Novemberain

Novemberain
Keisengan Naila Mengerjai Marfel



Malam harinya, Naila baru sampai di rumah sakit. Setelah tadi sore, ia pamit pulang untuk mengambil baju dan perlengkapan lainnya. Tak lupa ia juga membersihkan rumahnya. Setelah itu, lanjut pergi ke resto untuk meminta tolong ke orang kepercayaannya. Untungnya, ia tengah datang bulan, jadi untuk beberapa hari ke depan, ia akan libur sholat.


Setelah dari resto, ia pun langsung kembali ke rumah sakit karena Marfel sudah menelfonnya beberapa kali.  Namun sebelum pergi ke rumah sakit, Naila masih sempat-sempatnya beli bakso, mie ayam, terang bulan dan juga roti bakar, keripik dan beberapa cemilan lainnya, serta  ada beberapa minuman kesukaannya.


Dan ketika melihat Naila membawa banyak makanan, membuat Marfel kaget. Terlebih Naila membawa koper kecil, tas besar, serta dua kantong kresek hitam.


"Kamu mau kemana, Nai?" tanya Marfel heran.


"Ya, jaga Mas Marfellah. Aku kan nginep di rumah sakit, jadi aku harus bawa keperluanku, kan," ujarnya sambil menaruh koper di samping sofba, begitupun dengan tas besarnya. Sedangkan dua kantong kresek ia taruh di atas meja.


"Iya juga sih, tapi kenapa seperti mau pindahan aja," batin Marfel.


Untungnya ada lemari kecil di sana, karena memang Marfel ada di ruang VVIP. Dimana di sana lengkap ada sofa panjang, sofa kecil, lemari dan kulkas. Serta tivi.


Naila mulai membuka koper dan menata bajunya ke lemari. Sedangkan kopernya ia taruh di atas lemari, biar bersih dan enak di pandang. Lanjut, ia menaruh laptop dan beberapa buku miliknya di atas meja. Tak lupa, ia juga menaruh beberapa perlengkapan mandi di kamar mandi yang ada di ruangan itu. Setelah selesai, tas besarnya pun ia taruh di dalam lemari. Agar tak merusak pandangan mata.


Sedangkan untuk perlengkapan make upnya, ia taruh di samping buku, karena masih ada ruang yang tersisa.


Lanjut, ia menaruh beberapa kue ke dalam kulkas seperti roti bakar, dan terang bulan. Serta minuman yang ia beli. Sedangkan makanan ringan seperti keripik dan yang lainnya, ia taruh di rak kecil samping kulkas.


Melihat kesibukan Naila, Marfel hanya bisa diam aja.


"Oh ya, Mas. Tadi aku juga sempat beli beberapa baju, celana untuk Mas Marfel. Jadi setiap hari Mas Marvel bisa ganti baju, biar gak kecut," ucapnya tanpa melihat ke arah Marfel.


Setelah selesai, ia mengambil dua mangkok, dan menuangkan bakso dan mie ayam di setiap mangkoknya. Untungnya lengkap, jadi ia bisa meminjam mangkok, sendok dan garpu yang di sediakan oleh pihak rumah sakit. Setelah selesai, ia duduk di sofa dan menikmati makanannya tanpa menawarkan Marfel.


Naila tampak menikmati makanan itu, sesekali ia mengipas mulutnya karena bakso dan mie ayamnya cukup pedas. Bahkan di setiap suapannya, ia juga meminum air mineral untuk meredakan pedasnya. Keringat mulai keluar di dahinya. Naila pun menyekanya dengan baju lengannya.


"Kamu gak nawari aku, Nai?" tanya Marfel yang sedari tadi diam.


"Mas Marfel kan lagi sakit, jadi gak boleh makan pedas. Nanti juga kan dapat makanan dari rumah sakit," ucap Naila sambil membelah bakso berukuran besar itu.


