Novemberain

Novemberain
Calon Mantu dan Calon Mertua



Naila duduk di ruang keluarga sambil nonton tivi, itupun dengan suara kecil agar tak menganggu Bundannya yang tengah istirahat di kamar. Naila juga sudah menyelesaikan semua pekerjaan rumahnya, jadi ia bisa duduk santai, nonton tivi sambil megang Hp. Sebelum chat Marfel, Naila masih berusaha untuk menghubungi Alfa, namun sayangnya nomernya belum juga aktiv sampai sekarang, dan itu masih menjadi beban tersendiri untuk  Naila. Ia hanya bisa berharap jika Alfa baik-baik aja di luar sana.


Setelah  memastikan nomer Alfa belum bisa di hubungi dan chatnya masih centang satu, Naila pun membuka chat Marfel, karena emang ada lima pesan masuk.


"Assalamualaikum, sayangku, cintaku. Sudah bangun belum?"


"Sayang, lagi apa?'


"Sayang, hari ini aku gak bisa ke rumah kamu ya, soalnya aku gak ngajar hari ini. Aku ada meeting di luar kota dan sekarang aku dalam perjalanan ke sana."


"Kok masih centang satu, sibuk ya?"


"Nanti kalau sudah gak sibuk lagi, bales chat aku ya yank. I love you."


Membaca chat itu, membuat Naila hanya bisa menghela nafas. "Kenapa kamu harus pergi di saat aku ingin mempertemukan kamu sama Bunda, Mas?" tanya Naila kesal.


Naila pun, segera membalas pesan Marfel.


"Waalaikumsalam. Lagi apa, Mas? Kalau gak sibuk, aku mau nelfon." ketik Naila.


Dan benar saja, setelah chat itu terbaca, Marfel langsung vidio call Naila.


"Assalamualaikum, Sayang?" ucap Marfel.


"Waalaikumsalam, Mas."


"Kamu gak sekolah, yank? Kok masih ada di rumah dan pakai baju itu?" tanya Marfel heran.


"Aku ada di rumah, Mas. Mas Marfel kenapa sih harus keluat kota?" tanya Naila cemberut.


"Maaf, Sayang. Soalnya ada meeting dadakan di sana. Sebenarnya meetingnya nnti jam tiga sore, tapi aku berangkat pagi, agar bisa istirahat dan menyiapkan semuanya. Kamu kenapa?"


"Aku sebenarnya pengen nyuruh Mas ke sini."


"Tumben? Kan tadi malam sudah ketemu? Kangen ya?" goda Marfel.


"Bukan."


"Terus?"


"Bunda ada di rumah."


"APA!" Marfel kaget, mendengar sang calon mertua ada di rumah.


"Bukannya tadi malam gak ada ya?"


"Aku juga kaget, Mas. Tadi tiba-tiba Bunda ada di depan rumah. Aku sudah bahas tentang kita, cuma aku gak bilang masalah aku yang menginap di rumah sakit dan di rumah kamu. Aku takut, Mas. Aku cuma bilang masalah kamu, Pak Atmaja yang jadi kepala sekolah aku. Dan masalah tadi malam, kamu dan orang tua kamu ke rumah aku."


"Terus gimana dong? Aku ada meeting penting dan gak bisa di batalkan gitu aja."


"Aku gak tau, Bunda mintanya kamu yang ke sini sekarang. Soalnya sorenya Bunda mau balik lagi ke Bali."


"Ya Tuhan, aku aja bisa pulang nanti malam, Nai. Dan kemungkinan nyampek sana dini hari."


"Terus gimana dong?"


"Aku suruh Mama aku aja ya yang ke sana."


"Enggak enak aku, Mas. Bunda kan pengennya ketemu kamu."


"Huefft ... kenapa Bunda harus pulang di saat aku harus ke luar kota. Ini juga, Pak Hendrawan kenapa mintanya aku yang harus ke sana." Marfel pun merasa bingung.


"Mungkin takdir, Mas. Gak mungkin kan pas kebetulan gini."


"Aku jadi gak enak, sayang. Padahal aku udah lama pengen ketemu Bunda kamu dan ingin lamar kamu. Andai aku tau, Bunda akan datang hari ini. Mungkin aku akan berusaha untuk memundurkan jadwal, tapi masalahnya aku sudah terlanjur janji kalau aku pasti akan tiba hari ini jam tiga sore. Aku gak enak, kalau tiba-tiba batalin gitu aja. Apalagi Pak Hendrawan orang yang sangat penting dan susah untuk bertemu dengannya."


Saat Naila mau jawab, tiba-tiba suara sang Bunda terdengar. "Kamu telfonan sama siapa, Nai?" tanya Bunda Ila sambil menghampiri Naila yang tengah duduk santai sambil menghadap ke arah tivi yang menyala.


"Ini, Bun. Sama Mas Marfel," jawab Naila gugup.


"Oh pacar kamu itu, yang katanya mau melamar?" tanya Bunda terdengar keras hingga Marfel pun ikut dengar suara calon mertuanya.


"Boleh, sini hpnya," ucap Bunda Ila. Naila pun memberikan Hpnya ke Bunda Ila yang sudah duduk di dekat Naila.


"Assalamualaikum, Tante." sapa Marfel ramah, tak lupa senyuman manisnya ia perlihatkan, agar membuat calon mertuanya itu luluh padanya.


"Waalaikumsalam. Lagi ada di mana?"


