
Tak terasa hubungan Marfel dan Naila semakin dekat setiap harinya, setiap pagi Marfel akan menjemput Naila, bahkan tak sungkan, ia juga sarapan pagi di sana. Untungnya Ibunya Naila, belum juga pulang sehingga Marfel merasa sedikit bebas dengan numpang makan di rumah calon istrinya itu
Naila pun juga tak keberatakan, malah ia senang karena ada teman makan. Dan setelah itu mereka berangkat ke sekolah bersama-sama, dan tentu Naila turun agak jauh dari sekolah, agar tak kelihatan temaan-temannya. Padahal jika boleh jujur, Marfel malah senang jika semua orang tau kedekatannya dengan Naila. Sehingga tak ada lagi yang berani mendekati wanitanya itu.
Walaupun mereka belum ada hubungan apa-apa, tapi Marfel sudah menganggap jika dirinya itu adalah kekasih Naila. Nailapun juga tak mempermasalahkannya, baginya yang penting, hubungan dirinya dan semua orang baik-baik aja, itu sudah cukup. Tak peduli orang menganggap dirinya apa, selama tidak ada yang menimbulkan rasa sakit di hati orang lain, maka Naila akan diam aja.
Saat ini, Naila tengah makan di kantin saat jam istirahat. Bukan hanya Naila, tapi juga ada Rani, Puput, Rifa, Ayu, Firoh dan juga Rahma. Jadi ada satu kursi yang kosong. Karena satu meja ada yang isi cuma dua kursi, ada yang tiga kursi, ada yang empat kursi, ada yang lima kursi, ada yang sampai sepuluh kursi. Dan kebetulan yang mereka duduki yang delapan kursi, jadi masih ada satu yang kosong.
Mereka memesan makanan dan minuman, ada yang mesen air putih aja, ada yang mesen jus buah dan yang lainnya, karena untuk minuman ada banyak pilihannya, begitupun dengan makanan. Ada Nasi lalapan, ada bakso, ada mie ayam, ada gorengan, ada soto dan banyak lagi lainnya.
Dan kebetulan Naila memilih Mie Ayam, sebenarnya ia belum lapar. Karena tadi pagi ia sudah sarapan bersama Marfel di rumahnya, hanya saja karena teman-temannya mengajak dirinya ke kantin saat jam istiraht, dan Naila pun tak bisa menolaknya. Akhirnya ia memilih untuk memesan mie ayam dan jeruk hangat.
Saat mereka tengah ngobrol santai setelah menikmati makanannya, tiba-tiba seseorang datang.
"Boleh aku duduk di sini, gak? Soalnya kursi yang lain pada penuh," ucap seseorang yang membuat mereka semua pada menengok.
"Kak Stefan," gumam Rifa yang melihat Stefan tengah berdiri di sampingnya.
"Boleh, kok. Duduk aja," jawab Puput mewakili semuanya, karena yang lain pada bengong, sedangkan Naila seperti biasa, acuh tak acuh, dia main Hp dan tak mengubris ucapan Stefan. Bukan apa-apa, dia melakukan itu karena dia tau, Stefan menyukainya dan ia tak ingin memberikan harapan lebih. Apalagi ketika ia tau, jika Rifa seperti menyukai laki-laki itu. Naila tak ingin Rifa membencinya karena kedekatannya dengan Stefan.
"Terima kasih." Sejujurnya, Stefan pun malu duduk di antara para wanita seperti ini, tapi hanya ini satu-satunya cara agar ia bisa dekat dengan Naila, wanita yang sudah mencuri hatinya.
"Kak Stefan mau pesan apa, biar aku pesankan," Rifa berusaha untuk terlihat biasa aja, walaupun saat ini jantungnya seperti berdebar kencang.
"Aku pesan Jus Melon aja," jawab Stefan sambil sesekali melirik ke arah Naila yang terlihat sangat cuek.
"Aku pesankan ya." Tanpa menunggu jawaban, Rifa pergi dari sana dan memesan minuman sesuai permintaan Stefan. Dan itu membuat yang lain melongo, tak menyangka jika Rifa akan melakukan hal itu.
"Gila, si Rifa ternyata suka ma Stefan," bisik Ayu di telinga Firoh yang duduk di dekatnya.
"Iya," jawab Firoh sambil menganggukkan kepala.
"Tapi, kan Stefan sukanya ke Naila. Lihat tuh, dari tadi dia melirik ke arah Naila," ujar Ayu lagi dengan suara kecil. Firoh tak menanggappinya, ya kali dia mau gosip di depan orangnya, ia tak ingin jika suaranya sampai kedengeran, bisa malu dianya. Jika ketahuan bergosip.
"Teman-teman Kak Stefan tumben gak ke kantin?" tanya Rahma, berusaha mencairkan suasana.
"Mereka lagi sibuk belajar, soalnya jam kedua ada ujian," jawab Stefan menjawab sekedarnya.
"Oh, Kak Stefan gak belajar?" tanya Puput.
"Aku sudah belajar tadi malam, dan kebetulan aku haus. Jadi aku ke sini," balasnya.
Yang laing pun mengangguk-anggukkan kepala, tak lama kemudian, Rifa datang membawakan jus melon.
"Ini, Kak." Rifa memberikan jus melon itu ke Stefan.
"Terima kasih ya."
"Sama-sama."
Rifa duduk kembali ke tempatnya yang berada di samping Stefan, jangan di tanya, bagaimana rasanya, ia bahkan merasa seperti panas dingin. Sedangkan yang lain hanya terkekeh melihat Rifa yang terlihat jelas sangat gugup berada di samping Stefan.
Sedangkan Stefan sendiri, hanya biasa aja. Ia meminum jus melon itu dan setelah itu menaruh di meja yang ada di hadapannya.
