
Naila menyetir dengan ngebut, namun hpnya terus berbunyi. Akhirnya Naila menghentikan sepeda motornya di depan Indomart, lalu menerima telfon dari Marfel.
"Ada apa, Mas?" tanya Naila kesal, karena Marfel gak berhenti menghubunginya. Sangking kesalnya, ia pun lupa ucap salam.
"Kenapa belum pulang?" tanya Marfel tak kalah kesalnya.
"Aku sudah pulang, sudah di jalan. Sabar dong, aku dari tadi sudah ngebut niih loh," sahutnya.
"Jangan ngebut-ngebut."
"Nanti kalau aku gak cepat sampai, kamunya nelfon terus. Dari tadi kamu nelfon sampai aku gak konsen nyetir."
"Aku kan gak tau, kalau kamu sudah di jalan. Aku fikir masih di sana, makanya aku telfonin terus, seharusnya kamu balas pesan aku, biar aku tau kamu di jalan. Kalau aku tau, mana berani aku nelfon kamu dari tadi."
" .... "
"Kok diam, marah sama aku?"
" .... "
"Iya sudah aku minta maaf, kamu hati-hati ya di jalan."
"Iya, aku tutup dulu telfonnya."
"He'em. Jangan ngebut-ngebut."
"Okay."
Setelah itu, Naila pun mematikan Hpnya dan menaruh Hpnya di tas kecil yang ia bawa. Saat ia mau menyalakan sepedas motornya lagi, ia tak sengaja menoleh ke spion, dan ia melihat tak jauh dari tempatnya berada, ia melihat sepeda motor milik Stefan, bahkan jaket dan helm pun sama persis.
"Apa itu Kak Stefan, tapi ngapain di ada di situ, jangan-jangan dari tadi, dia ngikutin aku. Sialan, jika aku pergi ke rumah sakit, dia pasti tau," Naila pun merasa kesal dan juga marah. Di saat-saat seperti ini, malah ada aja hambatan dan ujian yang bikin dirinya kesal.
Naila pun menghidupkan sepedanya dan mulai mengemudikannya dengan pelan, lalu ia berbelok ke gang kecil yang ada di hadapannya. Ia jalan lurus dan ketiga ada pertigaan, ia segera ngebut, sebelum Stefan mengetahuinya. Untungnya, ia sedikit mengerti jalan itu.
Gara-gara Stefan, Naila terpaksa pakai jalan tikus, yang mala akan bikin lama dirinya. Naila mencoba untuk fokus ke jalan dan mengingat jalan keluarnya karena ini sudah malam, penerangannya pun gak terlalu maksimal.
Setelah berbelok sana-sini, akhirnya Naila sampai juga di jalan raya. Ia pun segera mengebut untuk menghindari Stefan. Tak lama kemudian, ia sudah sampai di depan rumah sakit. Naila segera memakirkan sepeda motornya dan menaruh helmnya gitu aja di atas sepeda motor. Lagian gak mungkin hilang karena di parkiran ini banyak CCTV, belum lagi ada dua satpam yang bertugas. Jadi cukup aman.
Dengan rasa lelah, Naila pun masuk ke dalam. Untungnya ia punya kartu khusus anggota keluarga. Sehingga ia bebas keluar masuk rumah sakit, karena biasanya untuk masuk ke ruangan Marfel, jika gak punya kartu anggota, di larang masuk jika belum waktunya besuk. Untungnya Naila punya, bukan hanya Naila tapi juga orang tua Marfel juga punya.
Naila berjalan dengan tubuh yang terasa remuk redam, sesampai di kamar Marfel. Ia melihat Marfel yang melihat ke arah dirinya sambil mendekap kedua tangannya di dadanya.
Naila mengucap salam dan mencium tangan Marfel. Lalu duduk di kursi samping brankar.
"Maaf, Mas. Tadi aku sama teman-temen ngobrol dulu sambil makan, dan aku lupa waktu. Maaf," ucap Naila menundukkan kepalanya.
