Novemberain

Novemberain
Ajakan Main Ke Rumah



Di sepanjang jalan, Marfel memutar lagu romantis sehingga membuat perjalanan semakin santai. Karena mereka bisa ngobrol sambil dengerin music.


"Oh ya Na, mamaku pengen ketemu kamu," ucap Marfel yang membuat Naila kaget.


"Hah, mama kamu? Kenapa tiba-tiba pengen ketemu aku, aku bahkan gak kenal sama mama kamu mas," ujar Naila.


"Itu karena aku menceritakan kamu kepada mama terus mama penasaran sama kamu, dan pengen ketemu," jawab Marfel jujur.


"Mas menceritakan aku ke mamanya mas?" tanya Naila.


"Iya," jawab Marfel polos.


"Tapi kenapa?" tanya Naila heran.


"Ya gak papa pengen cerita aja," jawab Marfel sekenanya.


"Gak mungkin, pasti mas punya alasan kan sampai mas menceritakan aku ke mamanya mas, atau mas menyembunyikan sesuatu dariku?"


"Nyembunyiin apa coba, lagian aku salah menceritakan kamu ke mama?" tanya Marfel.


"Gak salah sih, cuma heran aja aku. Masalahnya aku sama mas kan gak seakrab itu, lalu kenapa mesti di ceritakan coba, secara logika, bagaimana mungkin mas menceritakan aku kalau gak ada apa apa. Kecuali mas suka sama aku, tapi gak mungkin itu terjadi kan, karena aku ini hanya seorang pelajar sedangkan mas, mas adalah guruku sendiri," ujar Naila.


"Sudahlah jangan debat masalah ini, kalau kamu gak mau, juga gak papa kog, aku gak maksa," ujar Marfel yang mengalihkan pembicaraan.


"Bukannya gak mau, tapi ya apa ya, aku ini siapa dan tiba tiba-tiba saja aku mau bertemu orang tanpa ada kepentingan apapun, aku kan malu,"


"Kenapa mesti malu, aku kan sudah bilang tadi kalau mama yang ngundang kamu ke sana, kenapa harus punya kepentingan dulu baru ketemu, kalau kamu gak mau, bilang aja, gak perlu pakai alasan ini itu," ujar Marfel kesal.


"Baik, baiklah. Nanti aku ke sana ya, sebelum aku ke kafe, aku akan ke rumah mas dulu buat ketemu mamanya mas, gak usah cemberut gitu," ujar Naila gak enak hati yang mau menolaknya. Walaupun ia belum mengerti alasan mamanya Marfel pengen ketemu dirinya.


"Beneran?" tanya Marfel senang.


"Iya, kapan sih aku boong, lagian juga kan sepedaku ada di kafe, nanti sekalian mas anterin aku ke sana,"


"Baiklah siap," jawab Marfel semangat.


"Mas aku turun di sini aja ya, gak enak kalau di liat sama yang lain," ucap Naila.


Marfel pun mengerti, lalu ia segera meminggirkan sepeda motornya, "Kamu hati hati ya,"


"Iya, Assalamualaikum,"


"Waalaikumsalam, gak salim dulu nih?" goda Marfel.


"Belum hahal,"


"Jadi mau aku halalin dulu nih?" goda Marfel lagi yang membuat Naila kesal.


"Sudah ah, aku mau masuk dulu nanti telat," ujar Naila lagi lalu ia pun berjalan kaki, gak jauh, hanya sekitar 5 menit jalan kaki untuk menuju gerbang sekolah. Tanpa sepengetahuan mereka, Pak Atmaja yang ada di belakang mereka, melihat dengan jelas saat Naila turun dari mobil dan berjalan menuju sekolah.


Kebetulan Pak Atmaja juga baru datang dan ia ada di belakang mobil Marfel, hanya saja Marfel gak melihatnya karena terlalu fokus ke Naila.


Pat Atmaja menyembunyikan klaksonnya saat melewati mobil putrnya itu.


"Aish, itu kan mobil papa. Pasti papa lihat deh, kenapa jadi kebetulan gini sih," gumma Marfel kesal. Namun ia pun tetap menjalankan mobilnya dan memasuki halaman sekolah lalu memarkirkan mobilnya di samping mobil sang papa.


"Kalau cuma buat main main, jangan sampai memberi harapan buat anak itu," ujar Pak Atmaja saat ia melihat putranya keluar dari mobil dengan membawa bekal di tangan kanannya.


"Siapa yang main main, andai dia bukan pelajar dan mempunyai perasaan yang sama denganku, pasti sudah aku lamar," gerutu Marfel yang masih di dengar oleh Pak Atmaja.


"Ups, jadi cinta bertepuk sebelah tangan nih," ucap Pak Atmaja yang membuat Marfel kesal.


"Sudahlah, aku mau masuk ke ruanganku dulu,"


"Jangan lupa, nanti siang bagi bagi bekalnya," goda Pak Atmaja sambil melihat putranya pergi ke ruangannya dengan wajah cemberut.


"Huefft, punya anak tapi malah suka sama anak di bawah umur, masih pelajar pula. Gimana nanti kalau aku ketemu calon menantu ku itu. Eh tapi iya kalau jodoh. Kalau enggak, gak bakalan jadi mantu kan?" gumam Pak Atmaja dalam hati sambil berjalan menuju ruangan Pak Kepsek.