"Emang kamu bisa menghabisi makanan itu?" tanyanya.


"Iya, lagian juga mie ayam sama bakso." jawabnya.


"Tapi aku pengen," rengek Marfel yang merasa ngiler lihat Naila makan dengan lahap seperti itu.


"Nanti aja, kalau sudah sembuh, baru nyoba. Makan banyak pun gak masalah, asal kuat aja. Tapi kalau sekarang gak boleh, kan lagi sakit," ujar Naila, sambil melihat ke arah Marfel, sedangkan tangannya masih terus menyuapi mulutnya sendiri makan bakso.


"Ish, dasar pelit."


"Bukan pelit, tapi emang gak boleh makan pedas. Atau mau makan terang bulan?" tanyanya.


"Boleh deh."


Naila bangun dari sofa, lalu berjalan ke arah kulkas. Ia mengambil terang bulan dan memberikannya ke Marfel.


"Ini," ujar Naila.


"Suapin dong," rengek Marfel.


"Tapi aku lagi makan, Mas."


"Hemm, tapi aku gak bisa makan sendiri, tangan aku sakit," keluh Marfel.


"Bukannya yang luka itu kepala ya?" tanya Naila.


"Tanganku juga sakit, cuman gak separah di kepala."


"Hemm, ya udah aku habisin dulu  makananku, baru nyuapin Mas Marfel."


"Iya udah, aku tunggu kamu aja."


Naila menganggukkan kepala. Setelah itu, ia kembali ke sofa dan melanjutkan makannya dengan cepat. Setelah menghabiskan dua mangkok itu, Naila merasa kenyang, hanya saja, mulutnya terasa kebakar karena terlalu pedas. Naila meminum airnya sampai menghabiskan setengah botol, tapi rasa pedas itu seakan tak mau hilang.


Naila membawa dua mangkok itu, sendok dan garbunya ke wastafel dan mencucinya di sana. Setelah selesai, ia menaruhnya di rak piring di dekat wastafel. Setelah selesai, ia menghampiri Marfel dan duduk di kursi samping brankar. Ia mengambil terang bulan yang ada di pangkuan Marfel.


"Sini ... A .... " Naila menyodorkan terang bulan itu di depan mulut Marfel. Hanya saja, saat mulut itu terbuka lebar, terang bulan itu malah ia masukkan ke mulutnya sendiri.


"Ish, kok malah di makan sendiri sih," rajuk Marfel pura-pura kesal.


"Haha maaf-maaf, habisnya aku kepedasan sih," ujar Naila ketawa sambil memakan terang bulan yang terlanjur masuk ke dalam perutnya.


"Sini-sini aku suapin." Naila mengambil terangbulan itu, dan mau menyuapi Marfel, namun lagi dan lagi, terang bulan itu masuk ke dalam mulutnya sendiri.


"Kamu niat gak sih, nyuapin aku?" tanya Marfel sambil berwajah datar. Ia tak suka di permainkan kayak gini.


"Haha niat kok. Habisnya Mas Marfel lucu sih kalau lagi cemberut hehe." Naila mencubit kedua pipi Marfel. Dan saat ia menarik tangannya, Marfel langsung menahannya. Ia menggenggam tangan Naila dan mengecupnya, membuat Naila kaget.


"Mas ... Mas Marfel, nga ... ngapain?" tanya Naila gugup.


"Ini hukuman buat kamu karena sudah mempermainkan aku," jawabnya sambil melepaskan tangan Naila.


Mendengar hal itu, membuat Naila merasa kikuk sendiri.


"Maaf." Dan setelah itu, Naila pun menyuapi Marfel dan tak lagi mempermainkannya. Entah kenapa, saat Marfel mengecup kedua tangannya, membuat jantungnya berdebar kencang.


"Nai ..."


"Iya."


"Misal suatu saat nanti aku pergi untuk selamanya, kamu nangis gak?"


"Kok Mas Marfel ngomong gitu sih?"


