
Sesampai di depan rumah Marfel yang bak istana itu, Marfel turun dan menggendong Naila menuju kamarnya. "Lo ... lo .... kenapa di bawa ke kamarmu, Fel?" teriak Ibu Maria dari belakang sambil mengejar putranya itu yang berjalan lebih dulu.
"Mama emang mendukung kamu, untuk membawa Naila ke rumah ini. Tapi tidak dalam satu kamar, kalian belum menikah loh," ujar Ibu Maria panik.
Sedangakn Marfel yang mendengar pekikan Mamanya hanya geleng-geleng kepala, entah bagaimana bisa Mamanya punya pemikiran sejauh ini.
"Sudahlah, Mama diam aja," ucap Marfel sambil memuka pintu kamarnya dengan susah payah.
"Tapi apa yang dikatakan Mama benar, Mas. Kita belum menikah, seharusnya aku tidur di ruang tamu aja, bukan di kamar kamu," ujar Naila yang tak enak hati dengan Ibu Maria. Terlebih tak seharusnya seorang perempuan tidur di kamar laki-laki lain tanpa adanya status yang halal.
Marfel menaruh Naila di atas kasur, lalu menjawab ucapan dua perempuan yang sangat berharga itu.
"Ma, aku emang sengaja menaruh Naila di kamar aku, tapi bukan berarti aku akan tidur bareng Naila dalam satu ranjang. Aku juga faham, Mamaku tercinta. Kalau aku gak boleh tidur sama wanita kalau belum menikah, belum halal."
"Terus kamu mau tidur dimana?" tanya Ibu Maria.
"Kamar sebelah kan kamar aku juga, Ma. Nanti biar bisa bersebelahan," ujar Marfel mengingatkan mamanya tentang dirinya yang punya dua kamar. Kamar yang kini di tempati oleh Naila adalah kamar utama, kamar pribadi. Sedangkan kamar sebelahnya, adalah kamar yang biasanya juga di pakai saat ia kerja. Karena di sana selain ada ranjang tempat tidurnya juga bersebelahan dengan ruang kerjanya, sehingga saat dirinya lelah bekerja, ia tinggal berbaring di tempat tidur, tidak perlu keluar kamar lagi. Karena di dalam situ sudah di persiapkan semuanya.
"Ah ya, kenapa Mama lupa ya," ujar Ibu Maria terkekeh.
"Makhlum faktor U," goda Marfel yang membuat Maria cemberut.
"Itu artinya, kamu harus segera buatin Mama cucu, karena usia Mama tak lagi muda," ujar Maria yang membuat Marfel mati kutu.
"Haha ya ya, nanti aku pasti buatin Mama banyak cucu kalau sudah waktunya," balas Marfel.
"Ini barangnya mau taruh di mana?" tanya Pak Atmaja menenteng banyak tas, ia tinggal sama mereka di saat Pak Atmaja tengah mengambil tas Marfel dan Naila.
"Ya ampun, aku sampai lupa sama Papa," ucap Ibu Maria terkekeh. Gara-gara ngikutin Marfel yang menggendong Naila, ia sampai lupa membantu suaiminya membawakan tas mereka berdua.
"Iya, Mama kan gak cinta lagi sama Papa. Jadi suka lupa," sindir Pak Atmaja yang membuat Ibu Maria langsung menghampirinya.
"Mana mungkin Mama lupa sama Papa, Papa kan selalu ada di hati dan fikiran Mama. Sini biar Mama yang bawain,"
"Mau di bawain kemana, sudah di sini juga, tinggal ditaruh," ujar Pak Atmaja menaruh semua tas itu di sofa panjang di samping ranjang tempat tidur.
Marfel dan Naila yang melihat mereka pun hanya tersenyum, karena tingkah mereka yang masih seperti anak remaja.
"Naila, Om harus ke sekolah. Gak papa kan jika Om tinggal?" tanya Pak Atmaja ke murid sekaligus calon menantunya itu.
"Gak papa kok, Om. Lagian ada Tante sama Mas Marfel yang nemenin."
"Iya sudah, Om berangkat dulu. Biar nanti juga Om yang akan mengurus surat izin kamu ke wali kelas."
"Makasih, Om."
"Sama-sama. Ma, Papa berangkat dulu."
"Iya, Pa."
Pak Atmaja keluar dari kamar itu, Ibu Maria pun segera mengikutinya dan mengantarkan suaminya sampai depan rumah. Setelah kepergian mereka, Marfel menatap ke arah Naila.
"Mas, kenapa harus di kamar kamu sih?" tanya Naila. Padahal ia lebih baik tidur di kamar tamu, ketimbang di kamar laki-laki yang masih status gak jelas ini.
"Gak papa, anggap aja lagi belajar."
"Belajar apa?"
