
Saat jam istirahat, Naila mendapatkan pesan dari Marfel untuk ke ruangannya. Padahal Naila sudah di ajak teman-temannya untuk ke kantin, tapi karena Naila ingat, kalau Marfel lagi marah padanya. Maka Naila pun tak bisa menolaknya. Ia tak ingin membuat Marfel semakin marah padanya, entahlah kenapa Naila takut jika Marfel marah padanya, padahal jika dulu, dia gak akan peduli akan hal-hal kecil sepertit itu.
"Maaf ya teman-teman. Aku gak bisa ikut ke kantin, soalnya aku di suruh ke ruangannya Pak Marfel," ucap Naila dengan wajahnya terlihat merasa bersalah sekali.
"Loh ngapain, Nai? Kok di panggil Pak Marfel?" tanya Rifa.
"Aku gak tau, kayaknya ada yang mau di bicarakan," ucap Naila yang juga bingung, mau jawab apa.
"Oh ya udah gak papa, Nai. Nanti kalau sudah selesai, langsung ke kantin ya," tutur Rani yang berusaha mengerti kondisi Naila.
"Iya, kalian duluan aja."
Setelah itu, Rani bersama teman-teman yang lain pun pergi ke kantin. Sedangkan Naila, dia pergi ke ruangan Pak Marfel, namun di tengah jalan, ia malah di jegat oleh Stefan.
"Nai," ucap Stefan yang tiba-tiba berdiri di depan Naila.
"Ada apa, Kak?" tanya Naila, padahal ia tengah buru-buru, tapi ada aja halangannya. Kalau sampai Marfel tau jika dirinya tengah bicara dengan Stefan, pasti akan semakin marah dianya.
"Kamu kemaren kenapa gak masuk, Nai? Ada yang bilang kamu sakit ya? Sekarang gimana, apa sudah sembuh?" tanya Stefan yang merasa khawatir dengan keadaan Naila. Sejak kemaren ia merasa gak tenang, sebelum ia mendengar dan melihat keadaan Naila.
"Ya kemaren aku gak enak badan, Kak. Tapi sekarang sudah sembuh kok. Sudah enak lagi, makanya aku masuk sekolah. Kalau aku masih sakit, gak mungkin aku ada di sini."
"Syukurlah, Nai. Aku seneng dengernya. Oh ya, Nai. Ini ada cokelat dan roti," Stefan memberikannya ke Naila. "Aku gak tau kamu suka apa, jadi aku beliin roti dan coklat buat kamu. Sebenarnya aku mau ke rumah kamu nanti sepulang sekolah, tapi karena aku denger kamu sudah masuk, jadinya aku kasih ke kamu sekarang aja. Terima ya, Nai. Kita kan teman," ujar Stefan. Mendengar kata teman, Naila pun menerimanya.
"Makasih ya, Kak."
"Sama-sama, Nai. Jangan lupa di makan ya."
"Iya, Kak."
"Iya sudah aku ke kelas dulu." Setelah itu, Stefan pun pergi dari sana, sedangkan Naila menatap roti dan coklat yang kini tengah ia pegang.
"Harus aku apain, ini makanan?" tanya Naila pada dirinya sendiri sambil terus melangkahkan kakinya menuju ruangn Marfel. Setelah sampai di depan ruangan itu, Naila mengetuk pintu tiga kali dengan pelan.
"Masuk," ucap Marfel dari dalam.
Naila pun membuka pintu itu dan masuk ke dalam, tak lupa ia menutup pintu itu kembali.
"Kenapa lama?" tanya Marfel sambil menatap ke arah Naila.
"Aku ketemu Kak Stefan tadi," jawab Naila jujur.
"Ngapain dia ketemu kamu?" tanya Marfel tak suka, ketika Naila membahas Stefan.
"Itu tadi dia ngasih ini," Naila memperlihatkan coklat yang berbentuk love dan juga roti yang ia pegang. Melihat itu, membuat Marfel menatap sinis.
"Kamu menerima pemberian dari cowok lain, Nai?" tanya Marfel kecewa.
"Aku bingung bagaimana cara menolaknya, jadi aku terima. Lagian aku dan Kak Stefan cuma teman, gak lebih. Dan dia memberikan aku ini karena dia tau aku sakit," jawab Naila namun Marfel hanya diam. Ia tadinya berusaha untuk berdamai dengan Naila, tapi lagi-lagi Naila membuat dirinya kecewa. Ia tak suka jika Naila menerima pemberian apapun dari cowok lain. Ia cemburu dan ia tak suka, jika apa yang sudah jadi miliknya masih di lirik oleh cowok lain, terlebih cowok itu seakan ingin mencari perhatian dari Naila, wanita yang ia cintai.
Egonya merasa terluka, saat Naila bukannya menolak, tapi malah menerima pemberiannya.
