
Setelah puas bikin Naila seperti cacing kepanasan, Marfel mengeluarkan kepalanya dari balik baju Naila. Ia melihat wajah Naila yang sudah memerah, membuat Marfel terkekeh. Ia mematikan tivinya, lalu menggendong Naila ke kamar. Dan di kamar itulah, Marfel mulai melanjutkan permainannya.
Marfel merebahkan tubuhnya di atas kasur dan Naila yang berada di atasnya. Entah kenapa, Marfel paling suka bagian, Naila yang duduk di atas perutnya. Lalu Naila yang memainkan bulu dadanya yang bikin ia meremang. Apalagi tangan Naila yang seakan sengaja memancing dirinya dengan mengelus dadanya.
Naila pun mulai menyukai saat ia duduk di atas perut suaminya yang sixpack itu. Rasanya sedikit keras, namun tak membuat dirinya sakit. Malah yang ada bikin Naila ketagihan dan bikin tubuhnya panas dingin.
"Nai," panggil Marfel.
"Hem," jawab Naila.
"Kamu yang mimpin permainan ya, aku pengen," ucap Marfel, ia emang pengen sekaligus penasaran karena ia sering mendengar teman-temannya itu menceritakan tentang hal seperti itu. Dimana sang istri suka di atas karena itu membuat istrinya mudah mendapatkan kepuasan. Untuk itulah, Marfel ingin Naila merasakan surga dunia, karena Naila jauh lebih tau apa yang harus ia lakukan.
"Nanti ya, aku masih ingin duduk di sini," ujar Naila yang masih betah duduk di perut Marfel sambil mengelus dadanya itu. Inilah kenapa Marfel suka olah raga, terutama saat ia berada di luar negeri, ia ingin menjadi kuat demi sang istri, ia tak ingin terlihat lemah dalam hal apapun. Apalagi ia sangat tau, jika wanita itu selain suka wajah yang tampan, mapan juga suka tubuh yang ****, apalagi perut yang sixpack.
"Okay." Marfel ia meremas bukit kembar milik Naila membuat Naila mende sah, Marfel memijitnya dengan perlahan dan itu membuat Naila gak kuat. Aish, dasar Naila. Akhirnya Naila mengalah. Ia akan segera memimpin permaianan. Mendengar hal itu, Marfel pun merasa sangat senang.
"Aku harus gimana?" tanya Naila polos.
"Gerakkan tubuh kamu," jawabnya dan akhirnya Naila pun melakukan apa yang di suruh Marfel. Dan benar saja, rasanya berbeda. Dan mereka pun akhirnya saling mende sah. Dan ternyata posisi inilah yang paling mereka sukai.
Dan mereka melakukan hingga adzan dhuhur terdengar.
Selesai adzan, mereka juga sudah menyelesaikan rutinitas mereka. Lalu setelah melepas rasa lelah, Marfel menggendong Naila ke kamar mandi untuk mandi bersama. Tentu, di kamar mandi mereka masih meneruskan aktivitas mereka itu hingga sejam lamanya. Setelah selesai mandi, mereka segera memakai baju, lalu sholat dhuhur berjamaah, dan makan siang. Untung nasi dan lauk pauk sisa tadi pagi masih ada, jadi Naila gak perlu masak lagi.
Selesai makan, mereka mengobrol sebentar, dan setelah itu, mereka pun memutuskan untuk tidur siang sampai jam empat sore. Bangun tidur, mereka langsung ambil wudhu dan sholat ashar. Dan setelah itu, Marfel mengajak Naila untuk pergi ke taman dengan jalan kaki. Naila tak menolak karena ia senang bisa jalan-jalan dan bisa menyapa tetangga kompleks yang ada di kanan kiri, depan belakang.
Naila merasa senang karena tak jauh dari rumahnya ada taman yang sangat bagus, hingga mereka bisa menghabiskan waktu sorenya untuk duduk santai di taman itu sambil menghirup udara segar.