Novemberain

Novemberain
Mencoba Untuk Membangunkan Alfa Dari Tidur Panjangnya



Naila menggenggam tangan Alfa dan menatap Alfa dengan wajah sendunya. Entah kenapa hatinya sakit melihat keadaan Alfa yang seperti ini.


"Kak Alfa, ini aku Naila. Maaf ya aku baru datang. Soalnya aku baru tau keadaan Kak Alfa. Andai aku tau dari kemaren, pasti aku akan langsung datang kemaren, sayangnya aku baru tau hari ini. Oh ya aku datang bareng Bunda loh. Kakak gak mau kenalan sama Bunda aku. Jarang-jarang bisa ketemu Bunda, soalnya Bunda orangnya super sibuk hehe," ujar Naila mengaja bercanda, namun air mata terus mengalir di pipinya.


"Maafin aku ya, Kak. Kakak seperti ini pasti gara-gara aku kan. Andai aku gak mengenalkan Mas Marfel pasti Kak Alfa gak akan seperti ini, dan masih sehat. Kenapa sih, Kakak tuh harus minum minuman haram itu, padahal kan dalam islam gak boleh, harus di jauhi, di tambah kakak minum obat, itu kek racun loh kak. Emang Kak Alfa gak tau, atau sudah tau tapi tetap melakukannya? Kakak sengaja ya ingin mengakhiri  hidup Kakak? Padahal Kak Alfa itu punya orang tua dan adik yang cantik. Emang Kakak gak kasihan sama mereka, sama Om Antoni, sama Tante  Arini, Mas Adrian dan Alfira. Aku lihat mereka sayang banget loh sama Kak Alfa, dan  mungkin di luar sana juga banyak orang yang sayang sama kakak. Tapi kenapa Kakak harus menghancurkan hidup kakak cuma gara-gara aku seorang. Kakak gak mikir gimana kesedihan mereka semua lihat kondisi kakak seperti ini, terutama Tante Arini, matanya sampai bengkak loh kak, pasti Tante Arini gak berhenti nangis gara-gara kondisi Kakak yang kayak gini," ujar Naila mengajak Alfa bicara. Walaupun ia tau, ia tak akan mendapatkan tanggapan apapun, namun entah kenapa ia merasa yakin, jika Alfa pasti mendengar apa yang dirinya bicarakan saat ini.


"Aku bingung sebenarnya mau ngomong apa hehe. Jujur aku sebenarnya tau Kak Alfa deketin aku karena ada hal lain, tapi aku tetap aja terkejut mendengar semua pengakuan Kak Alfa sama aku. Aku gak nyangka aja, kalau Kakak akan mencintai aku sampai sedalam itu. Padahal aku hanya menganggap Kak Alfa itu sebagai teman karena Kak Alfa sahabat Kak Fahmi. Tapi ya cinta itu kadang datang tanpa kita duga kan. Aku juga gak bisa menyalahkan Kak Alfa, karena aku tau, Kak Alfa juga gak mau ini terjadi, tapi mau bagaimana lagi jika cinta itu bahkan datang tanpa bisa kita cegah. Iya, kan? Tapi menurut aku, kenapa Kak Alfa gak jatuh cinta sama sahabat aku aja, namanya Rani. Kakak kenal, kan. Dia baik loh, cantik juga, sabar, setia, pinter, dan penolong. Pintar nyimpan rahasia hehe. Kak Alfa merasa ilfil karena Kakak belum kenal betul sama Rani, tapi jika kakak tau sifat dan karakternya, dan bagaimana ia sehari-harinya, aku yakin Kak Alfa pasti mudah jatuh cinta padanya. Eh, bukannya aku mau jodohin kakak sama Rani, ataupun menjadi mak comblang. Bukan loh ya, tapi aku cuma merasa kalian cocok aja sih, karena sama-sama baik, dan kalian sama-sama berarti buat aku dan aku ingin kalian bisa bersama dan mengenal manisnya cinta." Naila bingung sebenarnya mau ngomong apa, ia hanya ingin memancing Alfa aja biar dia bisa bangun dan sadar dari tidur panjangnya. Ia gak ingin Alfa pergi menyusul Fahmi, karena akan banyak hati yang terluka jika itu sampai terjadi. Dan Naila pasti akan merasa bersalah banget, karena Alfa seperti ini karenanya.


"Kak, maafin aku ya. Aku gak bisa balas perasaan Kak Alfa, aku cuma bisa menjadi teman atau sahabat. Atau  jika Kakak mau, kakak bisa loh jadi kakak angkat aku. Jadikan aku adik angkat Kak Alfa juga boleh, jadi kita bisa jadi saudara, Kakak mau kan? Walaupun kita gak bisa bersatu dalam ikatan pernikahan, tapi kita terus bersama karena kita menjadi saudara, walaupun cuma saudara angkat sih, tapi kita akan bergantung satu sama lain. Aku kan anak tunggal, dan pengen banget rasanya punya kakak laki-laki atau seorang adik. Rasanya lelah jadi anak tunggal, aku juga perlu perhatian dan ingin di manja, serta ingin merasakan bagaimana sih punya saudara, pasti asyik kan?" tanya Naila sambil mengelus tangan Alfa dengan pelan.


