
Setelah mendapatkan makanan dari kantin, Naila dan Marfel makan bersama. Tak ada adegan suap-suapan karena Naila masih marah pada Marfel. Marfel pun hanya diam, tak berani buka suara. Sampai mereka selesai makan dan cuci tangan. Barulah Naila mengajak Marfel bicara.
"Aku mau berangkat sekolah dulu, seperti biasa. Sepulang sekolah aku akan pergi ke resto mungkin sampai malam, gak papakan? Tapi aku usahakan cepat," ujar Naila sambil menatap ke arah Marfel yang terlihat takut padanya.
"Enggak papa, kok. Tapi kalau bisa jangan terlalu malam ya," pinta Marfel.
"Iya, nanti kalau Mas Marfel kesepian, chat aku aja. Nanti aku balas."
"Iya."
"Aku berangkat dulu." Naila mencium tangan Marfel dan mengambil tas yang ada di sova.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Dan setelah itu, Naila pun pergi dari sana. Di depan rumah sakit, Naila tadinya mau mesen taxi online, namun tiba-tiba ia mendengar seseorang memanggil namanya.
"Nai, tunggu." teriaknya. Naila pun menoleh ke arah suara itu.
"Kak Stefan," gumamnya sambil melihat Stefan yang berjalan ke arahnya.
"Hey, Ra. Kamu di sini juga?" tanyanya dengan wajah berbinar.
"Iya, Kak. Kak Stefan ngapain?" tanya balik Naila.
"Itu sepupu aku sakit. Tadi Mama menitipkan baju dan makanan buat Tante yang lagi jaga sepupuku. Kamu sendiri?"
"Aku juga lagi jenguk saudara aku."
"Oh, kamu bawa sepeda motor?" tanya Stefan melihat Naila yang tengah sibuk mengotak-atik HPnya.
"Enggak, ini aku lagi pesen taxi online. Kenapa?"
"Kalau kamu mau, kita barengan aja. Aku bawa sepeda motor, lagian kan tujuan kita sama, ke sekolah," jawab Stefan yang berharap Naila mau dengan ajakannya.
"Enggak usah, Kak. Aku naik taxi aja."
"Ini sudah jam berapa, kamu bisa telat kalau masih nunggu taxi," ujar Stefan.
Naila melihat jam tangan yang melingkar di tangan kirinya, dan memang sudah menunjukkan pukul enam lewat tiga puluh delapan menit. Kalau naik taxi pun, pasti akan kena macet, berbeda kalau naik sepeda motor. Naila menatap ke arah Stefan, sedangkan yang ditatap, pura-pura berwajah biasa aja. Ia tak memperlihatkan keinginannya yang sangat kuat, untuk bisa goncengan dengan Naila.
Naila menghela nafas, lalu menyetujui ajakan Stefan.
"Baiklah."
"Iya sudah, Ayo. Biar gak buang-buang waktu." Stefan mau menggenggam tangan Naila, namun Naila yang sedikit peka, langsung menjauhkan tangannya. Melihat hal itu, Stefan hanya bisa menghela nafas. Akhirnya ia jalan lebih dulu, Naila pun berjalan di belakangnya. Andai karena waktunya yang tidak mepet, mending ia memilih untuk naik taxi aja.
"Kayaknya nanti aku pulang ke rumah dulu, untuk ambil sepeda motor. Biar gak kek gini," gumam Naila dalam hati.
Sesampai di parkiran, Stefan memberikan helmnya ke Naila.
"Loh kok di kasih ke aku, Kak stefan pakai apa?" tanya Naila.
"Aku gak usah pakek,"
"Terus kalau ketahuan polisi gimana?"
"Kita lewat dalam, biar cepet dan gak kena macet. Ini pakek aja, nanti aku ngebut soalnya, biar gak telat," Stefan menyodorkan helmnya. Dan mau gak mau, Naila pun mengambilnya lalu memakainya.
Stefan mengeluarkan sepedanya, lalu menaikinya.
"Ayo, naik."
Tanpa di perintah dua kali, Naila langsung naik. Untungya, rok yang ia pakai, bukan rok sempit seperti yang lain. Naila memakai rok lipit penuh yang cukup lebar, dan lagi ia juga memakai legging, sehingga ia tak perlu khawatir. Setelah naik, Naila membuka tasnya dan menaruhnya di tengah, agar ia dan stefan tak bersentuhan.
Stefan pun tak mempermasalahkannya, bisa berboncengan gini aja sudah buat Stefan senang.
"Nanti turunin aku agak jauh dari sekolah ya, aku gak mau ketahuan temen-temenn," pinta Naila.
"Baiklah." Stefan tak menolak, dia mengemudikan sepeda motornya dengan pelan. Setelah keluar dari gerbang rumah sakit, barulah Stefan mulai mulai mempercepat laju motornya. Naila hanya memegang tas yang ada di depannya, tak mungkin ia memegang Stefan layaknya sepasang kekasih.
Stefan emang tak berharap terlalu tinggi, karena Naila berbeda dengan wanita lainnya. Jika wanita lain, mungkin tak akan segan-segan memeluk Stefan dari belakang, tapi Naila, dia tak akan menyentuh laki-laki sembarangan, seperti itulah yang stefan ketahui.
Mungkin karena sikap Naila yang seperti itulah yang membuat Stefan tertarik dan menyukai Naila, hingga berakhir mencintainya. Karena memang Naila itu baik, cantik, pintar, mandiri, tidak neka-neko, tidak memakai make up yang terlalu menor, dan hanya berpenampilan biasa. Naila juga tidak ganjen, tidak caper seperti wanita pada umumnya dan tidak memanfaatkan keadaan.
Naila memang berbeda, tak heran jika banyak yang menyukainya, walaupun mereka berakhir ditolak.
Tak terasa sudah hampir sampai di sekolah. Naila meminta Stefan menghentikan sepeda motornya, Stefan yang tak ingin Naila marah padanya, pun menuruti keinginannya.
Dia akan mendekati Naila dengan cara yang lain, tidak seperti kemaren. Ia sadar, dirinya sudah melakukan kesalahan. Jadi, ia ingin memperbaikinya dengan berteman dulu dengan Naila. Karena dengan menjadi teman, itu akan membuat dirinya dan Naila akan lebih akrab. Dengan begitu, lambat laun, ia akan membuat Naila jatuh cinta padanya.
Setelah Naila turun dari sepeda motornya, Naila membuka helmnya dan memberikannya ke Stefan. "Terima kasih," ucapnya sambil memakai tasnya.
"Sama-sama." Dan setelah itu, Stefan pun pergi lebih dulu agar tak ada yang curiga, sedangkan Naila, ia berjalan kaki menuju sekolahnya.