"Lalu, tadi katanya sudah di jalan, kok bisa lama nyampeknya?" tanya Marfel, walaupun dalam hati gak tega melihat wajah Naila yang begitu kusut, kentara sekali. Wajah lelahnya itu.
"Tadi aku saat menerima telfon dari Mas. Waktu aku nerima, sebenarnya aku sudah ada di depan Indomart di Jalan Nangka. Terus, saat aku matikan telfonnya. Aku melihat sepeda motor Kak Stefan tak jauh dari belakang aku. Aku merasa kalau Kak Stefan membuntuti aku, aku gak tau apakah karena Kak Stefan khawatir aku pulang malam, atau karena ingin tau aku pulang kemana. Jadi aku masuk gang kecil, dan muter-muter di sana. Karena penerangannya kurang jelas, aku harus ekstra hati-hati makanya lama. Untungnya aku menemukan jalan raya lagi, jadi aku langsung ngebut ke sini," ujar Naila menjelaskan detailnya.
"Seharusnya kamu samperin aja dia baik-baik dan minta jangan ikuti kamu lagi," ujar Marfel yang merasa geram dengan sikap Stefan yang sudah membuat Naila akhirnya pulang telat dan harus muter-muter gak jelas.
"Maaf, lain kali akan aku lakukan."
"Ya sudah, kamu pasti capek kan. Sekarang bersih-bersih dulu, ganti baju terus tidur."
"Tapi aku belum mengerjakan tugas Pak Saiful."
"Kerjakan besok aja pagi-pagi, lagian ini sudah malam."
"Iya." Naila tak berani membantah, ia segera menaruh tasnya, mengambil handuk dan baju ganti lalu masuk ke kamar mandi.
Dua puluh menit kemudian, Naila sudah keluar dengan wajah segarnya karena Naila mandi keramas, karena merasa tubuhnya lengket semua.
"Oh ya, Mas. Terima kasih ya boenakanya, tapi itu pasti mahal banget ya, nanti aku ganti uangnya," ujar Naila. memakai jilbab biasa, agar bisa enak nanti tidurnya. Memang walaupun tinggal satu atap, Naila sangat menjaga sekali. Bahkan ia tak membiarkan Marfel melihat hal yang tak seharusnya di lihat.
"Kenapa harus di ganti, aku itu calon kamu. Sudah kewajiban aku buat bantu kamu," ujar Marfel tak suka, tanpa disadari, nadanya cukup tinggi membuat Naila takut.
"Iya sudah, teerima kasih ya. Aku mau tidur dulu,"
"Rambutnya di keringin dulu, sebelum tidur. Nanti sakit," ujar Marfel melihat baju belakangnnya dan hijabnya basah.
"I ... ia."
Aku akan memejamkan mataku, jadi kamu bisa buka hijabnya dulu untuk mengeringkan rambutnya.
"Iya, Mas.
Akhirnya Naila pun mengeringkan rambutnya lebih dulu, ia juga mengganti baju dan hijabnya sehingga tak lagi basah. Setelah selesai, ia berbaring di sofa, tak lama kemudian, ia pun terlelap karena merasa lelah sekali. Setelah Naila tidur, Marfel bangun dang bangkint dari atas brankar. Ia menghampiri Naila yang sudah tertidur lelap. Bahkan mulutnya sedikit menganga, Naila juga mengorok walaupun dengan suara kecil.
Melihat hal itu, Marfel hanya terkekeh. Ia mengambil selimut dan menyelimuti Naila, namun Naila malah menendang selimutnya. Akhirnya Marfel pun menarik selimut itu agar Naila merasa nyaman. Ia tak memaksakan Naila memakai selimut. Marfel juga menurunkan suhu AC nya agar Naila tak kedinginan.
Setelah itu, ia pun ikutan tidur di atas brankar.