Novemberain

Novemberain
Meminta Tanpa Izin



Naila bangun saat jam sudah menunjukkan pukul dua siang, ia melihat sekelilingnya yang terasa gak familiar. Namun ketika ia ingat dirinya ada di rumah Marfel, Naila pun hanya tersenyum. "Astaga, kenapa aku bisa lupa kalau aku ada di rumah Mas Marfel," gumanya pada dirinya sendiri.


Naila bangkit dari tempat tidur, dan segera pergi ke kamar mandi yang ada di sana. Tak susah, karena di kamar itu ada dua pintu. Pintu pertama adalah pintu keluar, dan pintu satunya, pasti pintu kamar mandi karena gak mungkin jika di kamar ini gak ada kamar mandi dalamnya. Apalagi terlihat luas dan mewah seperti ini.


Dan ketika Naila buka pintunya, benar saja itu pintu kamar mandi, tapi masih harusĀ  masuk ke dalam melewati lorong kecil karena di setiap lorong itu ada wastafel yang cukup panjang dan kaca besar sekaligus ada tempat handuk juga di sana sama sandal khusus kamar mandi.


Ada beberapa tumbuhan juga di setiap pojok, tumbuhan yang terlihat segar dan mampu memanjakan mata. Tak mau buang-buang waktu, Naila langsung memasuki pintu kecil lagi yang ada di sana. Naila menemukan WC duduk. Naila segera membuang hajatnya, setelah selesai, ia segera mencuci tangannya hiingga bersih. Lalu ia mengambil sikat dan pasta gigi yang ada di sana. "Mas Marfel, gak akan marah kan kalau aku pakai punya dia?" tanyanya, sayangnya tak ada yang bisa menjawabnya karena hanya ada dia sendiri di sana.


Naila tetap memakainya, dia akan minta izin nanti kalau ketemu orangnya. Setelah selesai sikat gigi, Naila juga meminta sabun wajah milik Marfel dan memakainya.


"Ish ... seger banget rasanya, sabunnya juga harum, gak kayak punyaku," ujar Naila setelah membilas wajahnya dengan bersih.


"Aku harus gimana ya setelah ini, uh numpang di rumah orang bikin aku bingung," ucap Naila sambil keluar dari kamar mandi. Dan saat ia melihat kamarnya dengan lebih jelas, ia melihat koper miliknya. "Lah ini koper millikku. Tau gitu, aku tadi pakai sabun dan sikat gigi punyaku. Kenapa tadi gak kelihatan," tutur Naila merasa kesal dengan dirinya sendiri. Ia membengkor koper itu untuk ganti baju, rok dan hijabnya. Karena merasa gak nyaman dengan yang ia pakai saat ini, sekalian ia juga mau ganti ****** ********. Untungnya dia gak terlalu deras, sehingga tak perlu pakai pembalut lagi.


Naila kembali ke kamar mandi untuk ganti baju, sebenarnya bisa aja dia ganti di kamar ini, tapi ia takut, jika kamarnya tiba-tiba terbuka. Jadi lebih aman, Naila ganti baju di kamar mandi aja. Ia langsung mencuci bajunya di kamar mandi itu dan menjemurnya di samping kamar mandi. Yah, ia membuka jendela itiu dan melihat ada balkon dan jemuran baju. Tanpa mencari tahu, Naila sudah mengerti itu, pasti buat jemuran baju.


Setelah selesai, ia menutup kembali jendelanya, dan setelah itu, ia kembali ke kamar dan menata bajunya itu.


Saat Nai asyik menata baju, tiba-tiba pintu kamar terbuka. "Loh, Nai. Sudah bangun?" tanya Marfel.


"Iya, Mas. Sudah dari tadi," jawab Naila sambil menoleh ke arah Marfel yang bawa nampan berisi bubur dan air putih, serta ada obat juga di sana.


"Oh, aku fikir kamu belum bangun. Ini aku bawain kamu makan siang, kamu harus makan dan minum obat, kan," ujar Marfel sambil menaruh di meja.


"Makasih ya, Mas."


"Sama-sama."


"Oh ya, Mas. Tadi aku .... " Naila bingung gimana caranya mau berterus terang.


"Iya, kenapa?" tanya Marfel penasaran.


"Emmm aku takut Mas Marfel marah."


"Aku gak akan marah, emang kenapa tadi?" tanya Marfel yang makin di buat penasaran.


"Anu tadi aku pakai .... " Aku tak berani untuk melanjutkan kata-kataku. Bagaimanapun tadi aku meminta barang dia tanpa izin.


"Iya, pakai apa?" tanya Marfel lagi sambil menatap wajah Naila yang penuh keragu-raguan.


"Aku tadi pakai sikat gigi dan pasta gigi milik kamu dan juga sabun cuci mukanya, dan juga sabun cuci baju. Aku gak tau tadi kalau kpernya ada di sini, jadi karena sudah terlanjur di kamar mandi, jadi aku pakai punyamu aja. Dan setelah aku, selesai cuci muka, aku baru tau ternyata koperku di sini, terus aku ganti baju dan numpang nyuci baju di kamar mandi. Lagi-lagi aku pakai sabun cuci milik kamu dan sekarang baju aku, aku jemur di balkon samping kamar mandi. Apa gak papa?" tanya Naila hati-hati. Ia menatap wajah Marfel yang tersenyum ke arahnya.