"Di mobil, Tan. Mau keluar kota. Maaf, Marfel gak bisa ke sana hari ini, soalnya Marfel ada meeting di luar kota dan gak bisa di undur apalagi di batalkan," ucap Marfel dengan memperlihatkan wajah bersalahnya.


"Gak papa, Tante malah seneng karena kamu serius dengan pekerjaan kamu. Dan tidak mengabaikan pekerjaan karena masalah pacar."


"Iya, Tan. Kabar Tante gimana? Marfel sudah dari kemaren-kemarennya pengen ketemu, sayangnya Tante gak ada di rumah. Tapi sekalinya ada di rumah, malah Marfel yang pergi. Maaf ya, Tan."


"Kabar Tante baik. Santai aja. Mungkin memang belum waktunya aja kita bertemu hari ini."


"Iya, Tan. Sejujurnya, kalau bukan karena ini penting sekali. Ingin rasanya Marfel balik aja, biar bisa ketemu dan ngobrol langsung dengan Tante."


"Gak papa, kamu fokus aja sama pekerjaan kamu, bagaimanapun pekerjaan itu harus di perioritaskan."


"Iya, Tan. Oh ya, Tan. Masalah Marfel yang melamar adek. Marfel minta izin untuk mencintai adek, Tan. Dan Marfel ingin melamar Adek agar tidak kedahuluan sama yang lain."


"Kamu serius mau melamar Naila? Umur Naila baru tujuh belas tahun, tahun depan baru delapan belas. Apa gak kecepatan?"


"InsyaAllah enggak, Tan. Marfel ingin jaga Adek, Tan. Marfel ingin selalu menjaga dan melindunginya. Dan masalah Adek yang ingin mengejar cita-cita. Tentu Marfel akan mendukung seratus persen. Malah Marfel juga ingin lihat Adek bisa kuliah dan jadi dokter hebat nantinya. Marfel juga bisa mengajari Adek masalah bisnis jika Adek mau. Marfel benar-benar sudah kepincut cinta Adek, Tan. Semoga Tante merestui hubungan kami," ujar Marfel sengaja dia memanggil Naila dengan sebutan Adek, biar kesannya makin romantis.


"Gini aja, gimana kalau kalian tunangan aja dulu, gak usah nikah. Maksudnya nikahnya setelah Naila tamat SMA. Biarkan Nai, menghabiskan waktunya untuk seneng-seneng dulu," ucap Bunda Naila. Sedangakn Marfel mencibir dalam hati. 'Seneng-seneng apanya, bahkan Naila gak ada waktu buat main atau sekedar liburan. Dia sibuk sekolah sambil kerja dari pagi sampai tengah malam,'


Namun sayangnya, Marfel tak bisa mengungkapkan isi hatinya itu. Dan ia hanya bisa tersenyum.


"Gak papa, tunangan aja, Marfel sudah senang, Tan. Kalau gitu izinkan Marfel dan orang tua Marfel ke sana untuk melamar Adek secara resmi," ucap Marfel sopan.


"Baiklah, kalau gitu, Tante akan membatalkan keberangkatan Tante nanti sore, Tante akan di sini selama seminggu ke depan."


"Terima kasih, Tante. Nanti setelah dari luar kota, Marfel akan langsugn bawa Mama dan Papa ke sana."


"Enggak usah buru-buru, santai aja," ucap Bunda Ila tersenyum.


"Iya, Tan."


"Iya sudah kamu ngomong lagi sama Naila. Tante masih ingin istirahat."


"Iya, Tan. Sekali lagi terima kasih," ucap Marfel senang. Setelah itu Hpnya pun di berikan ke Naila. Sedangkan Bunda Naila kembali ke kamar, karena masih ingin istirahat. Tadi dia bangun karena mendengar suara orang ngomong, makanya Bunda Naila menghampiri Naila dan mengobrol dengan calon mantunya itu. Setelah melihat penampilan Marfel yang gagah, Bunda Naila cukup puas. Apalagi Marfel menggunakan baju jasnya, sudah terllihat seperti seorang berwibawa.


Dan bagi Bunda Ila, Naila cocok menikah dengan orang yang seperti itu. Yang tampan, mapan, baik dan terlihat sangat mencintai putrinya itu.


"Sayang, aku dan orang tua aku akan datang besok malam ya, habis maghrib."


"Iya, Mas."


"Kamu mau cincin yang seperti apa? Nanti biar aku carikan."


"Terserah Mas aja enaknya gimana. AKu nurut. Aku percaya Mas Marfel pasti akan memberikan yang terbaik buat aku."


"Tentu, karena kamu orang yang aku cinta, jelas aku akan memberikan yang terbaik buat orang yang aku sayangi."


"Terima kasih, Mas. Kita udahin dulu ya, oh ya Mas Marfel sama siapa ke sana?"


"Sama sopir aku. Soalnya aku pasti akan capek banget kalau nyetir sendirian, jadi aku bawa sopir biar bisa gantian."


"Asisten  Mas?"


"Dia sudah berangkat dulu tadi malam, untuk reservasi tempatnya juga."


"Oh. Iya sudah Mas hati-hati ya."


"Iya, Sayang."


Dan setelah itu, mereka pun memutuskan hubungan telfonnnya. Naila menaruh HPnya di meja dan nonton upin ipin. Walaupun kata orang itu film khusus anak kecil, tapi entah kenapa Naila menyukainya.