Novemberain

Novemberain
Bertemu Mamanya Marfel



Saat ini Naila dan Marfel telah tiba di depan rumah Marfel yang cukup mewah dan luas. Naila dan Marfel langsung turun dari mobil, lalu mereka berjalan menuju rumah dimana sang mama sudah ada di depan rumah, duduk santai menunggu kedatangan mereka berdua.


"Assalamualaikum," ucap Marfel dan Naila bersamaan.


"Waalaikumsalam." Mama Maria, Mamanya Marfel langsung berdiri. Marfel dan Naila pun langsung mencium tangan Maria secara bergantian.


"Ini tante," Naila menyodorkan kue yang di beli saat dalam perjalanan tadi.


"Ya ampun, kenapa mesti repot-repot. Padahal tante gak perlu di bawakan oleh oleh segala, yang penting kamu datang aja, tante seneng banget loh," ujar Mama Maria. Namun ia tetap menerima kue pemberian sang calon menantu.


"Ma, suruh masuk dulu. Ngobrol di dalam," ujar Marfel memberitahu.


"Ah ya, mama sampai lupa. Ayo masuk sayang," Maria menggandeng tangan Naila seakan mereka sudah kenal lama.


Lalu mereka masuk ke dalam dan duduk di sofa.


"Sayang, kamu kau minum apa?" tanya Maria ke Naila.


"Gak usah repot-repot, tan,"


"Loh tante gak repot kok, tante buatkan jus mau?" tanya Maria lagi.


"Boleh deh tan," ujar Naila tersenyum ramah.


Maria mengangguk lalu ia pun pergi ke dapur sambil membawa kue dari Naila tadi.


"Nai, aku ke kamar dulu ya bentar, mau ganti baju," ucap Marfel.


"Iya, Mas." Lalu Marfel pun pergi ke kamarnya dan kini tinggal Naila sendiri di ruang tamu.


"Loh, Marfel mana?" tanya Maria setelah ia selesai membuat 3 jus sekaligus, untuk Naila, Marfel dan juga dirinya. Ia menaruh jus itu di atas meja.


"Lagi di kamarnya, Tan. Ganti baju," sahut Naila.


"Oh, ayo di minum jusnya," ujar Maria, Naila pun langsung meminumnya sedikit.


"Lagi sibuk apa sekarang sayang?" tanya Maria.


"Gak ada, Tante. Ya paling cuma sekolah sama bantu bunda ngurus resto,"


"Wah kamu punya restoran ya, apa nama restorannya?" tanya Maria lagi.


"Lala's Restauran tan,"


"Iya, tan. Alhamdulillah."


"Pasti kamu pinter masak, gimana kalau nanti kamu temenin tante masak?" ujar Maria.


"Boleh, Tan." Naila pun langsung menyetujuinya.


Saat mereka asyik ngobrol, Marfel pun datang dan duduk di dekat Naila.


"Mama seneng kamu itu deket sama Naila, walaupun mama baru pertama bertemu, tapi mama yakin Naila wanita yang sangat baik," puji Maria membuat Naila malu.


"Doakan aja agar kelak aku bisa mempersunting dia," ujar Marfel yang di amini oleh Maria. Sedangkan Naila hanya diam tak mengerti kenapa malah jadi bahas seperti ini.


Mereka pun terus mengobrol berdua hingga akhirnya, Maria mengajak Naila ke dapur untuk memasak berdua. Sungguh Maria sengat senang, bersama dengan Naila, ia seperti punya anak perempuan. Bisa di ajak masak bersama seperti ini. Apalagi Maria mendapatkan ilmu dari Naila. Ya, mereka seperti bertukar resep. Maria memberikan resep yang ia punya untuk Naila, begitupun dengan Naila, ia juga memberikan resep yang ia dapat dari bundanya.


Mereka masak bersama sambil ngobrol satu sama lain. Hingga seja kemudian, nasi dan berbagai macam lauk pun tersaji di atas meja. Makanan yang lezat bak resto bintang lima.


Setelah selesai memasak, Naila lanjut membuat kue kering bersama Maria. Hingga setengah jam kemudian, kue itu pun selesai dan Maria menaruhnya di meja satunya. Jika nanti sudah dingin, akan ia taruh di toples.


"Loh ada acara apa ini, kok masak banyak?" tanya Pak Atmaja yang baru datang dan langsung mencari sang istri tercinta yang ternyata sibuk di dapur.


"Haha mama lagi nyoba resep baru nih pa dari Naila," ujar Maria.


"Loh Naila, kamu di sini?" tanya Pak Atmaja.


"Iya, Pak. Tadi Pak Marfel mengajak saya ke sini," jawab Naila gugup.


Saat ia menjawab seperti itu, Marfel pun datang.


"Jangan panggil aku 'pak'. Kamu lupa itu?" tanya Marfel mengingatkan.


"Hehe maaf, Mas." Naila hanya cengengesan.


Lalu setelah itu, Maria pun mengajak suami, anak dan calon menantunya makan bersama.


Dan yah, Pak Atmaja langsung memuji masakan Naila beda dengan Marfel yang memang sudah tau, betapa nikmat masakan calon istri masa depannya itu. Maria pun juga merasa senang karena masakannya lezat, tak sia sia dia belajar resep dari Naila.


Habis makan bersama, mereka pun duduk santai di ruang tamu sambil ngobrol. Awalnya Naila merasa canggung di depan Pak Atmaja, namun karena Pak Atmaja terlihat santai dan sesekali ngajak bercanda, akhirnya Naila pun mulai bisa menyesuaikan. Bahkan hanya dalam waktu singkat, Naila langsung terlihat dekat dengan kedua orang tua Marfel.


Marfel yang melihat itu pun merasa senang karena itu artinya kedua orangtuanya menyukai wanita yang ia pilih.