Novemberain

Novemberain
Kegundahan Naila Menghadapi Marfel



Setelah perjalanan hampir setengah jam, Naila langsung turun dari sepeda motor. Namun tukang ojek itu langsung memanggil Naila, "Mbak, Mbak Tunggu dulu," ucapnya sambil ikutan turun dari sepeda motor dan mengejar Naila yang setengah berlari.


"Ada apa, Pak? Saya kan sudah bayar," ujar Naila yang kesal, pasalnya ia tengah buru-buru.


"Itu Mbak, helmnya masih di kepala," sahut sang ojek online sambil nunjuk kepala Naila.


"Astagfirullah, maaf ya Pak." Naila langsung melepaskan helmnya dan memberiklan helm itu kepada pak ojek online.


"Sama-sama, Mbak. Kalau gitu saya permisi dulu," ujarnya dan pergi dari sana. Sedangkan Naila, ia pergi ke kosan Alfa yang dulu juga di tempati oleh Fahmi. Namun kosan itu tampak kosong. Bahkan ketika Naila mengetuk pintu dan mengucap salam, tak ada yang menyahut.


"Cari siapa Mbak?" tanya seorang laki-laki yang keluar dari kos sebelah, mungkin dia mendengar Naila yang mengetuk pintu.


"Cari Kak Alfa, Mas," sahut Naila malu, karena merasa dirinya gak sopan sudah datang dan membuat kerusuhan.


"Oh Alfa, dia kan sudah pindah Mbak. Sejak temannya  meninggal, dua minggu setelah itu, dia pindah."


"Pindah kemana ya, Mas?" tanya Naila.


"Kurang tau, Mbak. Soalnya dia gak bilang apa-apa, cuma pamit aja sama anak-anak kos yang lain. Terus sampai sekarang, gak pernah nongol lagi."


"Oh gitu, makasih ya, Mas."


"Sama-sama, Mbak."


Dan setelah itu, Naila pun pulang dari sana. Dia merasa bingung, pasalnya ia gak tau apa-apa tentang Alfa. Yang dia tau, hanya Alfa kos di sini dan merupakan sahabat Fahmi, selebihnya ia benar-benar tidak tau.


"Aku harus mencarimu kemana, Kak? Aku harap Kak Alfa baik-baik aja," ucap Naila dalam hati. Setelah itu, ia pun memesan ojek online untuk kembali ke resto, karena tas dan yang lainnya masih ada di sana. Dan ketika ia membuka Hpnya, ada banyak panggilan tak terjawab dari Marfel dan ada puluhan chat dari Marfel.


"Gawat, kalau dia tau, bisa kumat nih," ucap Naila panik. Ia tak mengangkat telfon dari Marfel ataupun membalas chatnya. Naila segera memesan ojek online, dan tak lama kemudian ojek itu pun datang. Di tengah jalan, Naila meminta ojek itu berhenti di toko bunga dan di toko kue. Naila membeli itu untuk kejutan buat Marfel agar Marfel gak marah. Untuk pertama kalinya, Naila harus berbohong. Karena ini demi kebaikannya dan demi kebaikan Marfel juga.


Entah kenapa, Naila merasa kesal jika Marfel terlalu protektif gini. Tadinya Naila merasa senang, tapi semakin ke sini, kadang Naila merasa takut, takut dengan sikap Marfel yang semakin semena-mena. Ia selalu saja merasa takut, takut jika Marfel akan marah dan takut jika akhirnya saling diam ataupun bertengkar.


Dia ingin hubungan yang biasa-biasa aja. Bukan terkekang seperti ini, Naila merasa tidak bebas dan merasa bosan dengan semua ini. Bahkan Naila sudah melanggar janjinya untuk tidak pacaran, ia bahkan melanggar komitmennya untuk tak menyentuh laki-laki yang belum halal. Namun ia rela semuanya ia langgar demi Marfel, tapi apa yang ia dapat. Marfel makin ke sini, makin posesif.


Dan itu membuat Naila kesal.


Setelah setengah jam lebih berada di atas sepeda motor, akhirnya sampai juga di depan resto. Kali ini, Naila gak lupa untuk mengembalikan helmnya terlebih dahulu sebelum ia pergi dan masuk ke dalam resto.


Untuk ojek itu baik banget, karena dia bisa pinjem uang buat beli kue dan bunga, dan setelahnya Naila mentransfer uangnya dua kali lipat. Dan ojek itu pun merasa senang bahkan ia tak sungkan, jika di lain hari, harus memberikan uang cashnya lagi. Mendengar itu, Naila hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Mas Marfel," ucap Naila yang masuk ke dalam ruangannya dan melihat Marfel yang hanya diam menatap ke arah luar jendela.


Naila tau, Marfel tengah marah padanya.


"Maaf, aku keluar sebentar, untuk beli kue dan bunga ini buat kamu, karena kamu sudah mengantarkan aku ke sana kemari," ujar Naila, yang mulai mengarang cerita.


