
Malam harinya saat, Naila ingin tidur. Tiba-tiba Hp Naila berbunyi, ada panggilan dari Ibu Maria. Awalnya Naila tak ingin mengangkatnya dan membiarkan Hp itu mati dengan sendirinya.
Namun tak lama kemudian, pesan masuk dari Ibu Maria.
"Marfel kecelakaan dan sekarang keadaanya kritis. Tante mohon, datanglah ke Rumah Sakit Berlian. Marfel di rawat di sana."
Membaca pesan itu, membuat Naila cemas. Hatinya sangat sakit sekali, ia jadi ingat sikap dirinya ke Marfel tadi yang sudah sangat keterlaluan sekali.
"Tuhan ... Jaga Mas Marfel untukku. Jangan Engkau ambil dia, Tuhan. Karena aku masih mencintainya," gumam Naila dalam hati.
Naila gak ganti baju, ia hanya memakai hijab yang tadi sempat di buka. Lalu ia langsung ke kamar sang Bunda, namun entah karena kecapean atau gimana. Bunda Ila sangat terlelap tidurnya, karena gak mau ganggu. Naila pun akhirnya pergi tanpa pamit.
Ia segera mengemudikan mobilnya dan pergi dari sana, namun sebelum pergi, ia sudah mengunci pintu dari luar dan kuncinya ia bawa. Toh Bunda Ila juga punya kunci cadangan dan ia bisa buka pintu dari dalam, jadi Naila gak akan khawatir.
Sepanjang jalan, Naila terus menangis. Ia menyesali apa yang terjadi, ia berharap, pertemuan tadi, bukanlah pertemuan terakhirnya.
Sesampai di rumah sakit, Naila langsung mencari tau kamar Marfel. Dan setelah tau, ia langsung lari ke sana. Dan benar saja, ia melihat Ibu Maria dan Pak Atmaja yang tengah menangis.
Naila langsung menghampiri mereka. Melihat Naila, Ibu Maria langsung memeluknya.
"Naila, huuuu Marfel Naik. Hiks dia kritis," ucapnya di sela-sela tangisnya.
"Kenapa Mas Marfel bisa kecelakaan, Tan?" tanya Naila ikutan menangis.
"Ya Allah, itu pasti karena aku. Karena aku sudah menolak Mas Marfel. Maafin aku, Tan. Maafin aku. Aku gak tau kalau kejadiannya akan seperti ini huuu. Nai sudah jahat, Tan. Pasti Mas Marfel sakit hati sama ucapan aku, makanya dia nekat menabrakkan diri kayak gitu." Naila menangis meraung-raung. Membuat Pak Atmaja dan Ibu Maria kaget dengan sikap Naila yang seperti itu.
Inilah sosok Naila yang belum mereka ketahui. Pada dasarnya Naila juga manusia, ia bisa menangis layaknya anak kecil.
"Huuu aku padahal masih mencintai Mas Marfel. Aku cuma benci sikap dia yang suka ngebentak aku. Aku gak suka di bentak, aku takut. Aku juga benci karena dia mutusin aku gitu aja, lalu menghilang. Dan setelah itu, nuduh aku selingkuh. Aku gak suka sikapnya yang suka berfikir negatif tentang aku. Aku benci karena dia gak percaya sama aku. Gimana hubungan bjsa lancar, jika dia gak bisa percaya sama aku. Aku gak mau ke depannya, dia mutusin aku karena hal sepele. Apalagi kalau udah nikah, aku takut dia mudah bilang talak hanya karena masalah kecil. Aku harus mikir ke depan. Dengan sikap Mas Marfel yang kayak gitu, aku gak bisa mengorbankan perasaan aku walaupun aku sangat mencintainya. Apa aku salah hiks hiks." Naila terus menangis sambil mengungkapkan isi hatinya.
Pak Atmaja dan Ibu Maria yang tadinya sedih karena kondisi Marfel, sekarang malah harus menghibur Naila yang sudah menangis meraung-raung hingga menghebohkan rumah sakit. Bahkan beberapa orang yang lewat disana, sampai melihat ke arah Naila yang nangis di lantai.
"Sabar, Sayang. Maafin Marfel ya. Tante janji, jika dia tidak berubah. Tante sendiri yang akan memukulnya. Berikan dia kesempatan ya, Nak. Sekali lagi. Tante mohon," pinta Ibu Maria. Ia mengerti apa yang dirasakan oleh Naila. Untuk itu, ia tak menyalahkan Naila karena memang putranya lah yang bersalah do sini.
Pak Atmaja yang sudah tau masalah mereka pun hanya diam. Ia malu karena Marfel bertingkah seperti anak kecil. Membentak anak orang dan menghancurrkan barang-barang yang ada di kamarnya. Padahal ia mendidik Marfel menjadi laki-laki sejati. Bukan malah jadi seperti ini.
Saat mereka mencoba untuk menenangkan Naila, pintu operasi terbuka. Seorang domter keluar. Naila, Ibu Maria dan Pak Atmaja pun segera mendekar.
"Dok, bagaimana keadaan anak saya?" tanya Ibu Maria cepat.
"Maaf, Pak, Bu. Kami sudah berusaha melakukan yang terbaik, tapi Tuhan berkehendak lain. Anak Ibu tidak bisa kami selamatkan," jawabnya membuat mereka bertiga sok. Bahkan Naila langsung menerobos ke dalam untuk melihat langsung keadaan Marfel.
Benarkah, Marfel sudah tiada?