"Jadi itu?"


"Iya."


"Ya ampun, aku fikir apa. Its okay, gak papa. Kamu pakai aja, selama kamu di sini. Apapun yang ada di kamar ini, milik kamu. Gak usah takut, aku gak akan marah hanya karena hal sepele."


"Makasih ya dan maaf aku gak izin dulu tadi."


"Gak papa kok, santai aja. Iya sudah, ayo makan dulu, kamu sudah melewati makan siang loh. Tadi aku ke sini, karena lihat kamu tidur nyenyak, aku gak berani bangunin, kasihan. Jadi, aku dan Mama makan duluan."


"Gak papa, aku malah seneng karena kamu gak nunggu aku. Karena kalau kamu nunggu aku bangun, pasti aku akan merasa bersalah," sahut Naila.


"Keadaan kamu gimana sekarang?" tanya Marfel sambil menaruh telapak tangannya di kening Naila, tapi hanya sebentar saja, karena emang cuma ngecek suhu panasnya, sudah normal atau masih tetap panas.


"Aku sudah sembuh, aku juga sudah merasa energiku kembali lagi. Mungkin habis ini aku mau ke resto."


"Gak boleh! Jikapun kamu bilang, kamu sudah enakan. Tapi kamu belum sembuh seratus persen. Lagian kamu gak kerja sehari, gak akan bikin kamu bangkrut," larang Marfel.


"Iya sudah misal kerja di sini gk papa kan?" tanyanya.


"Gak papa, biar nanti aku bantu juga."


"Iya."


"Enggak usah, aku bisa makan sendiri."


"Ya sudah aku temenin kamu makan aja," ujar Marfel dan Naila pun menganggukkan kepala.


"Mas kapan mau ngajar lagi?" tanya Marfel.


"Mungkin mulai besok, sekalian jaga kamu di sana."


"Jaga kenapa? aku kan gak papa," ujar Naila sambil memakan bubur ayamnya.


"Ya takut, ada cowok yang deketin kamu. Nanti kamu diambil orang gimana?" tanya Marfel membuat Naila terkekeh.


"Emang aku barang," tanya Naila terkekeh.


"Ya bukan sih, takut aja nanti kamu berpaling jika ada yang deketin kamu."


"Aku bukan cewek yang mudah berpaling, Mas. Aku mah type setia," ujar Naila membuat Marfel merengut.


"Aku sih percaya kamu setia, tapi aku gak percaya sama mereka yang terus berusaha dapaetin kamu," balas Marfel.


"Resiko jadi cewek cantik ya gini, jadi rebutan," goda Naila membuat Marfel makin cemberut.


"Iya, yang paling cantik. Aku mah apa, cuma remahan rengginang," ujar Marfel dengan bibir mencibir.


"Jangan gitulah, Mas. Aku cuma bercanda tadi. Kalau Mas aja takut kehilangan, apalagi aku. Fans Mas aja banyak banget di sekolah, hampir sekolahan tuh ngefans semua. Belum yang di luaran. Jika pun ada yang takut, itu seharusnya aku, bukan malah sebaliknya," tutur Naila sambil menaruh mangkok yang sudah tak ada isinya di atas nampan, lalu ia mengambil obat dan meminumnya bersamaan dengan air putih.


"Kamu cemburu kalau aku deket dengan cewek lain?" tanya Marfel.


"Ya lah sakit."


"Beneran?"


"Yalah."


"Syukurlah, itu artinya kita sama-sama cinta dan takut kehilangan kan?" tanya Marfel dan Naila pun menganggukkan kepala.


"Aku seneng, karena akhirnya cintaku tidak bertepuk sebelah tangan. Aku jadi makin gak sabar untuk nunggu Bundamu pulang dan menghalalkanmu."


"Ingat, Mas. cuma tunangan ya, bukan menghalalkan, karena jika menghalalkan itu artinya terikat pernikahan, bukan lagi terikat pertunangan, jadi beda," ujar Naila mengoreksi kata-kata Marfel.


"Iya ya, aku faham. Kamu sudah selesai, biar aku bawaian ke belakang."


"Enggak usah, Mas. Biar aku aja nanti, sekalian mau lihat rumah kamu, boleh kan?" tanya Naila.


"Bolehlah, malah aku seneng, biar nanti aku temani kamu untuk lihat seluk beluk rumah ini. Walaupun ini rumah orang tua sih, karena kalaul kita dah nikah, aku ingin kita tinggal di rumah sendiri."


"Emang Mas punya rumah pribadi?" tanya Naila.


"Ada, tapi jarang aku pakai. Kalau kamu gak cocok, nanti kita bisa beli yang baru, yang sesuai kemauan kamu," sahut Marfel dan Naila pun hanya mengangguk-anggukkan kepala.


"Tante dimana?" tanya Naila.


"Mama jam segini tidur, biasanya habis makan, Mama akan istirahat bentar, terus mandi, sholat, lalu tidur siang. Nanti bangunnya jam tiga, kadang jam setengah tiga, gak nentu. Kenapa?"


"Enggak papa, cuma tanya aja."


"Oh."


Mereka pun terus mengobrol santai, menikmati kebersamaan kita berdua. Setelah itu, Naila pun pergi ke dapur membawa nampan yang sudah kosong itu dengan diantar oleh Marfel.