Novemberain

Novemberain
Sarapan Pagi dari Camer



Keesokan harinya Naila, bangun setelah Marfel membangunkannya. Ia melihat Marfel yang ternyata sudah selesai sholat. Naila menatap ke arah Marfel. "Ada apa?" tanya Marfel merasa heran karena ditatap seperti itu.


"Gak papa, aku mau cuci muka dulu," ujar Naila dan Marfel pun menganggukkan kepala. Naila berjalan ke arah kamar mandi, dengan mata tertutup, lalu ia membentur dinding di samping kamar mandi. "Aw," ujarnya merasa sakit. Melihat Naila kesakitan, Marfel langsung menghampirinya.


"Ada apa?" tanya Marfel sambil melihat kening yang di usap-usap oleh Naila.


"Nabrak dinding," jawabnya dengan mendesis menahan sakit.


"Makanya kalau jalan itu, jangan tutup mata. Sini lihat," Marfel memegang tangan Naila yang mengusap keningnya sedari tadi. Marfel melihat memang Kening Naila kemerahan akibat insiden tadi. Marfel pun mengusapnya dengan pelan dan meniupnya.


"Masih sakit?" tanya Marfel dan Naila menggelengkan kepalanya. Sungguh jantuny rasanya seperti melompat, apalagi mereka sedekat ini. Naila mencoba untuk menghindar dan berjalan lalu masuk ke kamar mandi, tak lupa ia menutup pintunya dengan keras membuat Marfel kaget seketika. Untung dia gak punya penyakit jantung, jadi aman.


Marfel mengusap dadanya yang masih sok, gara-gara ulah Naila. Lalu ia duduk di sofa sambil nunggu Naila keluar dari kamar mandi.


"Mas," panggil Naila sambil menjulurkan kepalanya dari sela-sela pintu.


"Ada apa?" tanya Marfel.


"Anu, aku boleh minta tolong gak?" tanyanya.


"Minta tolong apa?" tanya Marfel lagi.


"Aku tadi lupa gak bawa handuk,"


"Oh."


"Sekalian ambilkan celana dalamku ya sama pembalut,"


"APA!" Tanpa sadar, Marfel meninggikan suaranya, gak nyangka, Naila gak ada malu-malunya meminta hal itu.


"Hehe, aku lagi males keluar nih. Apalagi rokku basah, aku juga ladi deras-derasnya, aku minta tolong ya," ucap Naila dengan memelas.


Mau tak mau, Marfel pun mengiyakan. Dengan jantung yang berdebar-debar, ia membuka lemari Naila yang tertata rapi dan mengambil segitiga warna maroon dan juga pembalut yang ada di sana. Setelah itu ia menutup pintu itu kembali. Namun belum juga menutup dengan rapat, Naila sudah bersuara lagi.


"Sekalian sama seragam ya, Mas. Aku langsung mandi soalnya. Jangan lupa BH juga."


Astaga apalagi ini, apakah dirinya lagi belajar berperan jadi suami sungguhan. Namun anehnya, Marfel tak bisa menolak. Ia membuka lemari itu lagi, dan mengambil apa yang Naila suruh.


Dengan tangan bergetar, ia mengambil BH milik Naila ternyata ukurannya 36. Marfel juga mengambil rok warna coklat dan seragam warna coklat muda. Tak lupa kaos warna putih, iket dan juga hijabnya lengkap. Bahkan Marfel juga mengambilkan ikat pinggannya juga.


Lalu setelah itu, ia menutup pintu lemari itu. Dan mengambil handuk yang ada di samping lemari lalu berjalan ke arah kamar mandi.


"Nai, buka."


"Iya, Mas."


Setelah itu, Naila pun membuka pintunya, dirinya masih pakai baju lengkap namun sudah basah sebagian.


"Makasih ya, Mas."


"Iya, sama-sama."


Setelah itu, Naila menutup pintunya dan Marfel kembali duduk di sofa dengan jantung yang dag-dig-gud-dar, seperti orang yang baru selesai lari jarak jauh.


