Novemberain

Novemberain
Debar-debar Cinta



Naila menggenggam tangan Marfel, ia duduk di kursi yang ada di samping Brankar, lalu ia menggenggam tangan Marfel. Melihat Marfel lemah seperti ini, membuat hatinya sakit. Biasanya Marfel selalu ceria, banyak bicara tapi sekarang, ia hanya diam menutup mata dengan perban di kepalanya.


Naila mengelus tangan Marfel, walaupun laki-laki, namun tangan Marfel sangat terawat, putih dan mulus. Berbeda dengannya yang sedikit kasar dan tak seputih milik Marfel.


"Mas, bangunlah," ucap Naila dengan menitikkan air mata.


"Maafin aku ya, karena aku pulang dulu. Seharusnya aku tunggu kamu di parkiran seperti biasanya kan, agar kita bisa pulang bareng. Maaf, karena aku ninggalin kamu dan memilih untuk pergi lebih dulu."


"Mas, hatiku sakit melihat kamu seperti ini, Aku gak ingin kehilangan kamu seperti aku kehilangan Mas Fahmi. Aku gak mau itu terjadi, Mas. Aku menyayangi kamu, aku merasa nyaman ada di dekat kamu, aku merasa ada yang melindungi aku, jadi aku mohon bangunlah," ucap Naila menangis.


"Walaupun aku gak mencintai kamu, setidaknya aku ingin kamu tau, aku menyukai kamu, aku gak ingin kehilangan kamu, laki-laki yang sudah terpatri di hati aku." Naila mencium punggung tangan Marfel.


Mendengar hal itu, Marfel tersenyum dalam diam. Ia sejujurnya sudah bangun, hanya saja, ia tak ingin Naila tau. Ia akan berpura-pura untuk tak sadarkan diri, agar ia tau perasaan Naila terhadapanya.


"Nanti jika kamu sudah bangun, kamu gak boleh nyetir sendiri ya. Kamu harus pakai sopir aja, aku gak mau Mas Marfel kenapa-napa. Sungguh aku takut sekali, aku bahkan langsung ke sini saat Tante Maria memberitahu kalau kamu masuk rumah sakit. Sepanjang jalan, aku merasa ketakutan, cemas dan juga sedih bersamaan. Aku takut, takut jika aku akan kehilangan kamu."


Naila menangis, membuat hati Marfel terenyuh. Walauun Naila masih belum mencintainya, setidaknya Naila sudah merasa nyaman berada di dekatnya dan menyayanginya. Marfel yakin, cepat atau lambat, ia bisa membuat Naila jatuh hati padanya dan setelah itu, ia ingin menjaga Naila dan melindunginya.


Ia tak ingin jika Naila sampai di rebut oleh pria lain. Ia gak mau itu terjadi, karena bagaimanapun, ia benar-benar sudah jatuh hati pada Naila, yang merupakan muridnya sendiri.


Marfel membuka matanya dengan pelan, dan ia melihat Naila yang masih tengah menangis dan memegang tangannya dengan erat.


"Mas, Mas sudah bangun?" tanya Naila dengan raut bahagianya, sangking bahagianya, ia langsugn memeluk Marfel dengan erat. Tentu, Marfel membalas pelukan itu, dan menikmati pelukan yang entah kapan akan mendapatkan kembali.


Andai tau, dengan sakit seperti ini, akan mendapatkan perhatian dari Naila bahkan mendapatkan pelukan, maka ia akan dengan senang hati sakit setiap hari.


"Nai," panggil Marfel, karena pelukan Naila yang semakin erat, membuat dirinya sesak.


Mendengar panggilan Marfel, Naila langsung melepas pelukannya.


"Maaf, Mas." Naira merasa malu, karena sudah kelepasan memeluk gurunya itu.


"Its okay, gak papa," jawab Marfel tersenyum melihat rona malu di wajah Naila.


"Aku panggil dokter ya," ujar Naila dan Marfel pun menganggukkan kepala.


Setelah itu, Naila pun pergi dari sana, dan membuat Marfel bernafas lega. Dari tadi, ia merasa jantungnya berdetak kencang karena mendapakan pelukan tiba-tiba dari wanita yang ia cintai.


"Tuhan ... kali ini, aku sakit lama pun tak apa," ucapnya dalam hati. Ia ingin menikmati masa-masa mendaptkan perhatian dari Naila.