
Sesampai di sekolah, baru turun dari taxi. Stefan langsung menghampiri Naila. Naila yang melihat Stefan di depannya langsung kaget seketika.
"Kak Stefan, mau ngapain?" tanya Naila yang masih dengan raut wajah terkejutnya.
"Nai, kenapa kamu memblokir nomerku?" tanya Stefan. Sejak tadi malam, ia tak bisa lagi menghubungi Naila, karena nomernya di blok.
"Maaf, Kak. Aku cuma merasa risih aja karena Kak Stefan terus chat aku," ucap Naila tak enak hati. Ia juga tak mungkin berkata jujur, bahwa yang memblok nomer Stefan adalah Marfel.
"Itu karena kamu gak membalas pesan aku, Nai. Makanya aku mengirimin kamu banyak pesan, berharap, ada salah satu pesan aku yang kamu balas," balas Stefan.
"Tapi gak gitu caranya, Kak Stef. Aku bukan cewek pengangguran yang dua puluh empat jam megang Hp. Aku harus sekolah, pulang sekolah aku harus kerja dan pulangnya tengah malam. Belum aku harus ngerjakan tugas. Aku bukan seperti wanita lainnya, yang punya banyak waktu buat mantengin Hp," protes Naila tak suka.
"Sesibuk-sibuknya kamu, tak bisahkan kamu balas pesan aku, hanya beberapa detik saja, Nai."
"Maaf, Kak. Aku gak bisa." Naila mau berjalan ke kelasnya namun malah di halangi oleh Stefan.
"Nai, aku tau kamu mencoba untuk terus menghindar dari aku. Kenapa, Nai? Apa aku sejelek itu di mata kamu, apa aku sejijik itu, hingga kamu enggan untuk menatap aku?" tanya Stefan dengan suara rendahnya membuat Naila lagi-lagi merasa tak enak hati.
"Kak Stefan tampan kok."
"Terus kenapa kamu menghindar dari aku?"
"Karena aku gak suka sama Kak Stefan."
"Maksud kamu apa, Nai?"
"Kamu gak bisa, karena kamu gak mau mencoba, Nai."
Naila menggelengkan kepalanya.
"Aku gak akan pernah mau mencoba untuk sesuatu yang tidak bisa membuat hatiku tertarik. Terlebih kita ini masih SMA, Kak. Lebih baik kita fokus aja untuk belajar, gak usah mikir pacaran. Lagian agama kita juga kan melarang untuk kita punya pacar. Akan tetapi, jika emang kakak ingin menjalin hubungan dan ingin menikmati masa-masa SMA seperti anak lainnya, maka carilah wanita yang bisa mencintai kakak, jangan memaksakan kehendak orang, karena itu bisa membuat orang lain merasa infil sama kakak."
Tanpa menunggu jawaban, Naila segera berlari ke kelasnya. Sedangkan Stefan menjambak rambutnya sendiri, karena merasa kesal dengan apa yang diucapkan oleh Naila. "Kenapa kamu gak pernah faham, Nai. Aku mencintai kamu," ujar Stefan. Ini pertama kalinya dia mencintai seorang wanita, sayangnya ia harus di tolak sebelum dirinya berjuang untuk mendapatkannya.
Stefan sudah susah payah mendapatkan nomer Naila, tapi apa yang ia dapatkan, selain rasa sakit. Namun entah kenapa, itu tak bisa membuat Stefan menyerah. Ia yakin, suatu saat Naila bisa belajar untuk mencintainya. Hanya saja, semuanya butuh waktu.
Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang mendengar percakapan mereka.
"Sesakit inikah melihat orang yang aku suka, malah mencintai wanita lain?" tanyanya sambil memegang dadanya yang terasa sakit.
Wanita itu adalah Rifa. Dia juga yang sudah memberikan nomer Naila ke Stefan. Awalnya ia senang karena Stefan mencoba untuk mendekatinya bahkan Stefan juga mengajak dirinya makan berdua. Namun alih-alih untuk pendekatan, nyatanya Stefan mendekati dirinya karena ada maunya.
Awalnya Rifa menolak saat Stefan meminta nomer Naila, namun karena Stefan berhasil merayunya, akhirnya dengan berat hati Rifa memberikan nomer teman baiknya itu.
Dan saat ia mendengar Naila memblok nomer Stefan, entah ia harus senang atau sedih. Senang karena nyatanya Naila tak menanggapi Refan dan sedih karena secara tidak langsung Naila sudah menyakiti Stefan, laki-laki yang ia suka. Melihat Stefan sefrustasi itu, entah kenapa ia juga merasa sakit. Sakit karena Naila menyakiti hati Stefan dan sakit karena Stefan mencintai Naila, bukan dirinya.
Setelah Stefan pergi dari sana, Rifa keluar dari tempat persembunyiannya.