"Kak Alfa, rencananya nanti malam Mas Marfel mau melamar aku, menurut kakak gimana? Aku harus nerima? Jujur aku mencintai Mas Marfel seperti aku mencintai Kak Fahmi dulu. Mas Marfel itu baik dan bisa bikin aku nyaman saat ada di dekatnya. Sebenarnya sih aku gak mau cerita, tapi aku ingin terbuka aja dan aku gak ingin Kakak terus berharap sama aku. Kakak masih muda, kelak Kak Alfa pasti akan menemukan wanita yang jauh lebih baik dari aku, wanita yang bisa mengobrak abrik hati Kak Alfa, percaya deh sama aku." lanjut Naila.


"Kak, bangun dong. Jangan tidur terus. Kalau kakak sakit karena aku, seharusnya kakak bisa sembuh karena aku juga kan? Iya, kan?" tanya naila seperti ingin memaksa Alfa untuk bangun.


"Ayolah, jika emang Kak Alfa cinta sama aku, buktikan dong. Buka matanya Kak Alfa dan tatap aku saat ini, jika dalam hitungan ke tiga, Kakak gak buka mata, aku akan pergi dari sini dan aku gak akan pernah muncul lagi di hadapan Kak Alfa," ancam Naila sambil terus menatap wajah Alfa. Namun air mata tetap saja menetes membasahi pipinya. Namun ia ingin terlihat tegar, ia gak mau terlihat cengeng. Untuk itu, ia berusaha untuk bersuara normal dan tak terdengar jika saat ini, hatinya terluka melihat kondisi Alfa.


"Satu ... " Naila mulai menghitung, namun Alfa juga belum ada gerakan sama sekali.


"Dua ... " Naila sengaja menghitung dengan lambat, karna ia terus memantau keadaan Alfa dari wajah, jari sampai kakinya. Karena setaunya, pasti akan ada gerakan kecil yang terlihat saat seseorang berusaha bangun dari tidur panjang, entah itu dari bulu mata yang ada gerakan kecil atau jari tangan.


"Ti .... " Naila masih menggantung dan terus menatap wajah Alfa.


"Tiga. Huefft gak ada perubahaan. Kak Alfa ternyata gak tulus cinta sama aku," ucap Naila sedih, karena ternyata tidak sesuai perkiraan. Tidak seperti di novel-novel yang ia baca.


"Kak Alfa itu tampan loh, beneran deh, sayangnya Kak Alfa telat bilang cinta sama aku. Andai Kak Alfa bilang cinta sebelum Mas Marfel, mungkin aku bisa mempertimbangkan kalian berdua. Tapi semuanya sudah terlambat, dan itu pasti takdir. Iya, kan? Seberapa kuatnya cinta seseorang, jika mereka tidak ditakdirkan bersatu, ya selamanya gak akan bersatu. Begitupun sebaliknya, walaupun orang itu bersikeras menentang ikatan mereka, namun jika Tuhan menakdirkan mereka bersatu dalam ikatan yang halal, maka mereka tetap akan menikah. Pada dasarnya jodoh itu sudah ada yang ngatur, iya kan kak? Jadi Kak Alfa itu gak perlu cemas, jangan berfikiran sempit. Jangan karena wanita, kakak sampai nyakitin kakak sendiri dan bikin yang lain ikut sedih karena Kak Alfa. Apalagi jika sampai kakak mati, Audzubillah, kakak bisa masuk neraka loh, karena mati bunuh diri. Itu termasuk bunuh diri, kan. Karena kakak nyakitin diri sendiri sampai kehilangan nyawa. Dan lagi, apakah kakak yakin, amal kakak lebih banyak ketimbang dosa kaka yang Kak Alfa lakukan selama ini. Neraka itu gak main-main loh, jangan karena perkara kecil, kakak sampai rela masuk neraka dan di panggang bolak-balik, ngeri kak." ucap Naila ngomong panjang lebar, sampai rasanya haus sendiri karena terlalu banyak bicara sedari tadi.


Karena lelah terus berbicara dan jam sudah menunjukkan pukul setengah tiga, Naila pun akhirnya bangkit dari tempt duduknya lalu ia berjalan ke arah pintu dan membukanya. Naila bisa melihat di sana sang Bunda bicara akrab dengan Tante Arini.


"Sudah?" tanya Antoni dan Naila menganggukkan kepalanya.


"Kak Alfa gak ada perubahan sama sekali," ujar Naila menunduk sedih.


"Enggak papa, ini masih awal. Tapi kamu jangan kapok ya ke sini, sampai Alfa sadar," pinta Antoni, ada harapan yang tersirat di setiap kata yang ia keluarkan.


"Aku besok akan ke sini sepulang sekolah, Om."


"Terima kasih, Nai. Kamu emang wanita baik dan juga cantik. Tidak salah Alfa mencintai wanita seperti kamu," puji Antoni dan Naila hanya diam, bingung mau jawab apa.


"Ya sudah, Jeng. Saya masih ada urusan setelah ini, Nai juga. Kalau gitu, kami pamit dulu ya Jeng Arini, Pak Antoni, Mas Adrian sama Dek Alfira," pamit Bunda Ila. Naila pun merasa lega karena sang Bunda seperti mengerti bahwa saat ini, ia tidak ingin lama-lama di sana.


"Terima kasih sudah datang ya, Naila, Jeng Ila. Semoga tidak kapok untuk datang ke sini lagi," ujar Arini, ia merasa senang karena Bunda Ila ternyata asyik orangnya, dia juga memberikan nasihat agar Arini tetap tabah dan banyak berdoa untuk kesembuhan putranya itu.


Setelah pamitan, Naila dan Bunda Ila pun segera pergi dari sana.