Dua puluh menit kemudian, Naila keluar dengan memakai baju seragam sekolahnya, lalu ia menaruh baju kotornya itu dalam kantong kresek. Nanti akan ia cuci sendiri di rumahnya. Yah, dia memilih untuk mencuci bajunya sendiri sekalian mau pulang dan beres-beres rumah. Toh jemurnya juga di dalam, jadi misalpun hujan dan gak di angkat, gak akan basah.


"Mau di bawa kemana baju kotornya, Nai??" tanya Marfel.


"Mau aku cuci aja di rumah, Mas."


"Loh kan di rumah sakit ini ada loundry, Nai."


"Iya sih, tapi aku lebih puas kalau dicuci sendiri. Oh ya, Mas baju yang di loundry sudah kering belum?" tanyanya.


"Oh ya aku lupa, itu sudah selesai. Kemaren sudah di kasih, tuh di sana." Marfel menunjuk ke arah meja yang dekat pintu. Naila pun mengambilnya dan membongkarnya. Bajunya di pisah, baju miliknya ia taruh di lemarinya sendiri. Sedangkan baju Marfel di taruh di lemarinya sendiri, bersebelahan dengan lemari Naila.


"Oh ya, katanya mau ngerjakan tugas sekarang?" tanya Marfel mengingatkan.


"Astagfirullah, hampir aja lupa." Naila buru-buru mengambil buku tugasnya dan menaruhnya di meja.


"Aku bantu ya, biar cepet," ujar Marfel. Dan Naila pun tak menolaknya.


Saat Marfel tengah membantu Naila mengerjakan tugasnya, tiba-tiba pintu kamarnya terbuka. Naila dan Marfel melihat ke arah pintu itu.


"Ngapain, Nak?" tanya Ibu Maria sambil menaruh rantang makanan di meja.


"Ini, Tan. Lagi ngerjakan tugas," jawab Naila tersenyumm.


"Mama bawa apa?" tanya Marfel.


"Makanan buat kamu dan Naila," jawab Ibu Maria sambil duduk di sofa begitupun Pak Atmaja.


"Makasih ya, Tante, Om. Maaf merepotkan," ucap Naila tak enak hati.


"Gak merepotkan kok, lagian kan sekalian ke sini. Tadi malam pulang jam berapa Nai?" tanya Ibu Maria.


"Jam setengah sepuluh, Tan," sahut Naila sambil menutup bukunya karena sudah selesai mengerjakan tugas. Tak lupa ia melihat jadwalnya lalu menukar buku yang ada di dalam tas dengan buku lain.


Pak Atmaja melihat Naila yang tengah memasukkan buku ke dalam tasnya.


"Kalau pulang jangan malam-malam, Nak. Bukan apa, Tante gak mau jika Naila kenapa-napa. Soalnya kalau malam itu sangat rawan," ujar Ibu Maria, bagaimanapun ia harus ikut menjaga Naila, calon menantunya di masa depan sekaligus ibu dari cucu-cucunya kelak.


"Iya, Tante," sahut Naila tanpa membantah.


"Iya sudah makan dulu, Nai. Biar nanti kamu berangkat sama Om ke sekolah," ujar Pak Atmaja karena memang setelah ini, dirinya harus ke sekolah. Ia pergi ke rumah sakit karena mengantarkan istrinya untuk menjenguk putranya yang sebetulnya sudah sembuh sepenuhnya itu.


"Nai, berangkat sendiri aja Om. Gak enak juga kalau sampai dilihat teman-teman. Lagian Nai bawa motor sendiri, ada di parkiran sekarang."


"Iya sudah." Pak Atmaja pun tak memaksa.


Naila dan Marfel pun sarapan pagi yang di bawakan oleh Maria. Selesai makan, mereka mengobrol sebentar. Lalu setelah itu, Pak Atmaja pamit untuk berangkat lebih dulu.


"Mas, aku juga mau berangkat ya, sudah siang ini," ujar Naila.