"Aku gak tau kalau kamu akan datang lebih cepat, aku fikir kamu akan datang jam delapan, mengingat restonya juga nutupnya agak malam. Aku gak tau kalau kamu datangnya jam tujuh, aku tadi berangkat cepat-cepat mau buat kejutan, namun siapa sangka, aku malah di teror oleh kamu. Maafin aku ya, Sayang," ujar Naila sambil menggenggam tangan Marfel. Sedangkan bunga dan kuenya ia taruh di  meja.


"Tapi seharusnya kamu ngangkat telfon aku, Nai. Biar aku gak khawatir sama kamu, kamu tau sih, aku di sini kebingungan takut jika kamu kenapa-napa, karna karyawan kamu bilang, kamu pergi buru-buru," ujar Marfel yang masih terlihat kesal.


"Maafin aku, aku janji gak akan mengulangi lagi. Maaf ya, Mas." Naila memperlihatkan wajah memelasnya agar Marfel kasihan.


"Baiklah, tapi aku gak ini hal seperti ini terulang lagi."


"Iya, Mas."


"Pekerjaan kamu sudah selesai apa belum, kalau sudah ayo kita pulang, aku capek banget hari ini," ujar Marfel dan Naila pun menganggukkan kepala.


"Oh ya ini bunga dan kue buat Mas Marfel," Naila memberikan bunga dan kue itu buat Marfel.


"Makasih ya."


Dan setelah itu, Naila dan Marfel pun pulang. Untungnya, Marfel tidak berlarut-larut marahnya. Ia tak ingin jika Marfel mendiamkannya seperti tadi pagi.


Sepanjang jalan, Marfel menceritakan pekerjaannya dan Naila pun hanya menjadi pendengar setia, dan sesekali menjawab saat Marfel bertanya. Namun walaupun Naila tampak biasa aja, tapi saat ini hati danfikirannya tengah memikirkan Alfa.


"Kamu kenapa si Yank, kok hari ini beda banget?" tanya Marfel.


"Beda kenapa, Mas?" tanya Naila.


"Kek banyak beban gitu. Kalau kamu ada masalah cerita sama Mas. Mas akan bantu kamu."


"Enggak ada kok. Aku cuma capek aja, nanti sampai rumah, aku langsung tidur ya, Mas."


"Iya. Gak ngerjakan pr dulu?" tanya Marfel.


"Besok pagi aja, sekarang saya males ngapa-ngapain."


"Tumben?"


"Entahlah."


Setelah itu, Marfel pun diam. Sesekali ia melirik ke arah Naila yang tengah menoleh ke arah luar jendela. "Kamu kenapa sih, Nai? Kenapa gak mau cerita sama aku? Apa kamu belum mempercayai aku, sampai kamu menyembunyikan masalah kamu?" tanya Marfel dalam hati.


Tak lama kemudian, mereka pun sampai di depan rumah Marfel. Marfel dan Naila turun dari mobil, saat mereka membuka pintu, mereka melihat Pak Atmaja dan Ibu Maria tengah duduk santai di ruang tamu.


"Sudah pulang, Nai?" tanya Ibu Maria yang lebih memilih menyapa Naila ketimbang putranya sendiri.


"Sudah, Tan," jawab Naila sambil mencium tangan Ibu Maria dan Pak Atmaja secara bergantian.


"Kamu dapat dari mana bunga dan kue itu, Fel?" tanya Pak Atmaja melihat putranya tengah memegang bunga dan kue.


"Dari Naila, Pa," jawab Marfel membuat Pak Atmaja dan Ibu Maria terkekeh.


"Seharusnya kamu yang ngasih hadiah buat Naila, bukan malah sebalinya," cibir Ibu Maria dan Marfel pun hanya mengerucutkan bibirnya.


"Om, Tante. Nai masuk kamar dulu ya, mau bersih-bersih, soalnya lengket banget kulit Naila."


"Iya, Nai. Langsung istirahat aja kalau capek, udah makan kan?" tanya Ibu Maria.


"Sudah, Tante."


"Iya sudah, sana mandi terus istirahat, kamu itu baru sembuh sudah kerja keras kayak gini," ujar Ibu Maria yang merasa kasihan melihat wajah Naila yang layu, seperti tak semangat.


"Iya, Tan."


Setelah itu, Naila pun segera pergi dari sana, tanpa memperdulikan Marfel yang sedari tadi menatap Naila.


"Kamu ada masalah dengan Naila, Fel?" tanya Pak Atmaja.


Marfel menggelengkan kepalanya.


"Enggak, Pa. Cuma tadi kerjaan dia banyak banget kayaknya, makanya dia terlihat lelah gitu."


"Kasihan dia, Fel. Harus kerja keras di umurnya yang bahkan masih tujuh belas tahun," ujar Pak Atmaja, ya dia sudah tau tentang Naila. Karna dia sedikit  mencari tau tentang calon menantunya itu.


"Aku ke kamar dulu ya, Ma, Pa," ucap Marfel tanpa mau membalas ucapan Papanya tadi.


"Iya, kamu juga pasti capek banget. Jangan main hp, langsung mandi dan istirahat," ujar Ibu Maria mengingatkan. Dan Marfel pun hanya menganggukkan kepala, lalu ia berjalan ke arah kamarnya yang berada di samping kamar yang di tempati oleh Naila.