
Keesokan harinya Naila sekolah dengan mata yang sembab, untunglah mamanya gak tau karena ia tadi malam menginap di luar kota, sehingga membuat Naila menangis secara leluasa.
Sesampai di sekolah, semua yang melihat ke arah Naila mulai berbisik bisik namun tak ada yang menanyakan secara langsung, kenapa wajah Naila sembab bahkan matanya sampai bengkak kayak habis menangis.
Naila yang mendengarnya membiarkan saja bahkan ia melewati nya begitu saja, saat ia melihat Pak Marfel pun, ia juga tak menyapanya, hatinya saat ini masih hancur karena kepergian laki-laki yang sudah berhasil masuk ke dalam hatinya.
Saat tiba di kelas, Rani yang melihat sahabatnya dengan wajah seperti itu langsung bertanya, "Kamu kenapa Nai? Ada masalah, cerita sama aku," ucap Rani sedangkan Naila memilih diam, jujur kalau bukan karena nanti jam 10 ada ulangan, mungkin ia memilih untuk tidur di kamar aja.
"Aku gak papa," ucap Naila lalu ia diam tak lagi ceria seperti biasanya.
Rifa, Firoh, Ayu, Puput yang melihat Naila pun sebenarnya ingin mendekat dan ingin tau kenapa Naila seperti itu, tapi mereka tau, saat ini Naila butuh waktu untuk sendiri. Dan mereka pun memilih diam, jika pun Naila ingin cerita, ia pasti akan bercerita. Mereka juga tak bisa memaksa Naila untuk menceritakan masalah yang tak ingin ia ceritakan. Bagaimanapun setiap orang punya prifasi masing masing yang gak semua orang boleh mengetahuinya.
Rani yang melihat Naila pun tak tega, bagaimanapun selama ini, dialah yang paling akrab dengan Naila.
Saat mata pelajaran pertama di mulai, semua murid pun mulai fokus ke mata pelajaran tapi tidak dengan Naila, ia melihat ke depan tapi dengan tatapan kosong. Marfel yang sedang mengajar di depan pun sesekali menatap ke arah Naila. Ia seperti orang yang kehilangan semangat hidup.
"Kamu kenapa Nai? Tidak biasanya kamu seperti ini," gumam Marfel dalam hati. Entah kenapa melihat Naila seperti itu membuat hatinya juga ikutan sakit.
Saat jam istirahat tiba, ia memilih pergi ke taman belakang dan ia meminta Rani maupun yang lainnya untuk tak mengikutinya. Ia bener bener-bener butuh waktu sendiri.
Tadi saat melihat Naila pergi ke taman belakang sendirian, diam diam Marfel mengikutinya dari belakang. Namun siapa sangka, ia malah mendengar curahan hafi Naila.
"Nai," panggil Marfel dan duduk di sebelah nya.
"Pak Marfel, bapak ngapain di sini?" tanya Naila kaget, saat melihat Marfel tiba tiba-tiba sudah ada di dekatnya.
"Aku ngikutin kamu tadi, kamu kenapa?" tanya Marfel.
"Aku gak papa," jawab Naila sambil menghapus air matanya.
"Cerita aja biar hatimu lega. Jika kamu pendam sendiri pasti tambah sesak," ucap Marfel.
"Aku gak papa," ucap Naila sekali lagi namun air mata menetes membasahi pipinya. Marfel yang gak tega membawa Naila ke dalam pelukannya. Naila pun juga tak berontak, ia butuh seseorang untuk menjadi sandaran nya.
"Aku gak akan memaksa kamu untuk cerita, tapi izinkan aku untuk mengobati rasa sakit yang kamu rasakan saat ini," ucap Marfel sambil memeluk Naila dengan erat. Naila pun hanya bisa pasrah di peluk oleh Marfel.