"Iya, jangan ngebut-ngebut ya. Mas gak mau kamu kenapa-napa."


"Iya, Mas."


Setelah itu, Naila pun mencium tangan Marfel dan Ibu Maria.


"Loh Fel, kamu gak kasih uang saku buat Naila," goda Ibu Maria.


"Enggak usah, Tan. Nai sudah ada kok," ucap Naila tak enak hati. Namun sayangnya, ucapan Mamanya itu di anggap beneran oleh Marfel. Marfel mengambil dompetnya dan memberikan kartu, namun Naila menolak. Akhirnya Marfel memberikan uang dua ratus ribu. Namun Nai, cuma ambil lima puluh ribu aja, sedangkan seratus lima puluh ribunya, ia kembalikan ke Marfel.


"Aku ambil lima puluh ribu aja ya, Mas. Soalnya kalau dua ratus kebanyakan. Lagian aku jajan aja gak sampai dua puluh ribu," ujar Naila dan Marfel pun menganggukkan kepala.


"Iya sudah gak papa, tapi terima kartu ini ya. Buat jaga-jaga." Marfel setengah memaksa, Naila melihat ke arah Ibu Maria. Ibu Maria pun tersenyum sambil menganggukkan kepala.


"Ambillah Nai, lagian gak baik nolak rezeki."


"Iya, Tan. Makasih ya, Mas."


"Sama-sama."


"Nai berangkat dulu, Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam. Dan setelah itu, Naila pun pergi dari sana. Sebenarnya ia merasa gak enak menerima kartu dari Marfel, lagian ia sendiri juga punya tiga kartu, dua kartu dari Bundannya dan satu kartu miliknya sendiri dan sekarang ia di kasih kartu sama Marfel. Jadi sudah ada empat kartu yang ia pegang. Padahal Naila sendiri jarang beli barang-barang seperti yang lainnya, paling mentok ya cuma beli makanan.


Saat hampir di pintu utama rumah sakit, tiba-tiba Naila keingat dengan baju kotornya, akhirnya ia pun kembali ke kamar Marfel. Ia mengetuk pintu dan membuka pintu itu.


"Ada apa, Nai?" tanya Marfel melihat Naila kembali.


"Hehe baju kotorku ketinggalan," ujar Naila malu karena ada Mamanya Marfel.


"Oh ya sudah sana ambil," ujar Marfel dan Naila pun mengiyakan. Ia masuk dan mengambil baju kotornya itu. Lalu setelah itu, ia pun pamit lagi dan segera pergi dari sana.


Sesampai di parkiran, ia segera memasang helmnya. Tak lupa ia membuka jok belakang sepeda motornya dan memasukkan baju kotornya itu di dalam jok, untung saja jok nya besar, jadi bisa menampung baju-baju kotornya. Setelah selesai, ia pun mengemudikan sepeda motornya. Kali ini ia tak perlu mengebut karena waktunya sangat cukup, dan mungkin ia akan sampai sepuluh menit sebelum bell sekolah berbunyi, itupun kalau gak macek.


Saat di lampu merah, ia melihat ada anak kecil, kurus dan kusut menawari tisu padanya.


Naila pun mengambil tisunya satu dan memberikan uang lima puluh ribu buat adik itu. "Ambil aja kembaliannya, Dek," ujar Naila.


"Makasih ya, Kak," ucap anak laki-laki itu dengan wajah cerianya. Meliha hal itu, Naila merasa terenyuh. Ia punya banyak uang, namun ia malah membiarkan uang itu gitu aja di ATMnya, andai ia bisa menolong adik-adik jalanan, mungkin uangnya jauh lebih bermanfaat ketimbang hanya di taruh dan gak di apa-apain. Memikirkan itu membuat Naila mempunyai sebuah ide. Namun akan ia membicarakan masalah ini dulu dengan Marfel.  Karena bagaimanapun ia butuh seorang partner untuk menjalankan ide yang ada di kepalanya itu.