
Tak mudah melupakan Fahmi, orang yang diam diam telah mencuri hatinya, sayangnya ia terlambat menyadari nya. Kini Fahmi telah tiada, dan hanya menyisakan kenangan manis yang tak kan pernah ia lupakan seumur hidupnya.
"Kak, aku gak menyangka, pertemuan kita begitu singkat. Namun walaupun hanya singkat, kakak selalu memanfaatkan moment itu untuk bisa membuat aku bahagia. Apakah kakak menyadari bahwa umur kakak tak lama lagi, untuk itu kakak selalu berusaha membuatku bahagia," ucap Naila menangis di kamarnya sambil memeluk boneka.
"Kak, aku kangen. Apakah kakak sudah tenang di sana apakah kakak tak merasakan sakit lagi. Maafkan aku, yang gak menyadari bahwa selama ini kakak sakit, bahkan kakak masih sempat sempat nya kadang antar jemput aku. Maafkan aku, seharusnya di saat kakak sakit, kakak harus banyak istirahat bukan malah memikirkan aku hiks hiks. Kakak, maafkan aku. Aku terlalu bodoh hingga aku baru tau penyakit kakak, di saat semuanya telah berakhir, namun aku berjanji. Aku aku terus mengingat kakak sebagai laki laki pertama yang menempati posisi di hati aku, dan aku akan selalu mendoakan kakak setiap aku selesai sholat," ujar Naila sambil menghapus air matanya.
"Aku akan belajar lebih keras lagi kak, agar aku bisa jadi lulusan terbaik. Aku akan masuk ke universitas kedokteran lalu aku akan menjadi dokter yang bisa menyembuhkan banyak orang sesuai keinginan Kak Fahmi. Kak, saat ini aku merasa hatiku begitu hampa. Aku merasa seperti kehilangan sesuatu yang sangat berharga dalam hidupku.
Sampai detik ini aku masih tak menyangka, bahwa kemarin adalah pertemuan kita yang terakhir, dimana kakak mengungkapkan perasaan kakak dan mengajak ku bermain hujan.
Kak, aku sayang Kak Fahmi," ucap Naila yang terus saja menangis, ia menyesal karena terlambat menyadari perasaannya, menyesal karena selama ini ia tidak tau bahwa Fahmi sakit parah, bahkan ia selalu berusaha tegar dan kuat jika ada di hadapannya. Namun siapa sangka, bahwa sebenarnya selama ini ia menahan rada sakit.
Setelah cukup puas menangis, ia segera beranjak dari tempat duduk nya lalu mandi. Habis mandi dan berpakaian rapi, ia pun memilih untuk tidur karena kepalanya yang sedikit sakit, mungkin karena kebanyakan menangis.
Sedangkan di luar sana, seorang wanita yang baru saja pulang kerja langsung melihat ke kamar putrinya, namun ia malah melihat putrinya yang kini sudah tidur."Tumben jam segini udah tidur, apakah dia terlalu capek," ucap Ibu Ila dalam hati.
Ia pun menutup pintu kamar putrinya dengan pelan agar tak membangunkan putrinya yang kini tengah tidur nyenyak.
Lalu ia pergi ke kamarnya sendiri untuk istirahat sejenak melepas rasa lelah, lalu setelah istirahat sekitar 10 menit, barulah ia mandi membersihkan diri, habis mandi, tak lupa ia sholat isya sebelum tidur.
"Mas, lihatlah kini aku dan putri kita tak kekurangan lagi, mas doakan aku agar aku menjadi wanita yang kuat dan tegar, agar aku bisa membahagiakan putri kita dan tak lagi membuat dia merasa kekurangan seperti dulu.
Mas aku kangen, ingin rasanya aku menyusul mu tapi aku sadar, tanggung jawab ku di dunia ini masih banyak, aku masih harus menjaga putri kita dan memastikan hidupnya baik baik saja, dan mendapat kan laki laki yang baik yang akan menuntun dia ke jalan yang benar karena aku gak akan rela jika putri kita jatuh ke tangan orang yang salah.
Naila, dia adalah mata berlian di hati kita, semoga aku bisa terus menjaganya dan memberikan hidup yang layak untuknya," gumam Ibu Ila sebelum memejamkan mata, setiap mau tidur, ia pasti akan selalu ingat dengan almarhum suaminya, yang tak lain ayah Naila.