
Setelah pulang sekolah Rani, Rahma, Firoh, Ayu, Puput dan Rifa pergi ke Mall untuk jalan jalan. Mereka naik mobil Rahma dan juga Mobil Puput karena hanya dua anak itu yang bawa mobil. Rahma bersama Rani dan Firoh sedangkan Puput bersama dengan Ayu dan Rifa.
Setelah kepergian mereka aku hanya bisa duduk diam di halte sambil nunggu bis lewat. Sekolah juga mulai sepi karena murid murid sudah pada pulang. Aku nunggu di halte lebih setengah jam tapi bis pun tak kunjung datang. Jangankan bis, angkot pun juga tak ada yang lewat padahall biasanya kalau pulang skeolah gini banyak angkot dan bis yang lewat tapi sekarang begitu sepi dan cuma mobil serta sepeda motor aja yang lewat.
Tak lama kemudian, mobil Pak Marfel lagi lagi berhenti di depanku.
"Masuk." Ujar Pak Marfel
"Tapi pak, nanti ada yang liat. Mending bapak pergi aja biar saya nunggu bis sendirian. Saya yakin kog bentar lagi pasti lewat." Naila mencoba meyakinkan Pak Marfel tapi sayang, Pak Marfel sedikit memaksa dan meminta Naila untuk segera masuk ke dalam mobilnya.
"Kalau gak mau ada yang liat, cepetan masuk. Jangan cuma ngomong melulu. Cepet!." Pinta Pak Marfel dengan tegas.
Naila yang merasa ketakutanpun akhirnya segera naik ke dalam mobil dan tanpa mereka ketahui, ada seseorang yang melihat mereka dari jarak jauh dan itu adalah Stefan. Ada rasa iri dan cemburu ketika Pak Marfel berani membawa orang yang ia cintai untuk satu mobil dengannya tapi ia sadar ia ga bisa berbuat apa apa. Dengan hati yang terasa perih, Stefan pun langsung pulang ke rumahnya karena jika mengikutinya ia takut rasa sakit yang ia rasakan akan semakin bertambah.
Di dalam mobil Marfel dan Naila hanya saling diam. Untuk mencairkan suasana, Pak Marfel pun menghidupkan radio dan Naila pun tetep diam seakan akan ia tak menikmati lagu yang ia dengar. Karena tak ada reaksi, pak Marfel pun memutuskan untuk mematikan radionya.
"Kamu kenapa dari tadi diam?" tanya Pak Marfel.
"Kamu gak suka satu mobil dengan saya?" Lanjut Pak Marfel.
"Bukan begitu cuma saya risih aja satu mobil dengan guru sendiri." Jawab Naila.
"Saya gurumu jika di sekolah tapi di luar sekolah, saya bukan gurumu lagi. Jadi bersikaplan seperti kamu beriteraksi dengan orang lain bukan seperti murid kepada gurunya." Ujar Pak Marfel.
"Iya pak.."
"Bukan pak, aku bukan ayahmu."
"Eh maksud saya mas." Ralat Naila yang merasa takut melihat wjah Pak Marfel yang begitu horor.
"Kamu mau di antar ke mana?" tanya Marfel.
"Ke resto Lala's Restaurant 2. Tau kan?"
"Iya saya tau. Tumben ke sana?" tanya Pak Marfel.
"Iya soalnya bunda ke luar kota mau buka cabang lagi. Jadi selama bunda keluar kota, aku yang menjaga 2 resto sekaligus yang ada di sini."
"Oh...hebat juga ya."
"Gak juga kog, Gak ada yang hebat, saya bisa seperti ini mungkin karena terbiasa di didik keras jadi pas di kasih tugas, saya bisa kerjakan semuanya dengan baik tanpa adanya keluhan."
"Hemmm, oh ya gimana tadi seneng gak?"
"Maksud bapak?"
"Bapak lagi.."
"Kamu pasti ngerti maksud saya."
"Gimana mau ngerti mas, aku aja gak bisa baca apa yang ada di hati dan fikirannya mas."
"Yang di kantin itu." Ujar Marfel.
"Emang kenapa dengan kantin?" tanya Naila tak mengerti.
"Kamu pasti tau bahwa wanita yang di maksud laki lakit tadi pagi itu adalah kamu." Jawab Marfel.
"Iya saya tau terus kenapa?"
"Banyak juga ternyata yang suka sama kamu." Ujar Marfel.
"Alhamdulillah dong kalau mereka suka aku, berarti aku baik."
"Iya kamu sangat baik hingga kamu pun di buat rebutan sana sini."
"Saya bukan barang dan tak pantas rasanya jika mas menyebutnya seperti itu."
"Maaf jika omonganku membuatmu tersinggung. Tapi kenapa kamu gak coba menerima salah satu di antara mereka?"
"Aku tak tertarik untuk pacaran." Jawab Naila cuek.
"Oh termasuk sama aku?"
"Maksud mas?" tanya Naila tak mengerti.
"Gak, aku cuma bercanda. Sudahlah gak perlu di bahas. Oh ya ini belok kanankan?" Marfel mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Iya." Jawab Naila.
Setelah itu mereka pun saling diam lagi sampai akhirnya mereka sampai di depan restoran. Naila segera turun dari mobil setelah sebelumnya mengucapkan terima kasih.
Setelah Naila masuk ke dalam resto, Marfel pun melanjutkan perjalanannya menuju kantor.