"Hanya ingin tau aja reaksi kamu seperti apa?"


"Aku gak akan nangis."


"Benarkah?"


"Iya, lagian pengganti Mas Marfel banyak kok. Aku tinggal cari yang lain aja," ujar Naila membuat Marfel cemberut.


"Iya juga sih, cowok di dunia ini kan gak cuma satu." Marfel menghela nafas beratnya.


"Lagian ngapain sih, Mas Marfel nanya kek gitu. Ada-ada aja. Setiap orang pasti akan pergi untuk selamanya, dan mungkin aku duluan yang akan pergi. Tapi menurut aku, gak usah mikir kapan kita akan pergi, yang penting jalani aja hidup ini dengan benar sambil memperbanyak amal. Misal Allah panggil kita, kita sudah siap."


"Hemmm kamu benar. Nai ...."


"Iya?"


"Perasaan kamu ke aku gimana sekarang?" tanyanya sambil mengunyah terang bulan.


"Aku fikir, kamu sudah mulai ada rasa sama aku."


"Misal aku ada rasa, emang kenapa? Kita juga gak mungkin pacaran kan?"


"Iya sih, tapi setidaknya aku tau, hati kamu milik aku. Dan aku akan menjaga dan melindungi kamu."


"Hmmm, lebih baik kita seperti ini aja ya. Kalau emang kita jodoh, Allah pasti akan mempersatukan kita kok."


Mendengar hal itu membuat Marfel sedikit kecewa. Melihat raut wajah Marfel yang sudah tak mengenakkan, Naila langsung buka suara lagi.


"Tapi aku janji, aku gak akan memberikan harapan palsu ke orang lain."


"Maksudmu?"


"Mas pasti ngerti apa maksud aku."


"Apakah kamu gak akan dekat-dekat dengan orang lain selain aku?"


"Ya gak gitu juga."


"Lalu?"


"Aku akan menjaga jarak dengan laki-laki lain. Aku akan menjaga hatiku, tapi bukan berarti aku gak deket sama mereka, hanya saja aku akan menjaga hati dan sikap aku, agar tak membuat orang lain menaruh harapan sama aku."


"Baiklah, aku faham. Aku pun akan melakukan hal yang sama. Aku akan menjaga hati dan cintaku hanya untuk kamu. Dan aku juga akan menjaga jarak dari wanita lain, dan tak akan terlalu menanggapi mereka. Kecuali emang ada hal penting yang membuat aku harus dekat sama mereka."


"Ya, seperti itu lebih baik. Saling menjaga satu sama lain."


Marfel pun menganggukkan kepala. Tak terasa terang bulan itu sudah habis, ternyata kalau di makan berdua, dan sambil mengobrol, tak terasa habis juga makanannya.


"Kamu sudah kenyang?" tanya Marfel.


"Iya, aku kan sudah habis semangkok mie ayam, semangkok bakso dan makan terang bulan. Mana mungkin aku gak kenyang."


"Aku baru tau, makannya kamu banyak juga."


"Tergantung keadaan sih, kalau mood aku lagi bagus, aku enak makan. Tapi misal makanannya lezat sekalipun, tapi jika moodku rusak, makanannya aku sedikit."


"Oh."


"Mas mau minum, gak?" tanya Naila dan Marfel pun menganggukkan kepala. Setelah itu, Naila mengambil minuman dan sedotan. Lalu membantu Marfel minum.


"Nah, kan sudah pada kenyang. Aku mau mengerjakan tugas dulu ya.."


"Emang ada tugas apa?"


"Tugas MTk."


"Mau aku bantu?" tawar Marfel.


"Boleh."


Dan akhirnya Naila mengerjakan di atas brankar di samping Marfel. Mereka mengerjakan bersama, dan jika ada yang tidak Naila mengerti. Marfel akan dengan senang hati mengajarinya, bahkan ia juga ikut menghitung takut jika Naila salah hitung. WAlaupun ia yakin, Naila tak akan ceroboh.


