sekolah. Dan Dia juga presiden direktur di PT MAP. Karena dia pemilik dan pemegang saham terbesar di sana. Dan yang penting dia belum menikah, Bun. Masih muda," ucap Naila meluruskan. Mendengar perkataan Naila, Bunda Ila pun bernafas lega.
"Tadi malam, dia datang bersama kedua orang tuanya, Bun. Dan mereka ingin bertemu Bunda, sayangnya Bunda gak ada di rumah," lanjut Naila lagi.
"Datang?"
"Iya, Bunda. Untuk silaturahmi."
"Terus kamu gimana? Kamu suka padanya?" tanya Bunda Ila dan Naila pun menganggukkan kepala.
"Kalau kamu di lamar, terus bagaimana dengan seekolah kamu, Nai. Bukannya kamu mau jadi dokter?" tanya Bunda Ila lagi yang sudah menyelesaikan makannya dan kini menatap putrinya.
Sebenarnya kurang enak ngobrol di meja makan kayak gini, tapi mau bagaimana lagi, semuanya berawal dari meja makan dan di akhiri di meja makan, biar tuntas sekalian.
"Katanya sih, Mas Marfel janji akan tetap melanjutkan sekolah aku, Bun. Bahkann dia janji akan mendukung aku seratus persen."
"Jadi namanya Marfel?" tanya Bunda Ila.
Naila menganggukkan kepala.
"Bisahkan dia datang ke sini hari ini? Bunda ingin bertemu sebelum Bunda pergi ke Bali lagi," ujar Bunda Ila.
"Nanti aku akan kirim pesan sama Mas Marfel, Bun."
"Kamu beneran mencintainya?" tanya Bunda Ila dan lagi-lagi Naila pun menganggukkan kepalanya.
"Iya sudah, mau bagaimana lagi. Jika jodoh kamu datang lebih cepat dari perkiraan Bunda. Bunga gak bisa apa-apa, Nai. Tapi Bunda harus mastikan dulu, dia orang baik apa gak. Kalau sudah mapan, kayaknya dia sudah mapan kalau denger cerita kamu tadi."
"InsyaAllah dia baik, Bun. Aku kenal sama orang tua nya juga. Mereka baik banget."
"Kamu sudah kenal?" tanya Bunda Ila kaget.
"Kan tadi malem ke sini, Bun. Dan lagian Papanya Mas Marfel, kepala sekolah di tempat aku. Terus waktu Mas Marfel sakit, aku selalu jenguk Mas Marfel di sana, dan ketemu sama Tante Maria. Makanya deket," ucap Naila, ia tak membahas masalah ia menginap di rumah sakit dan di rumah Marfel. Karena takut jika Bundanya akan marah.
"Ternyta sudah sejauh itu hubungan kalian?" tanya Bunda Ila.
"Iya sudah, Bunda mau istirahat dulu Nai. Capek, usahakan nanti dia ke sini ya, Nai. Bunda ingin tau dan kenalan sama dia."
"Iya, Bun."
Setelah Bunda Ila meminum segelas air, dia pun bangkit dari tempat duduknya dan pergi ke kamarnya. Sedangkan Naila, ia memberesakan piring kotor di meja makan, lalu langsung mencucinya biar gak numpuk di wastafel. Setelah itu, dia pergi ke kamar dan mengambil hpnya.