"Maafin aku, Mas. Aku benar-benar gak tau cara menolak pemberiannya. Lagian roti dan coklat ini, tadinya mau aku kasih ke Rifa kok. Karena Rifa menyukai Kak Stefan, aku gak akan makan pemberian dari cowok lain." Naila berusaha untuk menjelaskan ke Marfel.
"Aku harap, Mas gak marah karena masalah ini."
"Misal aku yang mendapatkan coklat berbentuk hati dari cewek lain, bagaimana perasaanmu, Nai? Apakah kamu baik-baik aja, atau kamu akan marah padaku?" tanya Marfel. Mendengar hal itu, Naila hanya tersenyum.
"Aku gak akan marah, Mas. Aku juga gak akan menyuruh kamu menolak pemberian dari siapapun Bukankah rezeki gak boleh ditolak. Dan lagi, kita gak bisa meminta orang lain untuk berhenti menyukai kita, karena setiap orang punya hak untuk mengatur dirinya sendiri, mengatur perasaannya sendiri. Yang penting itu hati kita, jangan sampai condong ke orang lain, hanya karena kebaikan mereka. Misal ada ribuan yang menyukaiku, apakah aku harus meminta mereka satu persatu untuk berhenti menyukaiku. Jika mereka di suruh memilih, mungkin mereka juga gak mau menyukai aku, terlebih jika mereka tau, aku sudah punya orang yang aku cintai. Tapi kadang rasa suka itu datang tanpa bisa kita cegah. Untuk itu, biarkan mereka dengan peraaan mereka, yang penting sikap kita, dan hati kita tetap setiap pada satu orang. Dan tidak bercabang kemana-mana." Naila menjawab pertanyaan Marfel dengan tenang. Ia duduk di kursi, karena lelah berdiri terus. Ia juga menaruh coklat dan roti itu di meja Marfel.
"Kenapa pemikiran dia lebih dewasa dari aku?" gumam Marfel dalam hati.
"Baiklah, aku akan maafin kamu. Aku juga minta maaf sudah bersikap kekanak-kanakan," ucap Marfel sambil berusaha mengatur emosinya. Agar tidak lagi terpancing hanya karena hal-hal sepele.
"Aku sudah maarin Mas Marfel, sebelum Mar Marfel minta maaf. Aku juga salah kok. Jadi kita harus saling memaafkan satu sama lain. Oh ya by the way, Mas Marfel mau ngapain nyuruh aku ke sini?" tanya Naila hati-hati, takut salah bicar lagi.
"Enggak ada, aku cuma kangen aja. Makanya nyuruh kamu ke sini."
"Astagfirullah, aku fikir ada yang penting," ujar Naila, menghela nafas.
"Kamu kok kayak keberatan gitu? Kamu gak suka, ketemu aku?" tanya Marfel dengan wajah yang mulai tampak marah lagi. Naila buru-buru menjawabnya agar tak lagi ada kesalahfahaman.
"Bukan gitu, aku tadi sama teman-teman sudah janjian mau ke kantin, bahkan mereka mungkin sedang menunggu kedatangan aku."
"Jadi kamu milih teman-teman kamu, Nai. Dari pada aku?" tanya Marfel.
"Enggak, Mas. Aku milih Mas Marfel kok. Buktinya aku ke sini, kan? Dan tidak ikut teman-temanku ke kantin," balas Naila.
"Tapi kamu kayak keberatan gitu? Apa cuma aku aja yang kangen di sini? Apa cuma aku aja yang tersiksa menahan rasa rindu?" tanya Marfel. Melihat itu, Naila hanya tercengang, karena sikap Marfel ini tidak mencerminkan seperti orang dewasa, ia malah bersikap seperti anak kecil, yang tengah merengek kepada ibunya.
"Aku kangen dan aku rindu. Makanya aku ke sini."
"Kamu ke sini kan karena aku yang nyuruh, kalau aku gak nyuruh, mana mungkin kamu ada di sini," ucapnya dengan bibir yang maju beberapa centi. Namun bukannya tampak garang, Marfel malah terlihat menggemaskan dengan bibir cemberut seperti itu.
"Untung belum halal, kalau sudah halal sudah aku kecup itu bibir," ucap Naila dengan suara kecil, namun masih di dengar oleh Marfel.
"Kecup sekarang juga gak papa," ujar Marfel yang membuat Naila melengos.
"Ck ... aku gak mau melakukan hal itu, bila belum ada status yang jelas. Gak mau nanggung dosa besar," ketus Naila yang mulai berani dengan Marfel.
"Haha ya ya, aku faham. Maafin aku. Aku cuma bercanda tadi," Marfel tertawa melihat wajah Naila yang lagi tak sedap untuk di pandang.
"Nanti pulang sekolah, jangan lupa tunggu aku. Karena aku yang akan mengantar kamu ke resto."
"Iya. Nanti aku tunggu di pertinggan, tempat aku tadi pagi turun. Dan tentunya, setelah anak-anak pada pulang semua, karena aku gak mau jika ada yang melihat aku masuk ke mobil Mas Marfel."