"Menyesuaikan diri. Kalau kita nikah, kan. Otomatis kamu akan tinggal di kamar ini, setidaknya kalau kamu dan aku sudah nikah, kamu sudah merasa familiar dengan kamar ini dan tak lagi merasa canggung," jawab Marfel santai.
"Ya ampun, dilamar aja belum,, sudah bahas nikah."
"Kalau kamu mau, hari ini juga aku akan menemui Bunda kamu, untuk melamar,"
"Emang gak bisa ya kalau sekarang?"
"Enggak bisalah."
"Terus Bunda kamu kapan pulangnya?"
"Aku belum tau."
"Hemmm kalau kayak gini, kan aku nunggunya lama, karena gak ada kepastian."
"Nanti deh aku telfon Bunda, dan nanya kapan Bunda pulang."
"Beneran ya."
"Iya."
"Kenapa gak sekalian kamu bilang ada yang melamar kamu lewat telfon?" tanya Marfel.
"Enggak enaklah, Mas. Nanti aku malah ganggu konsentrasi Bunda kerja. Biar Bunda pulang dulu, baru aku ngomong langsung, jadi enak karena bicara dari hati ke hati."
"Iya sudah terserah kamu, yang penting Bunda kamu setuju dan aku bisa segera melamar kamu danĀ mengikat kamu dalam sebuah pertunangan," ujar Marfel dan Naila pun menganggukkan kepala.
"Oh ya, di sana ada lemari kosong. Nanti baju kamu taruh di sana aja ya."
"Ngapain taruh di lemari, Mas. Gak usahlah, biarin aja di tas itu. Lagian aku mungkin besok dah sembuh, jadi besok aku sudah mau pulang."
"Apa gak bisa kalau kamu tinggal di sini sampai Bunda kamu pulang?" tanya Marfel.
"Enggak, aku gak enak sama Mama dan Papa kamu," sahut Naila.
"Kenapa merasa gak enak, Sayang? Tante malah senang karena ada temannya. Selama ini Tante selalu kesepian, karena suami Tante yang sibuk, apalagi Marfel yang super sibuk dan Tante seringkali berharap bisa ada yang menemani Tante di sini. Kalau kamu di sini, setidaknya Tante gak akan kesepian lagi," ujar Ibu Maria yang kembali ke kamar Marfel, setelah mengantarkan suaminya sampai depan rumah. Lalu ia pergi ke dapur dan meminta Bibi Imah untuk membuatkan bubur untuk calon menantunya itu. Setelah selesai barulah ia menemui Naila lagi.
"Baiklah, demi Tante. Nai akan tinggal di sini sampai Bunda pulang."
"Nah gitu dong."
Naila hanya tersenyum, dia emang gak bisa untuk menolak permintaan Ibu Maria. Karena Ibu Maria terlalu baik padanya hingga ia tak berani untuk menolak keinginannya.
Lima belas menit kemudian, Bibi Imah datang membawa nampan.
"Nah ini buburnya sudah matang. Marfel kamu suapain Naila dulu ya," ujar Ibu Maria yang mengambil nampan dari tangan Ibu Imah dan memberikannya ke Marfel.
"Iya, Ma," jawab Marfel sambil menerima nampan dari Mamanya.
"Iya sudah, kalian makan dulu. Mama masih ada yang harus Mama urus." Ibu Maria sengaja meninggalkan mereka berdua agar bisa makan dengan leluasa, karena Ia takut, Naila akan sungkan jika Ibu Maria terus disana dan menemani Naila makan.
Setelah kepergian Ibu Maria. Marfel menaruh nampan itu di atas meja samping tempat tidur.
Di sana ada dua bubur ayam dan dua gelas teh hangat.
"Mau aku suapin, atau makan sendiri?" tanya Marfel.
"Makan sendiri aja deh, biar bisa makan bareng," jawab Naila. Dan Marfel pun mengangguk setuju. Lalu mereka berdua makan bersama sambil mengobrol sesekali.
"Aku senang kamu mau tinggal di sini, setidaknya aku bisa bersama kamu teru dan bisa menjaga kamu, sehingga aku tak perlu khawatir lagi, karena kamu ada dalam jangkauan aku," ujar Marfel di sela-sela makannya.
"Sebenarnya aku malu, tapi aku lakukan ini semua demi kamu dan Mama kamu, Mas," balas Naila.
"Aku mengerti, terima kasih sudah mau melakukannya demi aku dan Mama," tutur Marfel dan Naila pun menganggukkan kepalanya.
Setelah selesai makan, Marfel menyuruh Naila meminum obatnya yang diberikan Marfel. Setelah selesai, mereka pun ngobrol sebentar, lalu setelah itu, Marfel menyuruh Naila istirahat. Setelah memastikan Naila benar-benar terlelap, Marfel membawa nampan yang kosong itu ke dapur dan menaruhnya di wastafel.