Novemberain

Novemberain
Ketakutan Naila Karena Ditelfon Ibunya.



Malam harinya, seperti biasa. Naila menemani Marfel ngobrol sambil mengerjakan tugas. Dan ketika asyik mengerjtakan tugas, HP Naila berbunyi. "Siapa yang nelfon, Nai?" tanya Marfel.


"Bunda, Mas," jawab Naila gugup.


"Gimana dong, Mas. Bunda vidio call ini, nanti ketahuan dong, aku di rumah sakit," ujar Naila bingung.


"Jawab aja yang jujur, kamu lagi jenguk guru kamu. Tapi jangan bilang kalau kamu nginap di rumah sakit," sahut Marfel.


Namun baru aja mau mengangkatnya, telfonnya terlanjut mati. Akhirnya Naila duluan lah yang nelfon balik, hanya saja ia nelfon biasa, tidak vidio call.


"Assalamualaikum, Bunda," sapa Naila lebih dulu.


"Walaikumsalam, tadi kemana Nai. Bunda nelfon gak di angkat, padahal Bunda kangen sama kamu."


"Maaf, Bunda. Tadi Naila masih ngerjakan tugas sekolah."


"Owh. Keadaan Resto di sana gimana, Nai? Baik-baik aja, kan?"


"Alhamdulillah baik, Bunda. Malah setiap harinya, keuntungannya semakin meningkat."


"Syukurlah, Bunda senang mendengarnya. Bunda masih ngurus yang di sini, Nai. Jadi Bunda gak bisa pulang lebih cepat. Gak papa, kan?"


"Gak papa, Bunda. Lagian Nai sudah dewasa."


"Bunda sangat bangga padamu, Nai. Kamu bisa mengerti posisi Bunda. Kamu semangat ya belajarnya, dan jangan pacaran dulu."


"Tapi misal Nai suka seseorang, apakah boleh  Bun?" tanya Nai sambil menatap ke arah Marfel yang tersenyum manis padanya.


"Emang ada yang menarik hatimu Nai?" tanyanya.


"Ada, Bunda."


"Masalah hati, memang gak bisa di cegah, Nai. Jika memang kamu menyukainya, gak papa. Itu hak kamu, Nai. Tapi Bunga hanya ingin bilang, kamu harus bisa jaga diri, kamu itu perempuan Nai. Bunda gak ingin, kamu kehilangan kehormatan kamu sebelum menikah."


"Naila mengerti, Bunda. InsyaAllah, Naila bisa jaga diri."


"Bunda percaya sama kamu dan Bunda harap kamu juga tak akan pernah mengecewakan, Bunda."


"Kamu juga gak boleh terlena sama laki-laki, walaupun kamu menyukainya, tapi kamu harus ingat dengan tanggung jawaba kamu, Nai. Kamu masih pelajar, tugas utama kamu adalah belajar, kamu harus bisa menggapai impian kamu. Ingat, Bunda kerja keras kayak gini demi kamu, demi masa depan cerah kamu. Bunda gak ingin jika kamu sampai melalaikan tugas kamu demi laki-laki."


"Aku mengerti, Bunda. InsyaAllah, Nai akan selalu jadi juara di kelas. Dan Nai akan lulus dengan nilai bagus."


"Baiklah, kamu selesaikan tugas kamu. Bunda masih ada kerjaan."


"Iya, Bun. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Setelah selesai telfonan dengan sang Bunda. Akhirnya Naila pun bisa bernafas lega. Untungnya sang Bunda gak nanya dirinya ada di mana, karena ia tak mungkin berbohong jika dirinya berada di rumah.


"Lega?" tanya Marfel.


"Iya," jawab Naila sambil menganggukkan kepalanya.


"Iya sudah lanjutkan tugas kamu gih, biar nanti kamu gak terlalu malam tidurnya," ujar Marfel dan Naila pun menurutinya.


Setelah selesai mengerjakan tugas, Naila menonton tivi sambil nyemill keripik.


"Kamu gak ada kerjaan lagi?" tanya Marfel melihat Naila terlihat santai.


"Enggak, pekerjaan aku sudah aku selesaikan tadi siang di resto. Terus aku juga gak perlu ngetik, karena tadi malam aku sudah ngetik banyak, dan sudah aku upload sesuai tanggal, jadi selama beberapa hari ke depan. Aku cukup santai," jawab Naila sambil memasukkan cemilan keripik ke dalam mulutnya.


"Syukurlah, jadi kita bisa mengobrol banyak malam ini," ujar Marfel dan Naila pun mengiyakan.


Mereka mengobrol dengan santai, hingga tiba-tiba Naila berhenti bersuara dan saat Marfel melihat ke arah Naila. Naila sudah menutup matanya dengan erat. Marfel hanya terkekeh melihat hal itu. Marfel turun dari brankar dan ia menggendong Naila, lalu menaruh Naila di atas brankar itu agar bisa tidur nyenyak. Tadi malam, Naila kekurangna istirahat dan tadi aktivitasnya juga cukup padat. Pasti Naila kelelahan. Jadi Marfel membiarkan Naila yang tidur di atas brankara dan dirinya yang tidur di atas sofa.


Tak lupa Marfel juga menyelimuti Naila sampai lehernya, namun sayangnya, Naila seperti tak suka, dengan mata tertutup ia membuang selimut itu. Akhirnya Marfel pun tak lagi menyelimuti Naila. Dan membiarkan Naila tidur tanpa selimut.


Marfel berjalan ke arah sofa dan mematikan tivinya, lalu ia mengambil keripik yang masih sisa setengah, dan menghabiskannya. setelah itu, ia membuang bungkus keripik itu ke tempat sampah. Lalu, ia mengambil baju kotor Naila yang ada di keranjang itu dan memasukkannya ke dalam kresek besar. Ia juga memasukkan baju kotor miliknya di kresk besar lainnya, jadi gak di campur jadi satu. Setelah selesai, ia menelfon pihak loundry. Untuk mengambil baju kotornya. Untungnya rumah sakit ini ada tempat loundry, sehingga Marfel tidak perlu menyewa orang luar.


Seharusnya Naila yang melakukannya, mungkin dia lupa atau gimana, sehingga Naila membiarkan seragamanya dan baju santainya terus berada di keranjang. Namun, Marfel tak mempermasalahkannya, toh dia juga bisa melakukan itu sendiri. Anggap aja, dia tengah belajar untuk jadi suami yang baik buat Naila.