"Baiklah, aku faham."
"Aku ke kantin dulu, boleh? Aku kasihan, takut teman-teman aku menunggu," ujar Naila pelan.
"Iya sudah gak papa. Tapi jangan makan coklat dan roti itu, bahkan mencicipinya pun kamu gak boleh. Jika kamu mau, kamu bisa bilang ke aku, biar nanti aku belikan yang lebih bagus dan lebih enak dari itu," tutur Marfel mengingatkan.
"Iya, aku gak akan makan kok. Lagian juga aku gak kepengen coklat dan roti."
"Iya sudah, terus jangan jajan sembarangan di kantin, jangan makan pedes-pedes juga."
"Banyak banget peraturannya."
"Nai," ucap Marfel dengan wajah datar membuat nyali Naila menciut.
"Okay-okay, aku gak akan makan apapun yang Mas larang. Iya sudah aku ke kantin dulu ya."
"Okay, jangan dekat-dekat dengan cowok lain, jangan bikin aku cemburu."
"Iya, Mas."
Dan setelah itu, Naila pun pergi menuju kantin di mana teman-temannya berada. Naila langsung duduk di kursi kosong dekak Rani, karena hanya kursi kosong itulah yang tersisa.
"Lama banget, Nai? Ngapain aja sih?" tanya Rani.
"Ada sesuatu yang di bahas. Oh ya, Rifa Tadi aku ketemu Kak Stefan, terus ngasih coklat dan roti. Ini buat kamu, soalnya aku gak suka makan coklat, takut sakit gigi," ujar Naila sambil memberikan coklat dan roti itu kepada Rifa.
"Tapi kan Kak stefan pasti ngasihnya buat kamu, Nai," ucap Rifa. Sebenarnya ia cemburu, karena Stefan memberikan itu kepada Naila, bukan pada dirinya. Tapi ia sadar, dari awal Stefan emang tak pernah menyukainya dan hanya menyukai Naila. Jadi, untuk merasa iri dan cemburu pun, Rifa rasa itu salah. Karena walaupun ia membenci Naila bahkan memusuhinya, tak akan membuat Stefan jatuh hati padanya, atau melirik padanya. Yang ada malah Stefan akan membenci dirinya karena sudah menyakiti Naila, wanita yang dia suka. Belum lagi pertemanan dirinya dan Naila yang akan merenggang. Untuk itu, Naila berusaha untuk bersikap biasa aja, seakan-akan tak terjadi apa-apa.
"Tapi aku gak bisa menerima itu, karena nanti orang yang aku suka akan marah sama aku," ucap Naila cemberut.
"Apa, kamu punya orang yang kamu sukai, Nai?" tanya Rani kaget. Naila pun mengangguk dengan malu-malu.
"Siapa, apa itu Kak Alfa?" tanya Rani. Dan Naila pun menggelengkkan kepala.
"Aku gak bisa cerita sekarang, tapi yang jelas, aku sudah menemukan orang yang aku sukai," ucap Naila dan membuat teman-temannya langsung kepo, siapa laki-laki yang di sukai Naila saat ini.
"Apakah kalian sudah jadian?" tanya Puput.
"Aku gak tau," jawab Naila.
"Kok gak tau?" tanya Ayu penasaran.
"Karena aku gak mau pacaran, tapi aku dan dia sudah saling mengungkapkan perasaan dan dia janji akan melamar aku segera," sahut Naila membuat mereka melongo.
"Dia akan melamar kamu, Nai?" tanya Firoh. Dan Naila mengangguk malu-malu.
"Iya, soalnya dia takut aku di ambil cowok lain. Dan dia type yang cemburu banget. Makanya dia ingin segera terikat sama aku, karena dia takut aku kedahuluan cowok lain. Padahal, dia itu tampan dan mapan. Seharusnya aku kan yang takut, dia di ambil cewek lain?" tanya Naila.
"Emang siapa sih dia, apa kita kenal sama orang itu?" tanya Rahma.
"Aku gak bisa jawab. Nanti jika sudah tiba waktunya, aku pasti akan cerita ke kalian semua. Intinya aku gak bisa nerima apapun dari cowok lain, soalnya nanti dia akan marah besar sama aku. Untuk itu, Rifa. Aku harus memberikan coklat dan roti itu buat kamu, karena aku gak bisa menerimanya," tutur Naila dan Rifa pun menganggukkan kepala.
"Baiklah, aku akan terima coklat dan roti ini. Makasih ya, Nai," ujar Rifa. Ia senang karena akhirnya Naila sudah menemukan pujaan hatinya, begitupun dengan Rani, ia juga lega karena Naila tidak jadian dengan Alfa, karena jika itu terjadi, tentunya ia akan merasa patah hati, sepatah-patahnya. walaupun dia dan Alfa tak ada hubungan apapun, tapi tetap saja, jika melihat sahabatnya jadian dengan laki-laki yang ia suka, pasti akan ada rasa sakit.