
Keesokan harinya saat Naila mau berangkat sekolah, ia melihat Fahmi yang duduk santai di depan rumahnya.
"Kak Fahmi, ngapain ada di sini?" tanya Naila kaget.
"Aku mau minta maaf. Maaf karena tadi malem aku gak bisa jemput kamu. Maaf karena aku gak bisa ngangkat telvon kamu dan maaf karena aku gak bales chat kamu." Ujar Fahmi dengan wajah pucatnya.
"Aku sudah maafin kakak. Aku juga yakin kakak melakukan itu juga pasti ada alasannya." Ujar Naila tersenyum yang memang gak menaruh dendam karena Fahmi yang sudah ingkar janji.
"Terima kasih Nai. Untuk menebus kesalahanku, aku akan mengantarkan kamu sekolah." Ucap Fahmi.
"Gak usah kak, lebih baik kakak pulang aja dan istirahat. Aku lihat wajah kakak sangat pucat. Kakak boleh mengantarkan aku sekolah jika kakak sudah sembuh." Ujar Naila
"Tapi Nai..............."
"Plis kak, tolong jangan paksa aku. Bukan aku marah sama kakak tapi aku kasihan dan gak tega melihat kakak kayak gini." Ucap Naila.
"Baiklah aku akan pulang dan istirahat tapi dengan satu syarat." Ujar Fahmi.
"Apa?"
"Kamu pakai sepeda motor aku untuk sekolah."
"Tapi kak?"
"Bukankah sepeda motor kamu belum kamu perbaiki. Jadi lebih baik kamu gunakan aja sepeda motor aku untuk berangkat sekolah dan berangkat ke resto."
"Terus kakak naik apa?"
"Kamu jangan mikirin aku Nai. Aku baik baik saja, aku bisa naik taksi atau meminta seseorang untuk jemput aku." Jawab Fahmi tersenyum.
"Kak, mending sepeda motornya bawa kakak aja. Biar aku yang naik taxi..."
"Mau pakai sepeda kakak atau kakak antarkan?" tanya Fahmi.
"Baiklah, aku akan menggunakan sepeda motor kakak untuk berangkat sekolah. Terima kasih ya kak karena selalu ada buat aku. Dan maaf karena aku selalu merepotkan kakak." Ucap Naila.
"Gak papa, aku senang di repotkan sama kamu. Lebih baik kamu berangkat aja sekarang biar gak telat."
"Baiklah, kakak pulangnya hati hati ya."
"Iya. Ini kuncinya dan ini STNK nya." Ujar Fahmi sambil memberikan kunci sepeda motor sekaligus STNK nya.
"Makasih kak." Ucap Naila sambil mengambil kunci sepeda motor dan juga STNK milik Fahmi.
"Iya sama sama."
"Aku berangkat dulu. Asslamu'alaikum."
"Waalaikumsalam."
Setelah itu Naila pun segera berangkat sekolah dengan menggunakan sepeda motor milik Fahmi sedangkan Fahmi menelfon seseorang untuk menjemputnya.
Sesampai di sekolah, Naila langsung memarkirkan sepeda motornya.
"Cie........cie......sepeda motor baru nih ye......" Ucap Rani sahabatnya.
"Bukan, ini bukan sepeda motor milik aku. Ini punya orang, aku pinjem. Soalnya punyaku mesinnya gak tau kenapa macek dan belum aku bawa ke bengkel." Ujar Naila.
"Oh tak fikir kamu ganti yang baru."
"Enggaklah, ngapain ganti yang baru kalau yang itu saja masih bagus."
"Iya juga sih. Iya udah ayo masuk." Ajak Rani.
Naila dan Rani pun masuk ke dalam kelas.
"Hei Ran, Nai. Tumben datengnya barengan gini? Kompak banget?" tanya Ayu.
"Enggak kog, tadi pas aku datang. Naila juga datang. Jadi sekalian deh ke sini nya bareng." Jawab Rani sambil duduk di kursi begitupun dengan Naila.
"Sudah mengerjakan PR nya Pak Marfel belum?" tanya Firoh.
"PR?" tanya Naila karena seingatnya Pak Marfel gak ngasih tugas apapun.
"Iya, emang kamu lupa ya? Bukankah Pak Marfel memberikan kita tugas pas di akhir pertemuan kemaren." Ujar Firoh.
"Masak sih, kayaknya gak ada deh." Ucap Naila.
"Kamu tumben Nai jadi pelupa gini. Biasanya kamu yang selalu semangat jika ada tugas." Ucap Rifa.
"Tadi malem aku gak belajar karena capek banget. Jadi habis sholat langsung tidur." Ujar Naila.
"Hemmmm terus gimana dong, mana pelajaran Pak Marfel di jam pertama lagi."
"Iya udah dari pada cuma ngomong ini dan itu, mending kita kerjakan aja mumpung masih ada waktu." Ucap Naila.
Mereka pun setuju. Naila dan teman temannya segera mengerjakan tugas dengan cepat, untunglah tugas yang di berikan oleh Pak Marfel sudah di kuasai oleh Naila sehingga ia dengan mudahnya bisa menjawab semua soal dengan waktu yang sangata cepat. Selesai mengerjakan tugas, bell berbunyi 3x, pertanda semua siswa harus segera masuk kelas karena pelajraan pertama akan segera di mulai.
"Enak ya kalau Naila lupa ngerjakan tugas, jadinya kita bisa ngerjakan bersama sama kayak gini." Ucap Rahma yang kebetulan hanya mengerjakan tugasnya 80% saja sedangkan yang 20% gak dia kerjakan karenga gak tau.
"Iya enak, sering sering dong naik lupa ngerjain tugasnya. Jadi kita bisa kerjasama kayak gini." Ucap Firoh.
"Yeee enak ke kalian, gak enak ke aku. Dimana mana kalau PR ya kerjakan di rumah namanya juga PR singkatan dari PEKERJAAN RUMAH kalau di kerjakan di sekolah namanya PS yaitu PEKERJAAN SEKOLAH. Aku mah lebih suka belajar di rumah dari pada di sekolah, jika pun aku mengerjakan tugas di sekolah itu karena terpaksa alias lupa hehe." Ucap Naila tertawa.
"Sudah susah. Tuh Pak Marfel udah datang." Ujar Rani melihat Pak Marfel yang mau memasuki kelas.
Semua pun diam seketika.