"Aku ke kelas dulu ya," ucap Naila memecahkan keheningan. Dan itu membuat Stefan tak suka, karena ia merasa jika Naila sengaja ingin menjauh darinya.
"Mau ngapain, Nai. Lagian jam istirahat masih lama, sekitar sepuluh menitan," ujar Puput.
"Aku mau ke toilet dulu, baru ke kelas," jawabnya berbohong.
"Owallah, mau nyetor nih ceritanya, iya udah sana." Ayu mengira jika Naila tengah sakit perut karena pengen BAB, makanya ia mengatakan kata setor.
Mendengar kata setor, Firoh memukulnya.
"Ada apa?" taya Ayu bingung.
"Lah, emang aku ngomong apaan?" tanya Ayu yang merasa jika kata-katanya dari tadi tak ada yang jorok.
Mendengar hal itu, Firoh hanya mendengus, karena Ayu tak mengerti apa yang ia ucapkan.
Naila pergi dari sana, tanpa mempedulikan Stefan.
Melihat Naila pergi membuat Stefan sedih, entah kenapa ia merasa, rasanya sangat sulit untuk bisa berdekatan dengan Naila, jangan dekat, bahkan untuk mengobrol pun rasanya sangat susah.
"Aku ke kelas juga ya," pamit Stefan. Buat apa lama-lama di kantin, jika orang yang ingin ia dekati sudah tak ada di sana.
"Loh, kok buru-buru Kak?" tanya Rifa, karena ia masih ingin berlama-lama dengan laki-laki yang ia taksir itu.
"Iya, aku kan ke sini karena haus barusan," jawabnya tersenyum, walaupun hatinya lagi gundah, namun Stefan akan berusaha untuk tak memperlihatkan kegalauannya di depan teman-teman Naila. Ia tak ingin harga dirinya hancur karena ia yang tengah di abaikan oleh Naila.
"Oh,"
"Aku duluan ya." Dan setelah itu, Stefan pun pergi dari sana.
Setelah Stefan pergi, Rifa yang melihat maasih ada sisa jus melon milik Stefan pun, akhirnya ia meminumnya bhakan menghabiskannya, dan itu sukses membuat Puput, Ayu, Firoh dan Rahma melongo. Bahkan Puput sampai mengernyitkan dahi, ia tak faham kenapa Risa mau minum sisa jus milik Stefan, sedangkan ia juga punya minumannya sendiri yang bahkan belum juga habis.
"Rif, itu sisa Kak Stefan loh," ujar Rahma memberitahu.
"Haha iya, aku minum, soalnya terlihat enak," jawab Rifa kikuk yang membuat yang lain hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Iya sudah, ayo kita ke kelas, lagiain ntar lagi dah masuk," ajak Firoh. Ia tak mau jika Rifa sampai malu karena tingkahnya tadi.
"Ayo," jawab Rani yang sedari tadi hanya diam, layaknya patung. Ia sibuk dengan HPnya, sampai melupakan yang ada di sekitarnya.
"Ck ... aku fikir kamu sudah akan di sini terus," sindir Puput karena melihat Rani dari tadi hanya sibuk dengan dunianya sendiri.
"Ya kali aku di sini terus menerus," balas Rani sambil menaruh Hpnya.
"Loh, Naila mana?" tanya Rani melihat Naila sudah tak ada di sana.
"Gini nih, kalau terlalu banyak main Hp, akhirnya gak tau kan kalau temannya sudah pergi dari tadi," ujar Ayu yang membuat Rani hanya tersenyum kaku.
"Naila sudah dari tadi pergi, ayo ke kelas," ucap Firoh dan mereka pun menganggukkan kepala.
Lalu mereka semua pergi ke kelas sambil menggoda Rifa.
"Rif, kamu suka sama Kak Stefan?" tanya Ayu pura-pura tak tau.
"Enggak, kok," jawab Rifa gugup, ya tak mau yang lain tau bagaimana perasaanya saat ini. Ia gak ingin malu karena cintannya bertepuk sebelah tangan.
"Loh kok tiba-tiba bahas Kak Stefan?" tanya Rani bingung.
"Makanya kalau lagi kumpul ma temen tuh, jangan terlalu fokus sama Hp. Jadi ketinggalan info kan," sindir Puput lagi. Yang membuat Rani mendengus kesal.
"Aku kan tadi chatan sama sepupu aku," jawabnya. Padahal dia sedari tadi sibuk melihat akun Alfa, awalnya sih ia iseng melihatnya, namun siapa sangka, ia malah ketagihan dan melihat semua postingan Alfa hingga lupa yang ada di sekitarnya.
"Chatan apa chatan?" goda Firoh.
"Loh kok malah bahas aku, aku kan tanya masalah Kak Stefan tadi?" Rani mencoba mengalihkan pembicaraan, ia tak ingin rahasianya ketahuan.
"Tadi tuh Kak Stefan duduk di kursi samping Rifa, terus mesen Jus melon dan sisanya di minum sama Rifa," ujar Rahma menjelaskan.
"Aku tuh minum karena suka sama jusnya," sangkal Rifa membuat Rani langsung mengerti hanya dengan melihat wajah Rifa yanga merona.
Ia tau bahwa Rifa bernasib sama dengannya. Rifa mencintai Stefan tapi Stefan mencintai Naila. Sama seperti dirinya, mencintai Alfa, tapi Alfa mencintai Naila.
Hanya orang bodoh yang tidak bisa menebak jika Stefan menyukai Naila, apalagi setelah dulu Stefan sempat membawakan lagu untuk Naila, tapi sayangnya, Naila tak ada yang membalas perasaan mereka.