Novemberain

Novemberain
Fahmi Meninggal




 


 


Saat Fahmi sudah berada di tempat yang aman dan tak kena hujan, tiba tiba Alfa datang bersama dengan dokter yang selama ini selalu menangani penyakitnya.


"Kak Alfa." Ujar Naila sambil menghapus air matanya. Alfa hanya diam memegang tangan sahabatnya. Sedangkan dokter yang tadi datang bersama dengan Alfa mencoba untuk memeriksa Fahmi dan membangunkannnya namun Fahmi tak beraksi sama sekali, saat dokter itu memerika denyut nadinya. Ternyata ia hanya bisa menghela nafas, pasien yang selama setahun terakahir ini selalu mengeluh rasa sakit kini telah pergi untuk selamanya.


"Nak Alfa, kamu harus sabar. Fahmi sudah tiada." Ujar Dokter itu dengan gurat sedih.


Alfa pun lansung shok seketika dan dia hanya bisa menatap kepergian sahabatnya yang sudah ia anggap sebagai saudaranya sendiri. Sedangkan Naila hanya bisa menangis, menangis dan menangis.


"Kak, bangun kak. Aku mohon. Aku juga sayang kakak, aku gak mau kakak ninggalin aku kayak gini. Aku mohon kak, tolong bangun demi aku. Maafkan aku yang gak peka sama perasaan kakak selama ini. Maafkan aku kak...." Ucap Naila menangis histeris di samping Fahmi yang sudah tak lagi bernyawa. Alfa hanya bisa menatap kepergian sahabatnya itu dengan air mata kesedihan.


"Semoga kamu bahagia bro, kamu tak akan lagi merasakan rasa sakit, kamu juga tak perlu mendengar pertengkaran orang tuamu lagi. Mungkin ini adalah yang terbaik buat kamu. Maafkan aku yang gak ada di saat saat terakhir kamu. Aku akan menjaga Nai seperti apa yang kamu minta sampai dia menemukan kebahagiaannya sendiri." Ujar Alfa menitikkan air mata.


Setelah hampir lima belas menit, dokter itu meminta Alfa untuk membawa Fahmi ke mobilnya agar jenazahnya bisa segera di makamkan. Naila pun ikut masuk ke dalam mobil, ia terus berada di samping Fahmi sambi memegang tangan Fahmi. Alfa yang melihat Naila menangis, merasa begitu kasihan padanya.


"Maafkan aku Nai, karena aku kemaren gak bisa berbicara jujur sama kamu. Sebenarnya Fahmi sakit kangker otak sejak tahun lalu. Dan kenapa ia memilih tinggal di kosan dari pada di rumah orang tuanya karena Fahmi sudah muak melihat mama papanya yang setiap hari bertengkar hanya masalah sepela. Untuk itulah ia memillih untuk tinggal di kosan karena ia juga sudah jenuh melihat mama dan papanya yang gak bisa mengerti perasaannya bahkan ketika Fahmi sakit dan butuh ketenangan, mereka pun tak ada yang peduli. Andai saja mama  dan papanya memikirkan sedikit saja perasaaan Fahmi, mungkin ini semua tak akan terjadi karena aku yakin mereka mampu bahkan sangat mampu untuk mengobati penyakit yang mendera Fahmi. Tapi apalah daya, mereka hanya memikirkan perasaan mereka masing masing. Bahkan aku sampai kasihan melihat Fahmi yang terus saja menahan rasa sakit. Aku pernah mencoba untuk membantunya agar ia bisa oprasi tapi ia gak pernah mau, pernah memang ia menjalani beberapa pengobatan tapi setelah uagnnya habis, ia pun pasrah. Walau dia sakit, tapi ia berusaha untuk bekerja dan meneruskan sekolahnya karena kelak dia ingin menjadi seorang dokter tapi apalah daya, ternyata tuhan lebih sayang dia dari pada kita. Dan mungkin dengan ini, Fahmi tak lagi merasakan rasa sakit. Dokter tadi itu adalah dokter yang selama ini berusaha membantu Fahmi ketika Fahmi kesakitan, dan kemaren saat Fahmi ada di rumah sakit, sebenarnya dokter menyuruh untuk menjalani oprasi tapi ia gak mau karena ia sudah tak tahan lagi dengan rasa sakit ini dan untuk itulah ia memilih untuk di rawat biasa dan ia ingin menikmati sisa sisa hidupnya bersama kamu di bawah hujan." Ujar Alfa menceritakan secara detail.


"Nai, Fahmi tulus menyayangi dan mencintai kamu."Lanjut Alfa sambil melihat wajah sahabatnya.


"Apakah kakak sudah menghubungi orang tua Kak Fahmi?" tanya Naila.


"Sudah Nai, mungkin sekarang mereka sudah menunggu kedatangan kita semua." Ujar Alfa. Naila hanya bisa menangguk dan terus menatap wajah laki laki yang kini terbarin di hadapannya, laki laki yang sudah meninggalkan dirinya untuk selama lamanya. Kini hanya ada kenangan yang bisa ia ingat, kenangan yang tak pernah ia lupakan seumur hidupnya.


"Ka, aku berjanji setelah ini aku akan belajar lebih giat lagi agar bisa menjadi dokter seperti yang kakak inginkan. Aku pastikan aku akan mendapatkan nilai terbaik dan menjadi dokter profesional yang bisa kakak banggakan." Ujar Naila sambil menghapus air matanya.


KAK FAHMI, WALAU KITA BELUM LAMA BERTEMU TAPI KAKAK SUDAH MENCURI HATIKU. SEMOGA KAKAK BAHAGIA DI SANA.


 


 


Lanjut gak ya?