Hanya dalam waktu setengah jam, tugas MTK pun selesai. Sekarang tinggal tugas bahasa inggris. Marfel yang emang jago bahasa inggris pun langsung bantu Naila, tapi bukan bantu mengisinya, tapi bantu menjelaskannya hingga membuat Naila faham dan tau harus mengisi apa.


"Akhirnya selesai juga," ujar Naila senang. Ia merenggangkan tubuhnya yang terasa kaku itu. Setelah selesai, ia menaruh buku itu ke dalam tas, agar besook tak lupa. Setelah itu, lanjut dia membuka laptopnya dan mengerjakan pekerjaannya. Karena tadi Ika dan Indah sudah mengirim file lewat email.


"Kamu gak capek, Nai?" tanya Marfel.


"Enggak kok, Mas."


"Mau aku bantu, biar cepet selesai?"


"Enggak usah, lagian cuma dikit kok. Aku cuma melihat hasil hari ini, sama kemaren."


"Oh."


Marfel pun diam dan melihat ke arah Naila yang tengah sibuk bekerja. Setelah mengerjakan tugas sekolah, Naila masih harus mengurus usaha resto milik bundannya. Naila emang berbeda dari yang lain.


Setelah hampir sejam, barulah Naila benar-benar menyelesaikan semua pekerjaannya.


"Aku boleh nonton tivi?" tanyanya.


"Emang kamu gak ngantuk?" tanya Marfel.


"Belum, lagan ini masih jam setengah sembilan. Aku jarang tidur jam segini, bahkan hampir gak pernah."


"Iya udah, hidupkan aja."


Setelah mendapatkan izin, Naila pun menghidupkan tivinya. Hanya saja, Naila gak fokus nonton tivi, tapi malah mengambil Hpnya dan sibuk mengetik sesuatu di sana.


"Kamu ngapain?" tanya Marfel.


"Aku lagi buat cerita, Mas."


"Kamu suka buat cerita?"


"Suka sih, apalagi kalau di suruh baca. Hanya saja, saat ini aku fokus nulis aja."


"Kenapa?"


"Karena bisa menghasilkan cuan, Mas. Lumayan lahl, satu cerita, bisa mendapatkan tiga juta lebih perbulannya."


"Ya ampun, kamu itu pecinta uang ya."


"Haha gak gitu juga. Hanya saja, kan. Kalau aku bisa menghasilkan uang dari hobi aku, kenapa gak aku lakukan. Kan lumayan uangnya bisa di tabung."


"Kamu kayak orang kekurangan aja, Nai."


"Bukan gitu, tapi aku ingin mengumpulkan banyak uang. Namanya masa depan kan gak ada yang tau, Mas. Setidaknya aku jaga-jagalah, dan lagi dengan aku punyak banyak uang, aku bisa bantu mereka yang kekurangan," jawab Naila sambil fokus mengetik.


"Iya deh terserah kamu, tapi kenapa gak ngetik pakai laptop aja."


"Males lah, enakan pakai Hp, cepet. Tapi aku kadang juga pakai laptop kok. Hanya saja, aku lebih nyaman pakai Hp, karena bisa di bawa kemana-mana."


Marfel tak menanggapi, ia melihat Naila yang tengah serius mengetik di Hpnya. Entah kenapa, melihat Naila seserius itu, membuat hatinya senang dan menghangat. Sesekali Naila juga senyam senyum sendiri, kadang ekspresinya berubah sedih, marah daan juga mengernyitkan dahi. Mungkin Naila berkhayal seolah-olah tokoh dalam cerita itu dirinya, hingga dia mudah gonta ganti ekspresi.


Marfel mengambil Hpnya dan merekam Naila diam-diam, kapan lagi ia bisa merekam kegiatan Naila yang menurutnya lucu itu.