Novemberain

Novemberain
Pergi ke Rumah Sakit




 


Saat Naila bangun dari tidurnya, ia segera pergi ke kamar mandi untuk cuci muka dan sikat gigi dan setelah itu ia ambil wudhu dan sholat shubuh. Selesai sholat subuh, ia pergi untuk mengambil boneka dan jaket milik Fahmi yang ia jemur di samping rumah. Setelah di raba ternyata telah kering, ia pun membawanya ke kamar. Ia menaruh boneka itu di samping bunda dan coklat pemberian Fahmi sedangkan jaketnya, ia setrika dan memberikan parfum miliknya. Setelah di setrika dan rapi, ia pun menaruhnya di dalam tas. Setelah itu, ia pun mencuci baju dan langsung menjemurnya. Selesai mencuci baju seperti biasa ia akan bersih bersih kamarnya, lalu menyapu semua ruangan. Setelah semua bersih ia pergi ke dapur untuk memasak tapi ketika ia ingat bundannya masih ada di luar kota, ia pun memilih untuk kembali ke kamar dan tidur tiduran. Ia merasa malas untuk memasak toh pada akhirnya ia hanya akan makan sendirian. Jadi ia memilih untuk sarapan di luar saja, toh lebih praktis.


Tiba tiba ia ingat dengan pesan yang ia kirim tadi malem untuk Fahmi. Ia pun segera mengambil Hp nya dan membuka pesanya. Dan ternyata ada pesan masuk dari Kak Fahmi, ia pun segera membacanya.


"Waalaikumsalam. Maaf dek, Fahmi ada di rumah sakit dan belum sadar. Ini aku temannya yang membalas pesan adek."


Naila pun merasa dadanya begitu sesak, ia pun segera membalas pesan tersebut.


"Rumah sakit mana?"


"Rumah Sakit Afamar dek, nomer 21."


"Oke."


Setelah membalas pesan itu, ia pun segera mandi dan segera berangkat ke rumah sakti menggunakan sepda motor milik Fahmi, tak lupa ia membawa jaket yang sudah ia setrika barusan.


Sesampai di rumah sakit, ia segera menuju kamar 21. Dan ia melihat ada laki laki yang duduk di samping Fahmi yang belum sadarkan diri.


"Assalamu'alaikum." Ucap Naila.


"Waalaikumsalam. Maaf siapa ya?" tanya temennya itu.


"Saya Naila kak, yang tadi mengirim pesan." Jawab Naila.


"Oh kamu, sini duduk." Ujar temennya itu sambil memberikan kursi kepada Naila.


"Makasih kak." Ucap Naila tersenyum ramah.


"Perkenalkan saya Alfa." Ucap temennya itu yang bernama Alfa, ia menyodorkan tangannya tapi Naila dengan ramahnya hanya  menaruh tangannya di dada pertanya ia tak ingin di sentuh.  Alfa pun tersenyum dan langsung menarik tangannya. Alfa tau, bahwa gadis yang ada di depannya ini bukan wanita sembarangan dan gak bisa di sentuh oleh laki laki yang bukan mahramnya.


"Ka, boleh aku tau kenapa Kak Fahmi bisa seperti ini?" tanya Naila.


"Sebenarnya ia gak enak badan sejak 2 hari yang lalu tapi kemaren malam ia memaksa untuk keluar dan yang aku tau, dia jemput kamu hingga kehujanan. Bener gak?"


"Iya kak, dia jemput aku dan di perjalanan kami kehujanan." Jawab Naila.


"Sebenarnya Fahmi itu suka banget sama hujan tapi sejak.............." Alfa tak berani meneruskan ucapannya.


"Sejak apa kak?" tanya Naila penasaran.


"Maaf aku gak bisa ngasih tau. Tapi setelah jemput kamu, sesampai di kosan, Fahmi langsung pingsan. Aku segera memanggil dokter pribadinya dan dokter itu menyarankan untuk di rawat di rumah sakit tapi Fahmi gak mau. Dan kemaren pagi dia masih saja maksa untuk keluar katanya ia hawatir sama kamu dan setelah itu, tak lama kemudian dia nelvon aku minta di jemput karena sepedanya di pakek sama kamu. Dan setelah sesampai di kosan, ia sempat muntah muntah mungkin karena kena angin di sepanjang jalan.


Aku maksa dia untuk makan tapi dia gak mau dan bilang kalau lidahnya pahit, aku membelikan dia roti agar bisa minum obat lagi lagi dia muntah muntah. Akupun menyuruh dia untuk istirahat dan aku menunggunya di samping dia karena aku takut, aku takut kalau di tinggal pergi, ia keluar lagi hanya untuk bertemu dengan kamu.


Setelah dia bangun dari tidur, ia meminta ku untuk membelikan bunga dan bahan bahan kue. Aku pun pergi sesuai keinginannya dan sesampai di kosan, ia mengambil bunga itu dan merangkainya sendiri bahkan aku gak boleh bantu sama sekali. Dan setelah itu, ia memintaku menemaninya untuk ke dapur karena ia ingin buat kue. Di kosan emang ada dapurnya tapi agak sempit dan itu di gunakan sewaktu waktu jika ingin memasak kalau males untuk beli di luar.


Dia beberapa kali mau roboh, tapi aku langsung memapahnya dan menyurunya untuk duduk sebentar. Aku mau bantuin dia bikin kue tapi ia gak mau karena dia ingin buat sendiri untuk orang spesial. Padahal kondisinya saat itu sangat memprihatinkan tapi aku salut dengan perjuangan dia. Setelah selesai, ia memintaku untuk mengantarkan kue itu di depan rumahmu.


Jujur, aku penasaran banget dengan wajahmu yang sudah bikin temanku jadi tergila gila seperti ini. Walau dia sakit tapi dia rela membuat sesuatu hanya demi membahagiakan kamu. Dan setelah kita ketemu, aku baru sadar. Kamu memang cantik dan pantas saja Fahmi suka dan jatuh cinta sama kamu.


Aku harap, kamu bisa membagiakan Fahmi. Aku ingin liat dia tertawa bahagia di sisa umurnya."


"Maksud kakak apa ya dengan bilang di sisa umurnya?"


"Aku gak bisa ngasih tau kamu karena aku sudah janji gak akan bilang ke siapapun. Bahkan keluarga dan orang tua dia aja gak ada yang tau kecuali aku."


"Apa sih kak jangan bikin aku penasaran dong." Ujar Naila.


"Maaf, aku gak bisa ngasih tau kamu. Oh ya berhubung kamu ada di sini, aku pergi dulu ya. Kamu gak papakan aku tinggal sendiri di sini untuk menjaga Fahmi."


"Gak papa ka, tapi emangnya kakak mau kemana?" tanya Naila.


"Aku ada urusan." Jawab Alfa tersenyum dan setelah itu ia pergi.


Naila hanya menatap kepergian Alfa dengan penuh tanda tanya, setelah Alfa benar benar pergi. Naila menatap wajah Fahmi yang begituu pucat.


"Ka, sebenarnya kakak sakit apa sih?" tanya Naila sambil menitikkan air mata.


"Ka, kita baru saja ketemu dan kakak sudah bisa mencuri hatiku. Bukan hanya kakak yang suka sama aku tapi aku juga suka sama kakak. Tapi aku juga sudah berjanji sama bunda tak akan pernah pacaran karena pacaran itu dosa dan aku gak mau kak hidup dengan penuh dosa."


"Ka, bangung dong. Jangan bikin aku hawatir kayak gini. Sebenarnya kakak sakit apa? Kak, terima kasih untuk semua perhatian kakak selama ini. Sejak awal kita ketemu kaka begitu baik terhadapku. Kakak rela berkorban demi aku. Bahkan di saat kakak sakit pun, kakak masih mikirin untuk membuat kejutan untuk aku."


"Ka, aku bahagia bisa bertemu kakak. Aku sangat bahagia. Belum pernah selama ini aku merasakan suka kepada lawan jenis selain sama kakak. Kakak orang pertama yang bisa mencuri hatiku dan menetap di sana." Ujar Naila sambil menitikkan air mata.


Saat ia lagi menatap wajah pucat Fahmi, tiba tiba hp nya bergetar. Ia pun segera mengambil hp itu dan melihat ada pesan dari Rani.


"Assalamu'alaikum Nai. Kamu ada di mana? Ini sudah bell lho dan kamu belum juga datang."Ujar Rani.


Naila pun baru ingat, ini sudah jam 7 dan dia malah pergi ke rumah sakit. Tadi sangking paniknya, ia segera mandi dan pakai baju lalu berangkat kesini. Bahkan ia lupa jika harus berangkat ke sekolah.


"Waalaikumsalam Ran. Maaf hari ini aku gak masuk sekolah."Ujar Naila membalas pesan Rani.


"Kenapa? Kamu sakit tah?"tanya Rani


"Enggak Ran."


"Terus kenapa? Kamu pergi ke resto tah?"


"Enggak juga Ran."


"Terus kamu ada di mana sekarang?"


"Ada di rumah sakit."


"Ngapain di rumah sakit?"


"Temenku sakit Ran."


"Temen yang mana?"


"Kak Fahmi."


"What kamu rela gak masuk sekolah demi menjenguk Fahmi di rumah sakit. Kamu kan bisa jenguk dia pas pulang sekolah."


"Aku tadi panik Ran pas temennya bilang Kak Fahmi di rawat di rumah sakit jadi aku langsung ke sini."


"Terus gimana dong? Kamu yakin mau bolos?"


"Iya Ran, aku yakin. Toh selama ini aku gak pernah bolos, sekali kali gak papakan? Lagian walau aku berangkat sekarang pun sudah telat, mana aku belum pakai seragam, bukuku juga ada di rumah."


"Iya udah deh, kamu hati hati ya di sana."


"Oke Ran. Nanti kalau ada tugas atau gimana. Kamu chat aku ya."


"Oke. Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam."


Setelah selesai chat dengan Rani, Naila pun menaruh hp nya di dalam tas kecil yang ia bawa.


"Kalau bunda tau, aku bolos sekolah. Bunda marah gak ya?" tanya Naila dalam hati.


"Sudahlah toh nanti kalau bunda tanya, aku bisa cerita apa adanya. Aku yakin bunda gak mungkin marah, paliing cuma nasihatin aku doang." Ujar Naila dalam hati.


Naila kembali melihat wajah Fahmi yang masih terpejam seperti orang tertidur pulas.